
Setelah makan siang, kami bertiga duduk di halaman belakang.
"Apakah tubuhmu sudah lebih mendingan, adikku?"
Aku tersenyum lalu mengangguk pada Kakak.
Aamod lalu minum teh sambil duduk di sampingku.
"Kekacauan yang kau buat, kau tahu berapa lama kami membereskannya?"
Aku menggeleng lalu bertanya karena penasaran,
"Memangnya berapa lama?"
Aamod meletakkan cangkir yang dipegangnya,
"6 jam. Kami 6 jam beberes kekacauan yang sudah kau buat. 6 Jam lho, kau bayangkan 6 jam kami beberes semua halaman yang kau buat hancur. 6 jam itu padahal waktu tidurku, tapi 6 jam yang kulakukan adalah beberes semua halaman yang bentuknya sudah tidak berbentuk lagi. Pohon yang tumbang, tanah yang berlubang, dan Saung juga sudah hancur. Aku dan Kakakmu membereskan itu semua dibantu dengan beberapa tetangga. Kami bahkan membuat alasan bahwa aku mengeluarkan kekuatanku terlalu besar dan tetangga jadi memarahiku. Kan tidak mungkin kalau kami mengatakan bahwa anak 11 tahun yang membuat kekacauan seperti ini… Kakakmu sepertinya mengasuh monster di rumah ini, bukan manusia."
Aku berkeringat dingin dan tidak tahu harus merespon bagaimana.
"Sebenarnya, dia sudah mengatakan pada Kakak kalau kamu yang membuat kekacauan di halaman itu. Tapi Kakak tidak percaya dan malah memarahinya."
Ha ha ha, sepertinya memang halamannya sangat hancur sampai Kakak tidak memercayai Aamod.
"Sudah kubilang kan Kak, Kakak itu mengasuh monster, bukan anak 11 tahun. Memang dia kelihatan seperti anak yang polos dan kecil, tapi sebenarnya dia ini MONSTER. MONSTER! Kakak beri dia apa sampai dia menjadi seperti ini? Apa Kakak memberinya obat yang membuat bocah ini cepat mengalami kebangkitan? Kakak melatihnya sekeras apa sampai dia menjadi MONSTER yang menyamar jadi anak kecil yang polos? Kak… Kakak harus berhati-hati mulai sekarang. Kakak harus berhati-hati karena anak-anak lain akan merasa tersaingi dan iri dengan bocah kecil ini. Di masa depan… Di masa depan bocah ini akan menjadi sangat mengerikan!"
Kakak memukul kepala Aamod dan hawanya terasa agak kesal,
"Adikku bukanlah monster! Dan dia tidak akan mengerikan, adikku anak yang sangat imut dan penurut. Iya kan, adikku?"
Aku mengangguk sambil tersenyum ramah.
"Berjanjilah. Saat dewasa nanti, kamu tidak boleh mengerikan dan bersikap nakal. Kalau kamu bersikap salah satu yang Kakak sebutkan tadi, Kakak tidak mau bertemu denganmu lagi!"
Aku mengiyakan pernyataan Kakak dengan cerah.
"Kakak ingin kamu menjadi adik yang sehat, sopan, ceria, peduli, lemah lembut, pemberani, tepat waktu, baik, penurut, bijak, pintar, dan tampan. Sopanlah kepada orang yang lebih tua, beranilah jika menghadapi suatu tantangan, jagalah kesehatanmu tubuhmu dengan benar, bijaklah dalam berteman, dan bijaklah jika bersama Gulinear. Aku senang bila kamu lebih dekat dengan Gulinear, anak itu sangat manis! Bukankah dia teman pertamamu?"
Kakak ingin aku menjadi manusia yang sempurna. Mana bisa aku menjadi sehat, sopan, ceria, peduli, lemah lembut, pemberani, tepat waktu, baik, penurut, bijak, pintar, dan tampan sekaligus.
Manusia kan punya kelebihan dan kekurangan tersendiri.
Tapi, aku akan berusaha memenuhi keinginan Kakak. Aku tidak ingin membuat Kakak menjadi kecewa.
• Kalau sehat, aku sudah sehat sekarang.
• Kalau sopan, kurasa aku sudah cukup sopan. Aku tidak bertingkah kasar ataupun berkata kasar. Pada Kakak, pada Aamod, dan pada yang lainnya. Aku sudah sopan, kok.
• Peduli ya, kurasa aku sudah cukup peduli pada Kakak. Aku kan kadang menawarkan diri untuk membantu Kakak, tapi Kakak selalu menolakku. Berarti aku sudah cukup peduli, kan aku sudah menawarkan bantuan. Kurasa itu juga bisa dianggap peduli.
• Kalau pemberani, aku cukup berani berjalan pulang ke rumah selama 4 jam pada dini hari.
