Blindsight

Blindsight
Kekuatan



"PFFFT! BWA HA HA HA HA!


Sambil memegangi perut, aku menertawai Aamod yang saat ini sedang sangat kesal dengan diriku.


"Be-Berhenti tertawa! Anak durhaka, bisa-bisa mengerjai orang yang lebih tua."


Aku masih tertawa terbahak-bahak sampai tanpa sadar mengeluarkan air mata.


"Sayang? Kamu sakit?"


Sial, ini lucu sekali. Aku bahkan sampai kelelahan untuk tertawa.


"Tidak kok, Kak. Ha ha ha…"


"Kamu tertawa sampai menangis begini. Tidak biasanya kamu begini. Kakak kira kamu sakit, tapi baguslah kalau kamu bisa tertawa seperti ini."


Kakak ini… Kakak seperti sedang mengatakan bahwa aku tidak pernah tertawa…


Memangnya sifatku sekaku itu, sampai tertawa pun tidak bisa?


Aku jadi penasaran dulu di panti asuhan aku sependiam apa sampai tertawa pun tidak pernah.


Mungkin waktu itu aku masih sedih karena orang tuaku sudah tidak ada lagi.


Orang tuaku… Aku harap aku bisa mengingat mereka secepatnya.


"Jadi, apa yang ingin kau katakan, Aamod?"


Masih dengan menahan tawa, aku menanyakannya pada Aamod.


Aamod sepertinya menepi di kamarku, dia terasa sangat malu karena aku telah menjadikannya sebagai objek lelucon.


Sepertinya aku memang sudah keterlaluan padanya.


"Maafkan aku, ya? Aku hanya merasa lucu karena kau mengatakan bahwa kau adalah 'pria berbahaya'? Pfftt…"


Sial, berhentilah tertawa. Aamod nanti malah makin ngambek~


"Maksudku… Yah, kau memang pria yang sangat berbahaya. Itu benar sekali… Jadi kemarilah, pria yang berbahaya~"


Ugh, sepertinya aku mengatakan hal yang salah barusan.


Tapi, aku memang ingin meledeknya sedikit lagi. Soalnya dia tidak cocok sekali disebut 'pria berbahaya'.


Dia itu kan memiliki aura + hawa yang positif. 'Pria berbahaya' itu terlalu jauh untuk dirinya yang baik budi seperti ini.


Kurasa, aku bisa membuat julukan baru untuknya~


"Aamod, pria yang 'baik' dan 'lembut'. Kemarilah, kurasa julukan itu lebih pantas untukmu. Benar kan, Kak?"


Kurasa aku salah bicara lagi. Hawa milik Aamod malah semakin terasa keruh.


"Aargggh! Tidak! Aku tidaklah lembut! LIHAT, AKAN KUBUKTIKAN SEKARANG!!"


Inti kekuatan Aamod berkumpul dengan cepat dan perlahan kekuatannya mengalir dengan besar.


"Tu-Tunggu Aamod. Kau mau menghancurkan rumah Kakak?"


Aamod dengan sigap meredakan elemen apinya yang tadinya sudah akan membuat rumah ini meledak.


"Apa kau lebih suka dengan sebutan 'pria kasar'? Kalau begitu aku akan memanggilmu begitu mulai sekarang."


Kakak lalu menepuk bahuku sambil menahan tawa,


"Berhentilah menggodanya~ Dasar, ternyata adikku ini anaknya jahil ya. Lebih jahil daripada anak tetangga."


Terima kasih karena sudah bangga padaku, Kak. Aku juga sudah agak lega karena aku sudah membuat Kakak tidak khawatir lagi.


"Bukan begitu maksudku. Aku tidak suka dibilang 'kasar' tapi aku juga tidak mau dibilang 'lembut', itu terkesan seperti…"


Aku hanya tersenyum sementara Kakak masih menepuk bahuku.


"Memangnya ada apa dengan 'lembut'?"


Saat Kakak menanyakannya, hawa Aamod terasa agak kaget.


"Hmm… Itu… Yah, maksudku…"


Kakak berdiri lalu mendekat pada Aamod.


"Aku suka dengan pria yang lembut."


"A-Ah! Bagus itu! Yah, tentu saja. Ti-Tidak! Ma-Maksudku, aku juga pria yang lembut. Ha ha ha…"


Aamod selalu bersikap aneh kalau bersama dengan Kakak.


Kakak kan cuma mengatakan bahwa dia suka pria yang lembut, kenapa reaksi Aamod aneh begitu?


Sudah kuduga, mereka pasti ada sesuatu. Hawa mereka terasa berbeda kalau mereka mengobrol satu sama lain.


