
Jadi, semua itu tergantung pada kekuatan, lebih tepatnya elemen yang dimiliki oleh setiap orang.
Jika berada di tempat seperti sungai, orang dengan pengguna elemen air bisa 'menarik' air yang berada di sungai tanpa harus mengeluarkan kekuatan dalam tubuhnya.
Tentu saja ini akan menguntungkan bagi sang pemilik elemen air tersebut.
Ia bisa membuat badai air tanpa susah payah mengerahkan kekuatan yang dapat menguras energinya.
Sangat efisien, bukan?
Karena elemenku adalah angin, berarti faktor lingkungan tidak terlalu berpengaruh dengan dampak serangan pada kekuatanku.
Tidak terlalu berpengaruh bukan sama sekali tidak berpengaruh.
Di manapun tempatnya pasti terdapat udara, dan di setiap lingkungan pasti mengandung setidaknya nitrogen, oksigen, argon, dan karbon dioksida.
Elemen angin itu bisa ditemukan di mana saja. Di ruang bawah tanah pun pasti masih terdapat udara walaupun hanya segelintir.
Tapi, akan lebih bagus jika aku bisa memanfaatkan keadaan lingkungan yang menyediakan udara dalam jumlah tak terbatas.
Kandungan gas yang terdapat di tempat terbuka lebih besar daripada di dalam ruangan.
Aku akan lebih mudah mengambil dan memanipulasi udara dengan menggabungkan sebagian besar nitrogen dan seperempat oksigen untuk membentuk angin sesuai dengan kemauanku.
Selain itu, aku juga ingin menghemat tenagaku meskipun dampak serangan yang kuhasilkan besar, jadi aku akan membawa musuh ke alam sekitar agar hasil seranganku bisa lebih maksimal.
Sekali lagi, Aku ingin memenangkan pertarungan dengan mudah tanpa menguras banyak energi.
Tapi…
Kalau dipikir-pikir, ini bukanlah tindakan yang curang.
Selain kemampuan, mengerahkan teknik juga penting.
Ini hanyalah salah satu teknik untuk bertarung. Seperti halnya membeli pedang berkualitas yang meningkatkan kekuatan sebesar 5%, menghemat tenaga juga bisa meningkatkan persentase kemenangan menjadi 85%.
Yang penting hasil akhirnya, kan?
"Apa ada lagi yang ingin bertanya?"
Sebenarnya aku ingin menanyakan beberapa hal lagi.
Aku hanya mengurungkan niatku dan akan menanyakannya secara pribadi pada Tuan Mahajana.
Aku juga ingin memberi kesempatan pada yang lainnya juga.
Kalau aku bertanya terus, bisa-bisa mereka semua menganggap bahwa aku adalah anak yang egois.
Memang begini yang terbaik…
"Ya… Salah satu dari kalian boleh bertanya terlebih dahulu."
Tadi ada dua orang yang unjuk diri.
Sayangnya, aku tidak sempat merasakan hawa mereka karena terlalu fokus dengan pemikiranku sendiri.
Oh… Salah satunya sedang bersiap untuk berbicara sekarang.
Kira-kira siapa, ya?
"Apakah Tuan Mahajana akan melatih kami setiap hari atau hanya hari tertentu saja?"
Nada suara yang angkuh ini…
Ternyata salah satunya adalah si angkuh Jaleed. Berarti yang satunya lagi antara Gulinear atau Kamaniai.
Gulinear adalah anak yang rasa ingin tahunya cukup tinggi, dia sering menanyakan banyak hal tentangku.
Sedangkan Kamaniai adalah anak yang melakukan segala aktivitas dengan gugup dan ketakutan.
Kemungkinan besar yang bertanya barusan selain Jaleed adalah Gulinear-
Tidak!
Tidak menutup kemungkinan kalau Kamaniai yang unjuk diri.
Barangkali Kamaniai hanya bersikap ketakutan jika berbicara dengan orang-orang asing dan sifat malunya itu akan musnah saat ia penasaran terhadap suatu hal..???
"-Jadi, aku akan melatih kalian setiap hari."
Sial, aku melewatkan beberapa hal yang disampaikan oleh Tuan Mahajana karena terlalu lama berpikir.
Tidak masalah!
Yang terpenting, inti pembicaraannya tidak terlewat dari telingaku.
Kami akan melakukan pelatihan setiap hari!
Baik. Perkataan Tuan Mahajana sudah tercatat di otakku.
"Besok dan seterusnya, kita akan berkumpul di sini. Kamaniai, apa yang ingin kamu tanyakan?"
Kamaniai…
Aku memang sudah menduga kalau dia yang akan bertanya pada Tuan Mahajana, tapi aku masih tetap terkejut walaupun sudah menduganya.
Sifat yang biasanya pemalu itu berubah menjadi pemberani dalam hitungan menit.
Entah bagaimana aku akan membiasakan diri sekarang…
"Tadi Jaleed sudah menanyakannya, Tuan Mahajana."
