
Aamod mengangkat kedua tangannya untuk menyudahi latihan bertanding ini.
"Sangat bagus! Meskipun beberapa gerakanmu masih kaku, tapi bisa menangkis dan membidik sasaran sudah sangat bagus untuk anak seumuranmu. Seingatku, aku belum mengajarimu itu. Dari mana kamu mempelajarinya?"
Aku berpikir sebentar sebelum menjawab,
"Aku mendengar beberapa teknik berpedang dari tempat pelatihan."
Aamod memegangi pedang yang kupinjam darinya lalu bertanya padaku,
"Apakah gurumu yang memberitahukan tentang teknik tersebut?"
Aku menggelengkan kepalaku kemudian menjelaskan padanya,
"Saat menunggu Tuan Mahajana, aku mendengar beberapa orang membicarakan tentang bermacam-macam teknik bertarung kepada orang yang lainnya, salah satunya adalah teknik berpedang. Beberapa yang kudengar adalah mengayunkan, menangkis, dan mengintimidasi lawan. Gerakanku kaku karena aku langsung mempraktekkan tekniknya tanpa berlatih terlebih dahulu, dan ini kali pertamaku melakukan teknik tersebut. Satu lagi, aku tidak mempunyai guru."
Aamod menjatuhkan pedang yang kupinjam lalu mendekat padaku,
"Kau langsung bisa mempraktekkannya dalam sekali dengar? Benarkah?"
Aku menggelengkan kepalaku lagi, sepertinya aku sudah melakukannya beberapa kali hari ini.
"Tentu saja tidak! Aku kan sudah bilang, aku mendengarnya dari beberapa orang~ Orang-orang itu kadang mengatakan hal yang berulang-ulang sehingga aku bisa mengingatnya. Hanya orang jenius saja yang bisa langsung mengingat semua teknik itu dalam sekali dengar."
Setelah itu, Aamod sepertinya sedang mengemasi pedang yang kami gunakan untuk berlatih tadi.
"Tetap saja, itu sangat luar biasa. Orang lain belum tentu ingat walaupun mendengarnya beberapa kali…"
Meskipun Aamod menggerutu, aku bisa mendengar perkataannya dengan jelas.
Hanya orang bodoh yang tidak bisa mengingatnya walaupun perkataan tersebut sering diulang-ulang.
Untungnya aku tidak sebodoh itu. Ha. Ha. Ha.
Setelah itu, Aku membantunya mengemasi pedang juga.
Aamod kemudian merangkul bahuku.
"Latihannya sudah selesai untuk hari ini, besok aku akan mengajarimu lagi."
Aku mengangguk lalu berjalan menuju rumah.
Tidak terasa ternyata pagi telah menjadi siang…
Kakak sedang memasak dan aku berniat untuk membantunya.
"Ada yang bisa kubantu, Kak?"
"Tidak perlu. Duduklah sambil menungguku siap memasak, makanannya sebentar lagi siap."
Dengan tidak enak hati, aku hanya duduk dan membiarkan Kakak memasak sendiri.
Aamod dengan sigap menghampiri Kakak lalu membantunya.
"Sudah kubilang tidak usah, kan! Sana, duduklah dan temani Laalit~"
Kakak mendorong Aamod tapi Aamod malah semakin mendekat.
"Sudahlah, biarkan aku membantumu sedikit. Kalau ada yang membantu, kan makannya bisa lebih cepat juga~"
Mereka terasa seperti sedang 'tarik-ulur'? Memangnya apa itu 'tarik-ulur'?
Tiba-tiba terlintas dipikiranku tapi aku bahkan tidak tahu artinya…
.......
.......
.......
Keesokan harinya, aku dan Aamod berjalan ke toko senjata.
Jaraknya ternyata lumayan jauh dari rumah Kakak. Rasanya sama seperti berjalan ke pasar karena toko senjata berada di dekat pasar.
Kami sampai di toko senjata dan ini pertama kalinya aku kemari.
Aku memegang satu-persatu senjata di sini, penasaran dengan berbagai macam yang terpajang.
"Ini tombak Aunurgith, harganya memang lumayan tapi kualitasnya tidak perlu diragukan lagi."
"Ah, tidak bu. Kami sedang mencari pedang yang cocok untuk anak ini."
Aamod mengatakannya sambil merangkulku, kukira dia tidak akan bersikap begini di depan orang asing.
"Oh… Anak ini, ya? Sebentar, aku akan mengambilkan beberapa pedang kayu yang seukuran dengan tubuhnya!"