"Tentu saja semua orang akan menyukai kepribadian yang lembut. Lalu, kenapa tingkahmu jadi aneh seperti itu?"


Aamod menggaruk-garuk rambutnya dan gerakannya tidak tenang.


Kakak tampak malu lalu keluar dari kamar. Dua orang ini sepertinya memang sedang ada masalah serius.


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Aku cuma kaget saja tadi. Yah, cuma begitu. Memangnya seaneh apa tingkahku?"


Aku mengangguk lalu menjawab pertanyaan Aamod,


"Cuma terasa canggung dan gerakan kalian agak aneh."


"'Kalian'? Kakakmu juga?"


Aku mengangguk ringan.


Reaksi Aamod benar-benar aneh sekarang. Aku bahkan tidak bisa menafsirkan sifatnya.


Sepertinya aku harus berlatih lebih keras lagi. Aku akan minta saran pada Aamod nanti.


"Jadi, apa yang ingin kau katakan, Aamod?"


Setelah Kakak pergi, aku tanpa basa-basi langsung mengatakan hal yang membuatku penasaran sedari tadi.


Sejak awal, aku memang berencana untuk membuat Kakak pergi dari kamar ini.


Aku takut kalau ternyata aku menderita sesuatu yang parah atau mematikan, Kakak pasti akan menangis dan mengkhawatirkan aku. Jadi, aku memutuskan untuk membuat Kakak keluar dari sini.


Aamod menutup pintu kamar lalu duduk di sampingku.


"Rasanya… Inti kekuatanmu berbeda. Seperti kuat sekali, tubuhmu tampaknya terbebani dengan kekuatanmu. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatasinya karena aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sepanjang hidupku. Katakan padaku semuanya saat kau menghilang 2 hari yang lalu."


Aku lalu menceritakan semuanya, dimulai saat aku terbangun di rumah Gulinear, lalu makan malam.


Saat makan malam, aku menceritakan betapa enaknya Nasi Kentut itu.


Aku juga bilang bahwa aura Nenek berada ditingkat Analog dan Aamod terkejut setengah mati.


Setelah itu, Nenek yang dapat meramal dan meletakkan telapak tangannya ke punggungku. Menyalurkan sesuatu yang katanya adalah penunjuk arah untuk pulang.


Rasa sakit setelah itu, aku juga menceritakan pada Aamod.


Aku pikir memang yang dikatakan Nenek pada awalnya adalah kebenarannya yaitu penunjuk arah untuk pulang.


Tapi, rasa sakitnya malah semakin menjadi setelah aku dalam perjalanan dan saat di halaman tadi.


Aamod masih serius mendengar ceritaku. Dia sepertinya tidak ingin melewatkan satu katapun yang aku ucapkan.


"Apa kau tahu siapa nama Nenek itu?"


Aku hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Aamod.


Aku mencoba mengingat-ingat tapi ternyata nihil. Aku lupa menanyakan nama Nenek dan sejak awal memang Nenek tidak pernah menyebutkan namanya.


Entah disengaja atau memang menyebutkan namanya kepada seorang anak kecil dirasa tidak perlu, Nenek benar-benar orang yang misterius.


Nenek berada ditingkat Analog, tingkat yang sangat sulit dicapai oleh orang biasa.


Sebentar, memangnya Nenek adalah orang biasa? Dia pasti adalah orang yang 'luar biasa', bukan 'biasa' lagi.


Aamod saja baru mencapai tingkat Komplementer sampai sekarang.


Bagaimana bisa Nenek sekuat itu? Kurasa waktu muda Nenek sudah termasuk sangat kuat dibandingkan dengan rekan-rekannya dulu.


Nenek pasti bangkit diusianya yang masih sangat muda, mungkin jauh lebih muda daripada aku.


Aamod bilang kemungkinan aku bangkit umur 7 tahun, itu kan masih kemungkinan.


Mungkin saja aku bangkit saat umur 8 atau umur 9 tahun, kita juga tidak tahu kan.


Aku bahkan tidak mungkin mengungguli kemampuan Nenek yang sangat mengagumkan.


Tuan Mahajana, dia juga orang yang mengagumkan. Mereka berdua adalah orang yang mengagumkan.


Aamod juga sangat kuat menurutku, padahal tingkatnya masih Komplementer.


Aku tidak boleh meremehkan siapapun meskipun tingkatnya adalah yang terendah ataupun yang terlemah.


Aku harus menganggap bahwa semua orang adalah lawan yang kuat.


Kuharap, aku juga bisa mengagumkan seperti mereka di masa depan.


Baiklah, aku akan berusaha menjadi kuat mulai sekarang.


Untuk bisa melindungi Kakak dan menjadi orang yang mengagumkan di masa depan nanti.