
"Maafkan aku, Aamod."
Masih memegangi wajahnya, aku lalu mendekat dan berusaha menolong semampuku.
Kakak berlari ke arah kami dengan wajah cemas, lalu mengobati Aamod.
"Ya ampun, kamu berdarah. Sini, dekatkan wajahmu padaku…"
Aamod hanya menurut dan mendekatkan wajahnya pada Kakak.
"Tahan sebentar ya, ini mungkin akan sakit."
Kakak lalu mengambil sesuatu dengan menempelkan ke jarinya, setelah itu perlahan mengoles luka Aamod.
Kurasa itu adalah lidah buaya, aku pernah menyentuh tanaman-tanaman milik Kakak dan salah satunya adalah lidah buaya.
Berarti yang tadi Kakak lakukan adalah mengambil lendir lidah buaya lalu mengoleskannya ke luka Aamod.
"Ah! Aduh!"
Aamod berteriak kesakitan, membuatku semakin merasa bersalah padanya.
"Bersabarlah sebentar. Setelah ini tidak akan sakit lagi, kok."
Masih mengobati luka Aamod, aku lalu mengemas pedang kami. Setidaknya, aku sudah membantu sedikit.
"Iya, kan?"
Para tetangga ternyata masih ada di sini, mereka hanya menonton dan membicarakan kami.
Memangnya ini pertunjukan? Kalau tidak mau menolong, lebih baik pulang saja sana.
"Anak itu memang mengerikan. Bagaimana bisa dia menggunakan senjata dan melukai orang dewasa seperti itu?"
"Kudengar Fakeehah mengasuh anak kecil dan mengangkat sebagai adiknya, apa anak itu adalah adik angkatnya?"
"Kurasa memang begitu, karena kata temanku rambut anak itu berwarna hitam kebiruan dengan wajah yang lucu. Anak itu rambutnya berwarna kebiruan dan wajahnya lucu, kan. Siapa lagi kalau bukan dia?"
"Aku melihat anak kecil dan pria yang berotot itu sering melakukan hal ini. Mereka berkelahi dan entah apa gunanya. Anak kecil seharusnya tidak diajari untuk berkelahi, tapi diajari untuk bersikap sopan kepada yang lebih tua."
Itu kan bukan urusan kalian… Mau kami berkelahi atau berkemah pun, kalian kan tidak berhak mengatur hidup orang lain.
Lagipula, kami itu sedang latihan bertanding, bukan berkelahi.
Dan aku tidak peduli orang lain mau menganggapku mengerikan atau lucu, yang penting Kakak dan Aamod menyayangiku.
Kalian bukanlah siapa-siapa, jadi berhentilah mengurusi hidup orang lain…
Aku akan mengemasi senjata saja…
Setelah memasukkan pedangku ke sarung pedang, aku susah payah menarik pedang Aamod untuk menyimpan pedangnya ke sarung pedang juga.
"Luka gores seperti itu… Aku harap anakku tidak pernah melukaiku dengan kejam seperti anak itu."
Mana mungkin seorang anak melukai orang tuanya sendiri…
"Memang seharusnya kita tidak mengangkat seseorang walaupun penampilannya seperti itu. Aku tidak mau mengurus anak yang bukan bagian dari keluargaku, pada akhirnya pasti akan nakal seperti itu. Dasar anak nakal! Kuharap anakku tidak pernah bergaul dengannya, aku akan menyuruh anakku untuk menjauhi anak itu."
Ini… Ini suara yang berbeda dengan para tetangga yang barusan membicarakanku.
Aku juga tidak mau bergaul dengan anakmu.
"Fakeehah tidak mengurusnya dengan benar, wajar saja anak itu jadi nakal dan menyerang orang lain seperti itu. Dia itu kan masih anak gadis, tapi kenapa malah mengangkat anak seperti itu? Mengurus diri sendiri saja belum tentu bisa, tapi malah menambah beban dalam hidupnya dengan mengangkat adik yang tidak punya sopan santun."
Ini juga suara yang berbeda dengan yang barusan…
Oh, begitu ya… Sekarang kalian juga membicarakan Kakak?!
Kakak sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Kalau tidak bisa, dia pasti akan meminta bantuan kalian. Tapi Kakak tidak pernah meminta bantuan kalian, kan?
Oh iya, untuk apa Kakak meminta bantuan kepada orang-orang busuk seperti kalian?!
Lebih baik Kakak mengurus semuanya sendiri daripada ikut menggosip dan membuang-buang waktu bersama kalian.
