Blindsight

Blindsight
Latihan Bertanding



"Ada apa, Laalit? Wajahmu agak merah.. Apa demam, ya?"


Aku menggeleng ringan lalu mengalihkan pembicaraan,


"Apa yang Kakak diskusikan dengan Tuan Mahajana?"


Ternyata setelah aku menyentuh wajah Kakak, aku bisa melihat wajah Kakak walaupun aku tidak menyentuhnya lagi.


Aku bisa melihat reaksi Kakak yang tidak ingin membicarakan ini.


Apakah ini juga berlaku untuk orang lain?


Kakak menggigit bibirnya dan mengalihkan pandangannya.


"Tuan Mahajana… Ingin menjadikanmu… Sebagai… Mu… rid."


Aku menyentuh pergelangan tanganku, sepertinya itu yang biasa kulakukan jika aku sangat terkejut.


"Benarkah?"


Kakak mengangguk berat.


"Tuan Mahajana memberi waktu beberapa hari agar kita bisa membicarakan ini dan memikirkannya dulu. Dihitung dari hari kemarin, sepertinya 8 hari lagi Tuan Mahajana akan kemari dan menagih jawabannya."


"Apa alasan Tuan Mahajana menjadikan aku sebagai muridnya?"


Kakak yang awalnya mengalihkan pandangan kemudian menatap diriku.


"Tentu saja karena kamu sangat berbakat. Kamu bisa merasakan aura kontras Tuan Mahajana, padahal hanya orang terpilih dan orang yang kuat saja yang bisa merasakannya, aku bahkan tidak bisa merasakan aura kontras. Kamu juga ahli dalam menyamarkan luka. Tuan Mahajana bilang, butuh keahlian tinggi untuk dapat menyamarkan hingga menyembunyikan luka dan butuh kemampuan yang tinggi pula untuk memeriksanya. Tuan Mahajana harus menggunakan sebagian kekuatannya untuk memeriksa tubuhmu dan mengetahui lukamu. Kamu bahkan bisa mengetahui pergerakan kami dan mengetahui kemana harus melangkah, padahal kamu tidak bisa melihat. Tidakkah kamu berpikir, kalau kamu sangat hebat dan luar biasa?"


Ah… Jadi karena aku bisa merasakan auranya, makanya Pria tua itu tertarik padaku?


Tunggu sebentar, apa yang Kakak maksud dengan 'menyembunyikan luka'?


"Aku tidak punya luka ditubuhku, kok."


"Tapi, Tuan Mahajana mengatakan bahwa kamu punya luka ditubuhmu dan kamu menyembunyikannya dengan sangat baik. Orang biasa tidak dapat melihat lukamu kecuali orang tersebut mempunyai kemampuan yang tinggi seperti Tuan Mahajana."


Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat,


"Aku tidak punya luka apapun, sungguh… Kakak bisa bertanya pada Aamod karena kemarin kami mandi bersama."


Ekspresi Kakak tampak lega dan tidak terlalu sedih seperti sebelumnya.


"Kalau aku terluka atau semacamnya, aku akan mengatakannya langsung pada Kakak. Aku tidak mungkin membohongi Kakakku, kan?"


Kakak mengangguk dan mengelus rambutku lagi, sepertinya dia sangat menyukai rambutku.


"Jadi bagaimana, apakah kamu menerima tawaran Tuan Mahajana?"


Aku mulai berpikir dan mempertimbangkannya di dalam pikiranku.


Kalau aku menerima tawarannya, otomatis aku menjadi murid dari seseorang yang disegani dan dihormati, ajarannya juga tidak akan asal-asalan dan menyesatkan.


Kekuatanku juga bisa terasah secara efisien. Aku bisa melindungi Kakak dari segala macam bahaya.


Koneksi Tuan Mahajana pasti lumayan besar, jadi akan mudah masuk ke tempat tertentu yang hanya diperbolehkan oleh bangsawan ataupun para master.


Hidupku juga pasti akan langsung terjamin. Kakak juga bisa tinggal di tempat yang lebih aman dan nyaman.


Kurasa Pria Tua itu akan membiayai Kakak kalau aku mau menjadi muridnya.


Tapi kekurangannya adalah aku tidak bisa tinggal bersama dengan Kakak.


Tuan Mahajana pasti akan membawaku dan menyuruhku tinggal di tempat yang telah ditentukan.


Aku baru tinggal bersama Kakak selama 2 hari, masa aku langsung pergi meninggalkan Kakak hanya untuk melatih kekuatan?


Kakak pasti akan kesepian karena dia tidak tinggal dengan siapapun.


Kakak sudah berbaik hati mau mengasuh anak sepertiku, tapi aku malah meninggalkannya.


