Blindsight

Blindsight
Bertemu Kembali



Suara kereta kuda terdengar sedang mendekat menuju kemari saat kami sedang menikmati teh hangat di pagi hari.


Aku bisa melihat wajah cemas yang ditunjukkan Kakak sedari tadi, karena hari ini memang hari H.


Aamod sudah mengetahui seluruh ceritanya pada saat Kakak memberitahuku tentang apa yang Kakak dan Tuan Mahajana bicarakan dan ingin menjadikanku sebagai muridnya, sepertinya Aamod mendengarkan secara diam-diam saat itu.


Aamod sepertinya tahu bahwa Kakak ingin membicarakan sesuatu padaku, jadi Aamod mempercepat makannya lalu pura-pura berlatih pedang.


Aku menyadarinya saat Aamod membelakangi pintu samping, mendengarkan pembicaraan kami, setelah itu dia masuk ke rumah seperti tidak tahu apa-apa.


Meskipun Aamod memang cerewet dan jahil, tapi ada saatnya dia menghargai privasi orang lain dan tidak ikut campur sama sekali.


Sebenarnya saat sedang mandi tadi, aku sempat kambuh lagi.


Aku lupa menutup mulutku sehingga teriakanku bisa terdengar oleh Kakak.


Aamod yang sedang membantu Kakak di luar kemudian berusaha menenangkan Kakak yang sangat khawatir terhadap kondisiku.


Sepertinya Aamod tahu bahwa aku sedang kambuh, jadi Aamod pura-pura mengejekku dan mengatakan bahwa aku berteriak hanya karena terpeleset.


Setelah itu Kakak sedikit tenang dan menanyakan kondisiku, aku bilang bahwa aku baik-baik saja, Kakak kemudian melanjutkan aktivitasnya di luar sana.


Aku sungguh berterima kasih padamu, Aamod. Kalau kau tidak membuat alasan seperti itu, Kakak pasti akan mengetahui kondisiku yang menyedihkan ini.


Aku tidak ingin Kakak menangis dan hampir gila seperti waktu itu.


Hanya karena anak tidak berguna sepertiku, Kakak menitikkan air matanya dan membuat tubuhnya menjadi sakit karena tidak mau makan.


Aku harap keputusan yang telah aku buat tidak akan membuat Kakak menangis seperti saat aku sakit.


Aku harap keputusan yang aku ambil ini adalah keputusan yang terbaik dan aku tidak akan menyesal karena sudah membuat keputusan ini.


Tapi entah mengapa, perasaanku sedikit tidak enak. Sebenarnya kenapa? Apa karena Kakak akan sedih? Atau karena aku yang akan sedih?


Kalau soal perasaan sedih, tentu saja Kakak akan merasa sedih karena aku tidak akan tinggal bersamanya lagi.


Aku juga pasti akan sedih karena aku tidak akan bersama Kakak dan Aamod lagi.


Waktu yang kami jalani, walaupun baru 9 hari kami bercanda dan mengobrol bersama, tetapi rasanya mereka sudah seperti keluarga bagiku.


Yah, Kakak memang keluargaku. Tapi, Aamod yang awalnya hanya sekedar orang asing, sekarang sudah kuanggap sebagai bagian dari keluargaku juga.


Aku kadang bertanya-tanya, aku itu menganggap Aamod sebagai apa?


Apa aku menganggap Aamod sebagai sahabat yang cerewet dan jahil?


Atau aku menganggap Aamod sebagai Ayah yang perhatian dan melatihku dengan penuh semangat?


Entahlah, tapi kurasa aku akan kangen dengan sifat konyolnya itu nanti.


Aku bahkan belum mengingatkannya untuk keramas saat dia mandi.


Semoga saja aku tidak lupa dan bisa mengingatkannya dengan benar sebelum pergi dari sini.


Aku kemudian meneguk teh melati yang masih hangat sambil bersikap dengan tenang.


Aku tidak boleh terlihat bahwa aku sedang sedih atau cemas sekarang.


Kalau Kakak tahu, pasti Kakak akan lebih sedih dan menangis tersedu-sedu karena aku.


Kakak lalu bangkit dan mempersilahkan Tuan Mahajana masuk ke dalam rumah, ternyata ada Gulinear yang mengekor di belakangnya.


"Laalit!"


Seperti biasa, anak ini langsung memelukku dan bermanja-manja seperti bocah.


"Kakak sudah menyetujui agar kita bisa masuk ke akademi bersama-sama?"


Akademi?


"…"


Oh iya, aku lupa soal itu… Gulinear kan mengajakku untuk masuk ke akademi yang sama dengannya.