"Apa kau lihat pria yang sedang terluka itu? Beberapa hari ini, dia tinggal satu rumah dengan Fakeehah. Aku waktu itu melihat pria itu sedang menunggang kuda malam-malam, lalu masuk ke rumah Fakeehah dengan santai. Gadis itu, dia memang tidak bisa menjaga dirinya, membawa masuk pria yang belum pernah kita lihat sebelumnya ke dalam rumah. Sudah kuduga, semenjak orang tuanya tiada, Fakeehah sudah kehilangan harga dirinya."
Orang-orang ini… Dasar…
Aku benar-benar ingin menghancurkan mereka sekarang.
Aku perlahan mengangkat pedangku.
Ti-Tidak… Tunggu. Aku tidak boleh gegabah.
Lagipula tidak semuanya begitu, aku hanya mendengar 2 orang saja yang dari tadi menjelek-jelekkan Kakak.
Yang lainnya hanya membicarakan bahwa aku anak yang berbahaya dan masih membicarakan dalam batas yang wajar.
Berarti… Ada sekitar 6 tetangga yang dari tadi membicarakanku.
4 lainnya hanya membicarakan bahwa aku mengerikan dan harusnya tidak diajari untuk berkelahi.
Sementara, 2 orang itu malah menjelek-jelekkan Kakak.
Tenang, mereka hanya tetanggaku dan aku tidak perlu membuat masalah.
Aku harus tenang… Aku harus tenang dan tidak boleh membuat masalah.
Kalau aku terbawa amarah dan membuat masalah, Kakak yang akan disalahkan tetangga.
Mereka pasti akan menggosipkan Kakak dengan topik yang lebih parah dari ini.
Aku tidak boleh marah dan berbuat tanpa berpikir panjang.
Yang mereka katakan itu tidak benar, kenapa aku harus marah?
Aku hanya perlu mengabaikannya saja, aku hanya perlu mengabaikan semua yang tetangga katakan.
Tenang, jangan emosi. Kendalikan dirimu…
"Iya, kurasa Fakeehah dan pria itu hanya sebatas teman saja. Fakeehah anak yang baik dan sopan, kurasa dia tidak akan begitu."
"Diam kau! Orang tuanya tiada makanya dia seperti itu. Dia kehilangan jati diri lalu menggoda pria tampan agar menemaninya. Kau lihat kan, pria itu sangat tampan? Kalau aku jadi dia, aku pasti akan melakukan hal yang sama. Aku pasti akan kesepian karena tidak punya orang tua lalu akan menggoda pria tampan itu agar menemaniku setiap hari."
Kakak tidak pernah menggoda Aamod! Dasar…
Aku benar-benar tidak tahan lagi!
Aku merasakan lingkungan sekitar, ada sekitar 4 orang tetangga yang berada di sebelah sisi kanan
2 orang yang memfitnah Kakak, mereka ada di sisi agak kiri. Mereka juga tidak berdempet-dempetan dan sepertinya aku bisa melancarkan seranganku tanpa harus melukainya.
Aku mulai fokus merasakan 2 orang ini, aku tidak boleh menyerang secara asal dan harus mencari dulu bagian tubuhnya yang bisa kuserang tanpa menimbulkan luka.
Oh, kurasa itu bisa…
Aku melempar pedangku, sayang sekali aku tidak bisa menghancurkan wajahnya.
Aku hanya mengenai rambutnya.
"A-Apa yang kau lakukan?! Dasar kurang ajar!"
Kau yang kurang ajar, bisa-bisanya mulut digunakan untuk membicarakan fitnah dan tuduhan seperti itu.
"Anak nakal! Kau… Fakeehah memang tidak becus mendidik anak! Aku akan mengatakan semua ini pada pemimpin desa, lalu kau dan Fakeehah akan diusir dari desa ini!"
"Tidakkah kau seharusnya berterima kasih padaku?"
Aku sudah memotong rambutmu yang bau itu dan kurasa rambutmu yang kusut itu akan lebih rapi jika dipotong menggunakan pedang langsung.
Salah satu dari mereka kemudian menarik tanganku dan menggenggamnya dengan kuat.
Yang lainnya tidak sadar dan hanya sibuk memperhatikan Kakak dan Aamod. Kurasa 2 orang ini memang ada masalah dengan Kakak.
"Dasar pembangkang! Apa maksudmu mengatakan 'harus berterima kasih'? Hah?! Kau ini… Aku akan memberimu pelajaran!"
Sebentar lagi, sebuah telapak tangan akan mendarat tepat di pipiku.