4 menit kemudian, Ibu penjual membawa beberapa benda yang disebut sebagai 'pedang kayu'.
"Ini nak! Silahkan dilihat-lihat dulu… Lalu pilih salah satu yang kamu suka, atau kalau mau borong semua, juga boleh!"
Aku mulai meraba pedang kayu tersebut untuk mengetahui seperti apa bentuknya.
Hmm, ini berbeda dengan pedang yang Aamod pinjamkan padaku…
Hawa milik Aamod terasa tidak tenang dari tadi, apa dia sedang mencemaskan sesuatu?
Karena pedangnya terasa berbeda, aku pun bertanya kepada Ibu penjual.
"Apakah pedang ini bisa digunakan untuk menebas orang?"
Hawa Ibu penjual terasa sedikit tercengang.
"Hahaha… Tentu saja tidak, Nak! Tapi pedang ini bisa digunakan untuk bermain dan berlatih. Tenang saja, tubuhmu atau tubuh temanmu tidak akan terluka bila terkena pedang ini, karena bahannya terbuat dari kayu."
Berarti ini bukanlah pedang yang kami cari.
"Maaf, Nyonya. Aku ingin membelikan anak ini pedang yang terbuat dari logam keras, bukan pedang mainan!"
Aamod memberitahukan hal tersebut kepada Ibu penjual.
Ibu penjual lalu berkeliling dan mencari pedang yang seukuran dengan tubuhku.
"Ini Pedang Gladius, pedang ini seukuran dengan tubuhmu dan tidak terlalu membebani tubuh. Yang satu lagi adalah Pedang Spatha, lebih besar sedikit dari pada Pedang Gladius, tapi daya serangnya cukup kuat. Omong-omong, berapa umurmu?"
Hmm… Aku bertanya-tanya kenapa Ibu penjual ini menanyakan umurku.
Mungkin ada anaknya yang seumuran denganku dan ingin belajar pedang? Atau dia hanya penasaran saja denganku?
"Saya 11 tahun, Nyonya."
Nyonya tersebut terasa sedikit bingung tapi juga terasa sedikit kagum.
"Anak yang sangat pemberani! Apa orang tuamu sudah mengajarimu cara menggunakan pedang?"
Aku menggelengkan kepalaku karena yang mengajariku cara menggunakan pedang adalah…
Aamod.
Dia bukanlah ayahku, dia cuma teman yang mempunyai hawa positif dan sifat yang agak konyol. Meskipun begitu, Aamod termasuk mempunyai kekuatan yang kuat.
"Begitu ya… Tidak apa-apa, Nak. Saat inti kekuatanmu bangkit, pasti orang tuamu akan langsung mengajarimu! Apa orang tuamu yang menyuruhmu ke sini, atau kamu inisiatif sendiri karena penasaran? Kurasa pilihan yang pertama yang membuatmu kemari. Aku benar, kan?"
Inti kekuatanku sudah bangkit, Ibu penjual…
Orang tuaku juga sudah tidak ada di dunia ini lagi…
Aku menggelengkan kepalaku dan Ibu penjual lagi-lagi terasa sedikit bingung.
"Aku agak ragu kalau kamu ke sini karena penasaran. Ini bukanlah tempat main-main, Nak. Ada banyak senjata tajam dan berbahaya di sini."
Bukan begitu… Aku kemari tentu saja bukan untuk bermain…
Aku memang sedang butuh pedang yang bisa kugunakan dan agar tidak terus-terusan meminjam pedang Aamod yang beratnya tidak sesuai dengan ukuran badanku.
"Orang tua saya-"
"Kurasa Pedang Spatha lebih bagus. Yang penting kekuatan serangnya, bukan ukurannya. Laalit, coba kau pegang sebentar. Kalau terlalu membani tubuhmu, kita akan beralih ke Pedang Gladius."
Perlahan, aku memegang-megang dengan sangat hati-hati agar bagian tanganku tidak tertusuk dan terluka.
Terdapat sedikit hiasan dan tahan terhadap kerusakan. Pedang ini mudah melengkung, tetapi pedang tersebut tidaklah rusak dan hanya mengalami perubahan bentuk saja.
Kurasa sementara aku bisa memakainya dulu. Lagi pula, aku juga belum tahu apakah keahlianku memang di bidang senjata.
"Kurasa aku akan memakai pedang ini saja. Selain daya serangnya yang cukup kuat, pedang ini juga tahan terhadap kerusakan."
Aku memutar-mutar Pedang Spatha dan mencoba untuk mengetes langsung.