
"Apa kamu sudah kelelahan?"
Aku…
Walaupun sedang duduk, tapi rasanya…
SANGAT KELELAHAN!
Hanya orang sekuat Tuan Mahajana saja yang tidak kelelahan dengan hal seperti ini!
Punggungku sakit, tanganku pegal…
Sepertinya aku sudah melakukan ini selama sejam. Kapan selesainya?
Padahal saat melakukannya, orang ini sama sekali tidak menunjukkan gelagat orang yang kelelahan.
Ternyata setelah dirasakan secara langsung, rasanya SANGAT-SANGAT LUAR biasa.
Kelihatannya setelah ini berakhir, tubuhku akan menjadi kaku sepenuhnya…
Pantas saja biola dinobatkan sebagai instrumen yang paling sulit untuk dipelajari… Aku jadi mengerti sekarang…
Kalau awalnya saja sudah seperti ini, bagaimana dengan pembelajaran selanjutnya?
Orang sepertiku tidak akan pernah bisa…
Tidak akan…
Aku ini sama sekali tidak berbakat, tidak seperti Gulinear yang sejak lahir memang sudah berbakat main piano.
Rasanya aku ingin menyerah saja…
"Hah…"
Sejenak, aku menghela napas, menyesali keputusan sekilasku untuk mempelajari alat musik yang membuat pemiliknya sendiri menjadi menderita.
Rahangku sakit… Rasa sakitnya naik hingga ke otakku… Kepalaku agak pusing sekarang.
Bahuku juga sakit, tapi lebih sakit bagian kepalaku.
Kedengarannya sepele, tapi sebenarnya dagu sakit dan bahu sakit itu memang benar-benar sakit.
Kalau mengalaminya sendiri, pasti kalian baru mengerti!
"Hah…"
Aku menghela napas untuk yang kedua kalinya.
Keputusanku yang bodoh… Tanpa berpikir dua kali, aku langsung mengiyakan saja.
Aku terlalu percaya diri. Aku terlalu yakin kalau aku bisa menguasai biola.
Setelah menghadapinya sendiri, aku merasa ciut, bahkan sebelumnya terlintas dipikiran bahwa ingin menyerah saja.
Rasa sakit yang baru segini saja sudah membuatku bertekuk lutut.
Aku benar-benar konyol dan payah, padahal ini baru permulaan.
Kemana keyakinan yang aku junjung tinggi barusan?
Apa semua keyakinan tersebut sudah runtuh hanya karena melewati dasar saja?
Aku tidak boleh begini.
Aku harus mengembalikan perasaan semangat terhadap biola.
Jangan rendah diri, Laalit.
"Kamu tidak minum tehnya? Nanti keburu dingin, lho."
Apa Kakak pelayan baru saja kemari dan membawakan kami teh?
Aku sama sekali tidak merasakan ada orang lain yang datang.
Mungkin aku tidak menyadarinya karena terlalu tenggelam dengan pemikiranku sendiri.
Terima kasih Kakak pelayan. Aku jadi bisa lepas dari biola ini meskipun sebentar.
Aku menurunkan biola, kemudian meminum teh hangat semerbak melati.
Ah, enaknya… Manisnya pas, terasa ringan di lidahku.
Kakak pelayan memang paling pandai kalau membuat makanan dan minuman. Teh kali ini benar-benar tidak mengecewakan!
Aku menurunkan cangkir tehnya kembali, langsung bersiap untuk memegang biola.
"Pegal? Regangkan badan sebentar."
Iya juga... Badan yang pegal-pegal memang seharusnya diregangkan sebentar.
Aku mengangguk lalu menaruh biola yang baru saja kupegang ke tempat lain.
Aku menyilangkan satu sisi lenganku ke bahu, kemudian mendorong siku menggunakan lengan yang lain.
Aku mengulangi gerakan tersebut sebanyak 3 kali. Lumayan... Bahu dan lenganku jadi mendingan meskipun sedikit.
Selanjutnya, aku melakukan peregangan yang lain. Aku menegakkan badanku, setelah itu mengaitkan kedua tanganku dan mengangkatnya tinggi-tinggi sampai menghadap ke atas.
Aku mengulangi gerakan yang sama sebanyak 5 kali.
Yang ini juga cukup melegakan, punggungku jadi tidak sepegal sebelumnya. Punggungku menjadi lebih rileks dan tidak kaku.
Kurasa peregangan ini sudah lebih dari cukup. Ayo kita memegang biola lagi!
Aku mengambil biola dengan menggenggam bagian lehernya.
Tadi orang ini sudah mengajarkannya padaku…Jadi, yang akan kulakukan adalah...
Pertama-tama, arahkan bagian chinrest pada leher dan tempatkan di tulang selangka.
Lalu, tundukkan sedikit kepala agar bisa mengenai chinrest, tahan chinrest dengan rahang supaya biola tidak jatuh ke bawah.