• Kalau tepat waktu, entahlah. Kurasa yang ini belum. Aku tidak pernah berhadapan dengan sesuatu yang membuatku harus tepat waktu.
• Baik, tentu saja aku baik. Kalau jahat, Kakak pasti tidak mau mengasuhku.
• Penurut, aku selalu menurut dengan apa yang Kakak dan Aamod katakan.
• Kalau bijak, aku tidak tahu. Kurasa yang ini belum. Aku harus mempelajarinya dari Tuan Mahajana saat bertemu dengannya nanti.
• Lemah lembut, tentu saja aku lemah lembut. Aku tidak pernah menjatuhkan gelas ataupun membanting meja.
• Kalau pintar, aku rasa aku belum berada ditahap ini. Mungkin setelah masuk ke akademi, aku akan mendapatkan ilmu dan perlahan-lahan menjadi pintar.
• Kalau tampan… Tampan itu memangnya seperti apa? Apakah tampan itu adalah mempunyai kekuatan yang besar atau tampan itu adalah mempunyai tubuh yang tinggi? Kalau kekuatan aku belum termasuk kuat. Aku juga belum tinggi. Hmm…
Berarti yang sudah kukuasai adalah sehat, sopan, ceria, peduli, lemah lembut, baik, pemberani, dan penurut.
Yang masih belum kukuasai adalah…
"Kakak, aku ingin mewujudkan keinginan Kakak. Tapi maaf, aku masih belum bisa tepat waktu, bijak, pintar, dan tampan. Aku akan berusaha agar dapat menguasai keempatnya sekaligus."
Anehnya, Kakak tiba-tiba tertawa mendengar pernyataanku.
"Adikku, Kakak tidak memaksamu untuk bisa bersikap semuanya kok, Kakak cuma 'berharap' saja. Lagipula tidak ada manusia yang sempurna, manusia pasti banyak kekurangannya. Kakak juga begitu, Kakak masih banyak kekurangan dalam memasak dan mengurusmu. Tapi Kakak rasa, kamu sudah cukup pintar dan tampan, kok.
Karena penasaran, aku kemudian menanggapi,
"Benarkah, Kak?"
"Tentu saja. Saat kamu menjelaskan bagaimana caramu merasakan keberadaan kami, kamu menjelaskannya seperti orang yang pintar dan teliti terhadap langkah kaki, hehe. Atau Kakak saja yang kurang ilmu, ya? Intinya, saat kamu menjelaskan hal itu, Kakak kagum akan pendengaranmu yang tajam dan analisismu yang tepat. Bisa-bisanya kamu tahu bahwa langkah kakinya adalah kasar dan lebar. Kalau lebar sih, memang setiap laki-laki pasti langkah kakinya seperti itu. Tapi kalau kasar, kamu sampai merasakan bahwa langkah kakinya mengikis permukaan tanah. Kakak saja tidak bisa melakukan itu. Kemudian kamu menghitung langkahnya per detik, Kakak bahkan tidak tahu bahwa kamu sudah mengetahui hal itu. Kamu benar-benar cerdas! Anak tetangga saja dari kemarin cuma main layangan, tapi kamu sudah berlatih pedang kan dengan Aamod?"
Aku membenarkan perkataan Kakak. Tapi, apa itu 'layangan'?
"Kak, aku menggunakan pendengaranku karena aku tidak bisa melihat. Aku harus mengandalkan indera yang lainnya agar bisa melakukan aktivitas lain tanpa bantuan orang lain, Kakak."
Masih dengan wajah senang, Kakak kemudian menanggapi pernyataanku.
"Tetap saja pendengaranmu itu sangat hebat! Kamu juga sadar bahwa harus mengandalkan indera yang lain untuk menutupi kekuranganmu. Tidak semua anak bisa melakukan hal itu, adikku. Orang dewasa juga tidak bisa melakukan hal itu, Kakak dan Aamod misalnya. Bahkan, orang tunanetra yang Kakak temui tidak sehebat dirimu. Kakak pernah bertemu dengan orang tunanetra yang lain di jalan, dia memakai tongkat dan butuh bantuan yang lainnya untuk membantunya berjalan, tentu saja Kakak membantunya juga waktu itu. Intinya, Kakak senang kamu bisa mengandalkan inderamu yang lain untuk menutupi kekuranganmu."
"Terima kasih, Kakak."
Kakak dengan lembut mengelus rambutku dan menyentuh wajahku.
"Kamu juga cukup tampan, kok. Saat dewasa nanti, Kakak khawatir kamu akan banyak mengecewakan para wanita. Jadi… Jangan lakukan itu, ya?"
Meskipun aku tidak mengerti, aku hanya menanggapi pertanyaan Kakak dengan anggukan.