Tidak kusangka…
Isi pemikiran mereka sama…
Benar, Gulinear pernah mengatakan padaku kalau mereka itu sudah berteman sejak kecil.
Gulinear juga selalu melihat mereka berduaan. Dekat sekali pertemanan mereka.
Walaupun begitu, ada satu hal yang sangat-sangat aku syukuri.
Kamaniai masih bisa bersikap sopan dan lembut, tidak seperti temannya yang arogan itu.
Bersikap buruk pada pelayan, bahkan marah tanpa alasan yang jelas.
Huh! Moodku jadi rusak gara-gara dia!
Untuk memperbaiki mood, lebih baik aku memikirkan hal yang lain saja.
Hmm…
Nah!
Kata Tuan Mahajana, setiap hari kita akan berlatih di sini.
Namun, aku masih belum bisa mengingat tempat ini dengan jelas karena ini kali pertamaku kemari.
Oke…
Ayo, Laalit. Ingat-ingatlah lokasi tempat ini.
Kita mulai dari langkah awal menuju kemari…
Pagi ini, aku berjalan mengelilingi rumah yang besar ini.
Aku ingat ada beberapa tempat yang aku masuki. Tapi itu tidak penting sekarang.
Setelah setengah jam berlalu, aku mendaratkan badanku, maksudnya, aku tiba di taman yang berada pada lantai 4 dan suara yang cempreng itu menyapaku.
Aku tidak bisa mengingat dengan jelas tentang apa yang Gulinear bicarakan dan aku tidak ingin mengingatnya karena sepertinya itu bukan hal yang penting.
Intinya, Jaleed datang menghampiriku dan memintaku untuk berbicara berdua saja tanpa ada orang lain di sekitar kami, jadi aku mengikuti langkahnya menuju ke tempat…
Aduh…
Itu tempat apa, ya?
Aku tidak ingat tempatnya seperti apa. Aku lupa untuk merasakan sekeliling karena terlalu fokus mencari keberadaan si Kamaniai yang bersembunyi di balik pintu-
Itu dia, pintu!
Jari-jariku sempat menyentuh badan pintu itu dalam waktu yang lama, karena itulah sidik jariku masih bisa merasakan permukaannya dengan jelas.
Aku menggesek jari-jemariku secara bersamaan untuk mengingat-ingat permukaan pintu tersebut.
Kayu…
Iya, kayu… Besar…
Aku sudah mengingatnya!
Permukaan kayu yang terawat, lebih tinggi dari tinggi badanku, dan lebih lebar dari volume badanku.
Bahkan bila dibayangkan dengan merentangkan kedua tangan, pintu itu masih jauh lebih lebar lagi.
Pokoknya, pintu itu sangat besar!
Dan pintu itu agak berbeda dengan pintu yang ada di ruangan lain.
Cara membuka pintu itu dengan didorong, bukan dengan digeser seperti pintu kamarku.
Hanya pintu itulah yang satu-satunya dibuka dengan cara didorong.
Oke… Pintu itu akan jadi kunci yang penting sebagai langkah awal menuju kemari!
Setelah menutup pintu tersebut, aku bersama yang lainnya berjalan menuju tempat berkumpul.
Perjalanan memakan waktu sekitar belasan menit. Bodohnya, aku tidak sempat merasakan berbagai macam benda di sekelilingku pada saat perjalanan karena aku tenggelam dalam pikiranku sendiri hingga kami sampai ke tempat tujuan.
Lalu…
Tempat ini mempunyai luas yang tidak bisa aku rasakan sampai kepada dinding pembatasnya, sama seperti ruangan utama yang berada di lantai bawah.
Itulah permasalahannya…
Selain itu, tidak ada ciri spesifik yang terdapat dalam ruangan ini.
Ciri-cirinya sama saja dengan ruangan lain.
Lantai yang dingin, terdapat beberapa Kakak Pelayan yang berlalu-lalang kesana kemari, dan luas ruangan yang tidak bisa kuprediksi karena mempunyai ukuran yang ekstra besar.
Bukan cuma satu dua ruangan yang mempunyai luas yang bagaikan raksasa ini, terdapat ruangan lainnya juga yang mempunyai luas seperti ini di lantai yang sekarang sedang kutempati. Omong-omong, ini lantai 3.
Sekedar informasi, batas maksimum luas yang bisa kurasakan mencakup 300 m², itu jika aku sangat berkonsentrasi.
Saat tidak berkonsentrasi, aku hanya bisa merasakan sejauh 100 m².
Itu sudah termasuk suara dan hawa keberadaan orang lain.
Di luar juga begitu. Aku hanya bisa merasakan sejauh 100-300 meter, tidak lebih dan tidak kurang.
Oke… Langkah berakhir.
Bagus…
Setidaknya aku sudah mengerti sedikit mengenai lika-liku perjalanannya.