Blindsight

Blindsight
Perpisahan



"Hu… Hu… Hu…"


Kakak menangis sambil memelukku, pelukannya erat sekali seolah tidak ingin melepaskanku dan membiarkanku pergi dari sini.


"Kakak, aku akan kembali beberapa tahun lagi. Aku harap, Kakak tidak menangis selama berhari-hari karena aku tidak berada di sisi Kakak."


Masih menangis, Kakak lalu mengatakan sesuatu.


"Kakak hanya akan menangis sekarang, setelah itu nanti tidak akan menangis lagi, kok. Kakak harap, Kakak juga tidak menangis selama berhari-hari seperti yang adik kecilku ini bilang."


Aku mengangguk, berusaha menyembunyikan air mataku yang sempat menetes dari wajahku.


"Adikku, Kakak tahu kamu ingin kuat, tetapi jangan terlalu memaksakan dirimu. Makanlah yang teratur, tetapi jaga pola makanmu agar badanmu tidak kegemukan. Mandilah sehabis olahraga agar tubuhmu tetap bersih dan sehat. Kalau kangen, Kakak akan mengunjungimu ke sana sesering mungkin. Maaf, Kakak tidak bisa ikut denganmu karena rumah ini adalah satu-satunya peninggalan dari orang tua Kakak. Kalau Kakak meninggalkan rumah ini, rasanya seperti meninggalkan orang tua sendiri."


Masih menangis, Kakak mengelus rambutku dan mencium pipiku.


"Bersikaplah yang sopan pada semua orang, terutama pada orang yang lebih tua. Jangan memukul atau mengganggu orang lain yang tidak bersalah. Bersikaplah baik pada semua orang, ya? Kakak cuma takut, takut kamu terbawa pergaulan yang tidak baik saat kamu di luar sana. Hiks… Hu… Hu… Adikku yang manis akan pergi dari sini. Hu… Hu… Jangan pergi, jangan tinggalkan Kakak, sayang…"


Aku menangis seperti aliran air terjun, aku tidak bisa menahannya lagi.


Kakak… Kakak sebenarnya tidak ingin aku pergi dari sini, aku tahu itu…


"Hiks… Tolong jangan lupakan Kakak… Tolong jangan pura-pura tidak kenal saat melihat Kakak nanti… Kakak benar-benar takut kalau kamu akan jadi anak nakal dan sikapmu berubah menjadi anak yang jahat. Kakak ingin kamu tetap bersikap seperti ini, tetap menjadi adik yang Kakak kenal. Hu… Hiks…"


Aku mempererat pelukan kami, aku mencium pipi Kakak agar Kakak lebih tenang.


"Tentu saja aku tidak akan melupakan Kakak. Aku tetap akan bersikap seperti sekarang, aku tidak akan menjadi anak nakal dan akan mendengarkan selalu mengingat nasihat Kakak. Kakak tidak perlu takut, aku akan kembali pada Kakak dan menjadi anak yang baik seperti sekarang."


Tangisan Kakak perlahan mereda. Kakak perlahan melepaskan pelukan eratnya dan masih mengusap air matanya.


Aamod yang sedari tadi berdiam diri, perlahan mendekati kami.


"Kau jangan lupakan aku ya, bro. Walaupun baru seminggu kita kenalan, tapi kau sudah seperti adikku sendiri."


Ini rasanya canggung, tapi aku sedang berpelukan dengan Aamod sekarang.


"Kakakmu… Aku akan membawa adik sepupuku untuk menemani Kakakmu. Adikku ini cukup mandiri dan dewasa, jadi tidak akan merepotkan Kakakmu. Dia bisa pencak silat, kau tidak perlu khawatir tentang keselamatan Kakakmu. Dia lebih muda setahun darimu, suatu saat nanti kalian pasti bertemu."


Aku hanya mengangguk saja.


"Makanlah yang banyak walaupun kami tidak ada di sana, mandilah 2 kali dalam sehari, jangan lupakan latihan yang aku ajarkan padamu. Walaupun terlihat sepele, teknik berpedang yang kuajarkan padamu akan sangat berguna bila kau menghadapi kejadian berbahaya, tapi kuharap itu tidak pernah terjadi padamu. Kalau terjadi, aku kasihan pada pelakunya, dia pasti akan segera mati kalau berani mengganggumu."


Aamod… Teknik berpedangku masih terbilang lemah dibandingkan denganmu.


Kau sungguh hebat, aku harap aku sekuat dirimu suatu saat nanti.


"Terima kasih karena sudah mengajarkanku teknik berpedang, Aamod."


Helaan nafas Aamod terasa sampai sini. Dia mengendurkan pelukannya, tetapi masih memberikan nasihat padaku.


"Saat dewasa nanti, kau harus bersikap baik dan selalu menolong orang lain. Meskipun di masa depan nanti kau sangat kuat, jangan sombong dan tetaplah rendah hati. Jangan tindas yang lemah, lindungilah mereka seperti kau ingin melindungi Kakakmu."


Aku memang tidak salah mempercayakan dirimu pada Kakakku. Kau memang penolong yang tulus, Aamod.


Meskipun aku akan segera meninggalkan tempat ini, aku masih bisa merasakan bahwa kau sedang sedih sekarang.