Gawat… Aku benar-benar melupakannya setelah pulang ke rumah…


"Apa maksudmu, Gulinear?"


Kakak tiba-tiba menggendong Gulinear dan sepertinya sedang memegangi wajahnya.


"Kakak! Gulinear kangen sekali sama Kakak!"


Hawa mereka terasa bahagia sekali… Mereka seperti ibu dan anak.


"Gulinear dan Laalit akan memasuki akademi di ibu kota. Kata Laalit, Laalit akan bertanya dulu soal itu pada Kakak. Boleh ya, Kak? Gulinear ingin satu akademi dengan Laalit! Gulinear akan membimbing Laalit agar dapat menggunakan kekuatannya dengan benar setelah Laalit bangkit nanti. Kami akan belajar bersama juga!"


Sepertinya satu-satunya teman Gulinear hanyalah aku seorang.


Kalau dia sudah punya teman lain, pasti dia tidak akan sampai membujuk Kakak seperti ini.


Seharusnya dia punya teman perempuan juga. Aku kadang tidak bisa mengerti apa yang kau inginkan.


Kalau kau punya teman perempuan, mungkin temanmu akan lebih mengerti yang kau inginkan dan kalian akan lebih nyambung saat berbicara.


"Akademi di ibu kota?!"


Aku bisa melihatnya dengan jelas bahwa Kakak sedang kaget saat ini.


Mata yang terbelalak, bibir yang tampak sedikit terbuka, dan perasaan Kakak yang terasa kaget.


Meskipun tidak terlalu jelas dan yang kulihat seperti sebuah garis-garis wajah yang agak kabur, tetapi aku masih bisa mengira-ngira ekspresi apa yang Kakak keluarkan saat ini.


"Iya! Boleh ya, Kak? Gulinear ingin belajar bersama dengan Laalit!"


Kakak tampak ragu-ragu sebelum menjawab,


"Maaf, Gulinear. Tapi, Laalit masih berusia 11 tahun, dia tidak mungkin masuk ke akademi bersama-sama denganmu. Bukankah bila ingin masuk ke akademi, usianya harus sudah 14 tahun?"


Hawa Gulinear terasa kaget lalu dia sepertinya sedang menatapku sekarang.


"Apa… Gulinear kira Laalit umurnya 13 juga seperti Gulinear. Pokoknya Laalit harus masuk ke akademi sama Gulinear!"


Gulinear lalu turun dari gendongan Kakak, sepertinya dia berlari ke arah seseorang.


"Tuan Mahajana! Gulinear ingin masuk ke akademi bersama dengan Laalit. Tahun depan kan Gulinear sudah bisa ke akademi, tolong izinkan Laalit masuk ke akademi juga walaupun Laalit belum 14 tahun."


Tuan Mahajana ternyata yang berada di sana… Perasaan yang terasa mencekam ini, walaupun Tuan Mahajana menyembunyikan kekuatannya, tapi aku masih bisa merasakannya sedikit.


"Itu semua tergantung keputusan Laalit. Apakah Laalit akan setuju? Coba tanyakan dulu padanya."


Gulinear lalu berlari ke arahku dan memandangiku.


"Laalit mau, kan? Iya, kan?"


Gulinear sampai membujukku begini, aku harus bagaimana? Kalau kuterima, rasanya aku masuk ke akademi terlalu cepat.


Akan memalukan kalau hanya aku yang umurnya lebih muda yang berada di sana.


Tubuhku pasti akan kelihatan pendek sekali dan akan susah berbaur dengan mereka karena aku lebih muda dibandingkan mereka.


Kalau aku tolak, aku takut Gulinear akan kecewa padaku.


Bagaimana jika dia menangis? Bagaimana jika dia memarahi orang lain di sini karena tidak terima dengan keputusanku?


Aku tidak masalah jika Gulinear akan marah dan menjauhiku, tetapi aku tidak mau bila dia membuat masalah dengan orang lain karena diriku.


Tetapi, aku juga punya hak di sini kan? Aku yang membuat keputusan di sini.


Tuan Mahajana menyerahkan keputusannya padaku, berarti Tuan Mahajana tidak akan memaksaku untuk memasuki akademi pada usia yang lebih muda daripada murid lainnya.


Benar… Semua orang di sini sedang menunggu jawabanku.


Aku yang memegang kendali sekarang, bukan Gulinear, ataupun Tuan Mahajana.


Aku harap kau menerima jawabanku ini, Gulinear.


"Maaf, Gulinear. Untuk saat ini, aku tidak ingin memasuki akademi dulu, aku belum siap."


Tangisnya pecah, Gulinear lalu memegang bahuku dan mendekatkan wajahnya.