Hmm…


"Tidak perlu memikirkanku… Kalau kamu menjadi murid Tuan Mahajana, masa depanmu akan sangat terjamin, Adikku. Aku akan mendukung keputusan apapun yang kamu buat."


Kakak sangat pengertian, padahal dia pasti juga tidak ingin kalau aku meninggalkannya secepat ini.


Kalau aku menyetujui ini, aku hanya bisa bersama-sama dengan Kakak 8 hari lagi.


Setelah itu, aku harus pergi dari sini dan tidak tahu kapan akan pulang ke rumah.


Aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan Kakak lebih lama lagi.


Kami belum membuat kenangan yang cukup banyak, seperti memasak bersama, berlatih bersama… Soal berlatih, apakah Kakak juga seorang petarung?


Aku melihat Kakak yang sedang memainkan rambut panjangnya, menunggu jawabanku.


"Tidak mungkin…"


Kakak tiba-tiba mendekat,


Aku mundur sedikit lalu tersenyum.


"Aku belum tahu, Kakak. Kurasa aku masih butuh waktu hingga beberapa hari lagi."


Sepertinya Kakak merasa lega karena telah mengatakan seluruh beban hatinya padaku.


Kukira kenapa, ternyata karena aku ditawari menjadi murid oleh peringkat 10 besar di dunia.


Kami kemudian melanjutkan sarapan.


Langkah kaki ini, sepertinya Aamod menuju kemari.


"Fiuh, Haahh… Haahh… Capek sekali…"


Makanya, gak usah olahraga.


"Lho, kalian belum menghabiskan sarapannya. Lambat sekali, seperti siput~ Padahal aku sudah selesai olahraga~"


Ini aneh, tapi Kakak menatap Aamod cukup lama. Kakak kemudian mengambil sesuatu dan memberikannya ke Aamod.


"Capek sekali, ya. Keringatmu sampai bercucuran begini. Nih, handuk kecil."


Hawa Aamod terasa bahagia dan bersemangat kembali, cepat sekali pulihnya. Padahal tadi kecapekan…


"Te-terimakasih…"


Kakak tersenyum dan Aamod bertingkah aneh, berkeliaran kesana-kemari seperti seekor lalat.


"Oh, anakku! Cepatlah habiskan sarapanmu, karena sebentar lagi, aku akan melatihmu!


Aku cepat-cepat memakan nasi uduknya agar bisa berlatih sesegera mungkin.


"Tidak usah makan cepat-cepat, nanti kamu bisa terkena asam lambung. Sayangku, makanlah perlahan saja, setelah itu kan bisa latihan."


Kurasa saran Kakak benar, aku lalu mencoba lebih lambat.


.......


.......


.......


"Ayo!"


Aamod menyerahkan pedang yang sama seperti tadi.


"Kamu ingatkan apa yang kukatakan sebelumnya?"


Aku mengangguk lalu bersiap untuk bertahan.


Aamod kemudian mengangkat pedangnya dan berlari ke arahku.


*TRING*


Aku mengayunkan pedang dari bagian bawah tubuh ke atas kepala.


Aku merespons serangan Aamod dengan kecepatan yang wajar.


Pedangku sekarang berada di posisi tengah. Aku kemudian melancarkan serangan balik.


*SRING*


Aamod menghindar dengan cepat dan tanpa hambatan.


Aamod kemudian menghunuskan pedangnya dengan menyalurkan elemen api dipedangnya.


Kukira ini cuma latihan biasa, tapi dia sampai menggunakan elemennya, berarti ini adalah latihan bertanding.


Karena tidak mau kalah, aku menggunakan elemen angin juga.


Aku memundurkan tubuhku sedikit lebih cepat dengan menggunakan angin.


Aku tiba-tiba teringat tentang teknik berpedang di tempat pelatihan.


Aku waktu itu mendengar pembicaraan saat seseorang sedang melatih seseorang yang lainnya, Posisi mengintimidasi.


"Hmm… Letaknya di mana ya…"


Aku kemudian memajukan tubuhku sedikit menggunakan angin, lalu merentangkan pedangku ke arah Aamod.


Aku menangkis pedang Aamod…


*SRING*


Aku menangkis pedang Aamod lalu mengarahkan pedangku ke tenggorokannya.


Aamod mengangkat kedua tangannya untuk menyudahi latihan bertanding ini.


"Sangat bagus! Meskipun beberapa gerakanmu masih kaku, tapi bisa menangkis dan membidik sasaran sudah sangat bagus untuk anak seumuranmu. Seingatku aku belum mengajarimu itu. Dari mana kamu mempelajarinya?"