Aku juga sedih karena tidak bisa berlatih denganmu untuk waktu yang lama.


"Kuharap aku bisa menjadi kuat dan menjadi pribadi yang selalu menolong orang lain seperti dirimu. Sebenarnya, kaulah inspirasiku. Kau menolongku dengan tulus, mengajariku berlatih pedang, dan mengajariku berolahraga. Kau bahkan selalu bersemangat dan tidak malu untuk bertingkah konyol. Suatu saat, aku akan membalas semua kebaikan yang telah kau berikan padaku dan Kakakku. Terima kasih, Aamod."


Aamod lalu melepas pelukannya. Untuk pertama kalinya, Aamod membelai rambutku.


"Tidak perlu berterima kasih padaku, justru akulah yang harusnya berterima kasih padamu. Aku senang bisa bertemu denganmu, apalagi Kakakmu. Terima kasih karena kau meminta tolong padaku saat hendak pulang, terima kasih karena waktu itu kau tidak tahu arah pulang. Sungguh… Tanpa kau sadari, kau yang meminta tolong padaku waktu itu sudah membuat perubahan besar dalam hidupku. Kau mungkin tidak menyadarinya saat ini. Tapi suatu saat nanti, kau akan sadar kalau kau sudah melalukan perbuatan baik yang jauh lebih besar daripada yang kulakukan."


Aku tersenyum kepada Aamod kemudian bersalaman sebagai ucapan perpisahan.


Aku hanyalah seseorang yang meminta pertolongan agar di antar pulang.


Perubahan apakah itu?


Aku benar-benar ingin tahu dan ingin menanyakannya pada Aamod sekarang, tapi kurasa akan lebih baik jika aku mengetahuinya sendiri karena Aamod tidak memberikanku penjelasan mengenai perubahan itu.


Kuharap aku cepat mengerti perubahan yang dimaksud Aamod, aku ingin tahu apakah perubahan itu mengarah ke arah yang baik atau ke arah yang buruk.


Aku harap, aku memberikan perubahan yang baik dalam hidupmu.


Simbiosis mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda jenis namun saling menguntungkan satu sama lain. 


Aku yang meminta pertolongan padamu, akan lebih senang jika aku adalah simbiosis mutualisme bagimu.


Karena aku menganggapmu sebagai simbiosis mutualisme.


Kau mengantarkanku ke rumah dengan selamat meskipun sempat kesasar.


Kau melatihku teknik berpedang yang ilmunya tidaklah gratis, tapi kau memberikan ilmu tersebut secara cuma-cuma padaku.


Kau begadang selama 2 hari berturut-turut hanya untuk mencariku.


Kau waktu itu bisa saja menolak permintaan Kakak lalu pulang ke rumahmu dan beristirahat.


Tapi kau tetap mencariku dan akhirnya menemukanku sedang duduk santai sambil makan jajan.


Kau mengajariku dan menyemangatiku walaupun aku hampir menyerah dengan sit up.


Soal sakit di bagian perutku, kau juga tidak memberitahukannya pada Kakak kalau sakit diperutku semakin kambuh.


Kau menghargai privasiku, hal yang tidak ingin kuberitahukan pada Kakak.


Terima kasih banyak soal itu, aku tidak ingin membuat Kakak cemas terhadapku.


Dan maaf karena menyembunyikan perutku yang kambuh padamu, Kakak.


Aku hanya tidak ingin membuat Kakak cemas…


Saat aku berjalan menjauh, aku mendengar bahwa Kakak menangis lagi.


Aamod berusaha menenangkan Kakak dengan memeluknya.


Sambil berjalan menjauh, aku memikirkan banyak hal di kepalaku.


Setiap perbuatan yang kita lakukan pasti ada hikmahnya.


Aku yang awalnya tersesat, akhirnya mendapatkan teman baru dan ilmu baru.


Kakak, perhatian Kakak yang menurut Kakak biasa saja, tapi tidak untukku. Saat Kakak menyisir rambutku ataupun mengelap keringatku, aku bisa merasakan kasih sayang yang tulus dan bahagia. Aku jadi mengetahui bagaimana rasanya memiliki keluarga.


Aamod, dia bersyukur karena waktu itu aku tidak tau arah pulang dan mengatakan bahwa kedatanganku membuat perubahan besar dalam hidupnya.


Tuan Mahajana, meskipun dia hanya menganggap bahwa penawarannya itu kecil, tetapi tidak bagiku. Penawaran Tuan Mahajana sangat membantuku yang hanya orang biasa, menjadi orang yang luar biasa. Kuharap begitu…


Gulinear, teman satu-satunya yang seumuran denganku. Sifatmu yang labil kadang membuatku ingin tertawa.


Ternyata hal sekecil apapun yang kita lakukan kepada orang lain, belum tentu berdampak kecil bagi orang tersebut.


Ternyata hal sebesar apapun yang kita terima dari orang lain, belum tentu orang lain menganggapnnya besar juga.


Saat kita berhubungan dengan orang lain, kita akan selalu mengingat kebaikannya.


Saat hubungan kita dengan orang tersebut semakin dekat, kita dapat merasakan perasaan orang tersebut, walaupun orang tersebut tidak mengatakannya langsung pada kita.


Kalian semua sudah menyadarkanku mengenai hal itu…


Terima kasih…