Fungsinya sebagai penyangga dagu, penghubung antara biola dengan rahang sebagai penahan utamanya.
Omong-omong, kurasa langkah-langkahnya sudah benar.
Orang ini sama sekali tidak menegur, tidak seperti sebelumnya, dia terus-menerus memperingatkanku karena melakukan kesalahan yang sama.
Saat dia menjelaskan tata cara menahan biola yang benar, aku berulang kali menempatkan biola di bagian tubuh yang salah, seperti menaruh biola di lengan dan menaruh biola di pundak.
Akhirnya, dia mengangkat daguku, langsung mendorong biola yang kupegang dan mengarahkannya ke tulang selangka.
Orang ini lalu menurunkan daguku menjadi agak menunduk, menyuruhku menekan rahang pada bagian chinrest agar biolanya tidak terjatuh.
Bayangkan, benda yang terbuat dari kayu, apalagi yang bertekstur keras, menimpa tulang selangkamu.
Meskipun aku cuma menekan rahangku sedikit, tapi tulang selangkaku terasa nyeri!
Aku tetap memaksakan diri walaupun rasanya menyakitkan. Kenapa begitu?
Aku memaksakan diri karena aku memang bersikukuh dalam mempelajari biola.
Aku sudah meyakinkan diri agar tidak menyerah dan terus bersabar dalam melakukan dasarnya.
Meskipun sempat goyah, tapi aku sudah dapat meyakinkan diriku kembali.
Tubuh yang gagah ini terbakar oleh jiwa api yang bergelora!
Yah… Aku sudah bersemangat kembali!
Berjuaaaang!
Ingat, yang membuat biola itu sulit adalah kesabaran serta ketekunannya.
Yang kulakukan sekarang juga membutuhkan kesabaran yang besar.
Walaupun latihan yang kulakukan hanya menahan biola, tapi rasa sakit dan pegal terus mengujiku untuk melihat seberapa jauh tingkat kesabaranku.
Kalau aku tidak sabar, aku sudah membanting biola ini dari tadi, setelah itu langsung pergi meninggalkan ruangan ini karena sudah menyerah sepenuhnya.
"Ehem!"
Aku tersadar kembali. Aku yang baru saja menyelami pikiran, menyadari bahwa aku sedang duduk manis, dengan tangan kiri yang gemetaran karena kesulitan menahan biola ini.
Tapi…
Kenapa orang ini berdeham?
Apa posisiku dalam menahan biola salah?
"Sunyi sekali. Aku hanya menambah sedikit suara agar keadaannya menjadi ramai."
Ha ha ha…
Apa-apaan itu?
Kamu ini sebenarnya ingin membuka topik pembicaraan, kan?
Kenapa caranya aneh begitu…
Dengan berdeham dan mengatakan bahwa keadaannya sunyi.
Aku tahu keadaannya memang sunyi. Tapi, caramu membuka pembicaraan itu agak… Berbeda?!
Oh, jadi begitu…!
Ternyata orang ini termasuk kaku. Kukira dia orang yang mudah membuka topik dengan siapa saja, ternyata dia kesulitan mencari topik pembicaraan saat bersama denganku.
Memang sifat asli orang tidak pernah ada yang tahu.
Atau mungkin inilah sifat aslinya? Orang super baik dengan kepribadian yang plegmatis.
Baguslah… Aku awalnya sangat ingin menghindarinya, tetapi perasaannya berubah menjadi lembut membuatku agak nyaman saat sedang bersamanya.
Berhenti membatin dan carilah topik, Laalit!
"Apa menurut Tuan, piano itu alat musik yang sulit dipelajari?"
Pertanyaan itu spontan saja keluar dari mulutku. Aku bahkan tidak menyangka bahwa aku akan menanyakan tentang piano.
Aku tidak sempat memikirkan pertanyaan apa yang mau diajukan karena aku bukan orang yang bisa mencari topik pembicaraan dengan mudah.
Tapi aku jadi agak penasaran dengan tanggapannya. Bagaimana piano itu menurutnya?
Apa piano itu alat musik yang indah dimainkan atau hanya biola saja yang bisa dia hayati?
Nah…
Jangan-jangan orang ini bisa memainkannya juga?
I-itu… Terlalu keren!
Sebaiknya aku tidak terlalu berharap!
"Sama sekali tidak sulit. Piano itu alat musik termudah yang bisa kupelajari hanya dalam waktu 2 bulan."
Hah…
Jadi orang ini mahir piano juga….
Berbakat! Orang ini lebih berbakat dari Gulinear!
Sudah kuduga, orang ini memang berbeda!
Aku yang kesulitan memainkan piano ini tidak ada apa-apanya dengan sang profesional yang bisa menguasai 2 alat musik sekaligus.
"Mau kuajari bermain piano?"
Maestronya menawarkan langsung…