
"Kapan Laalit bangkit? Kenapa tidak pernah mengatakannya pada Gulinear?!"
Bertanyanya satu-satu, Gulinear. Kalau bertanya sekaligus begini, aku kan bingung mau menjawabnya bagaimana.
Jadi, bagaimana aku akan menjawab pertanyaan yang diajukan Gulinear?
Haruskah aku mengatakan kebenarannya sekaligus atau hanya mengatakan setengah kebenarannya saja?
Pertama-tama, aku harus meminta maaf dulu padanya.
"Maaf, Gulinear…"
Sepertinya Gulinear tidak mau memaafkanku… Aku bisa merasakan penolakan darinya…
Tidak apa-apa, ini memang salahku. Meskipun dia sedang sangat kecewa padaku sekarang, aku akan menjawab pertanyaannya dan mengatakan hal yang sejujurnya.
Yah, itu kalaupun aku bisa mengatakannya dengan benar…
"Sebenarnya, aku…"
Oke, ayo katakan yang sebenarnya pada Gulinear!
"Aku… Memang sudah bangkit lebih dulu. Aku tidak mengatakannya padamu karena aku tidak ingin membuatmu sedih dengan dirimu yang sebelum ini belum bangkit, Gulinear."
Gulinear menatap mataku, lalu mengarahkan tangannya hingga mendarat ke tanganku.
Dia tidak mengatakan sepatah kata pun, hanya memegangi lengan hingga telapak tanganku.
"Bukankah, akan lebih baik kalau kamu mengetahuinya nanti, setelah kekuatanmu sudah bangkit?"
Gulinear masih tidak mengatakan apapun. Dia mengalihkan pandangannya pada badanku kemudian ke tanganku.
Baru kali ini aku merasakan hawa yang amat kecewa pada Gulinear.
Kukira Gulinear tidak akan bisa merasa kecewa karena dia selalu ceria setiap harinya.
Ternyata aku salah. Aku terlalu meremehkannya.
Kamu tahu apa kesalahanku yang paling fatal?
Kesalahanku yang paling fatal adalah… aku lupa bahwa dia juga sama sepertiku, seperti Jaleed, Kamaniai, Tuan Mahajana, Kakak, dan Aamod.
Aku lupa bahwa dia hanya seorang manusia yang punya perasaan, sama seperti kami.
Manusia yang hati kecilnya rapuh, sulit merasa kecewa tapi masih bisa merasakan kekecewaan.
Saat Gulinear merasa kecewa, dia tidak akan menangis atau marah padaku seperti yang biasanya dia lakukan.
Dia cuma diam.
Seseorang yang biasanya langsung menunjukkan perasaannya, tiba-tiba hanya diam seperti ini.
Gulinear sepenuhnya kecewa. Aku tahu itu, aku tahu Gulinear kecewa tanpa dia mengatakannya sendiri, tanpa dia mengeluarkan suaranya langsung dari mulutnya.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
"Bisa Gulinear melihat kekuatan Laalit? Kekuatan yang lebih besar daripada yang Laalit keluarkan barusan?"
Kekuatanku…
Sejujurnya, aku ingin mengeluarkan kekuatanku sekarang juga.
Sayangnya, kondisiku sedang tidak baik, sampai beberapa bulan ke depan.
"Untuk saat ini, aku tidak bisa. Aku minta maaf, sungguh…"
Gulinear menggenggam telapak tanganku. Hawanya terasa lebih kecewa dari sebelumnya.
Aku mengatakan kebenarannya. Aku memang tidak bisa mengeluarkan kekuatanku agar tubuhku tidak terbebani.
Aku harus apa? Tidak mungkin kan, aku memaksakan diri melepaskan kekuatan yang ganas ini.
Bisa-bisa tubuhku remuk kalau aku melepaskannya, walaupun dalam jumlah yang tidak besar.
Yang sebelumnya, saat aku mengeluarkan sedikit kekuatanku pada punggung telapak tangan Gulinear, hanya sebuah keberuntungan saja tubuhku tidak bereaksi negatif.
"Gulinear kira, kita adalah teman…"
Apa?
Apa maksudmu….
"Tentu saja kita adalah teman!"
Kamu temanku, Gulinear. Kamu teman pertamaku, kamu tahu itu kan?
Aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu. Kamu mengajarkan cara memegang panah dan semenjak itu pula kita berteman.
Saat di kereta kuda, kamu marah padaku karena aku tidak merespon pertanyaanmu.
Kamu langsung menindihku dan menjambak rambutku.
Dan ada lagi. Kamu juga senang memainkan rambutku, sampai menguncir rambutku. Kamu senang saat melakukannya.
Aku mendengar tawamu saat berhasil mengikat dua rambutku yang aneh ini.
Bukankah itu adalah pertemanan?
Kita bahkan makan roti bersama-sama, mencoba bermain piano bersama walaupun aku tidak bisa memainkannya, dan masih banyak lagi.
"Laalit tidak mau menunjukkan kekuatan Laalit sama Gulinear! Padahal Gulinear tadi sudah menunjukkan kekuatan Gulinear pada Laalit. Laalit juga tidak mengatakan kalau Laalit sudah bangkit lebih dulu dari Gulinear. Laalit benci sama Gulinear, ya?"
Secara refleks, aku menyentuh pundak Gulinear.
"Tidak! Aku tidak mengatakan tentang kebangkitanku kan, agar kamu tidak sedih karena belum bangkit. Tentang kekuatan… Kalau bisa, aku akan menunjukkan kekuatanku sekarang. Tapi saat ini aku tidak bisa. Tubuhku masih…"
Apa aku harus mengatakan kondisi tubuhku yang menyedihkan ini pada Gulinear?
Aku… Aku rasa aku tidak bisa…
"Ikuti aku, kita ke penguji tingkat kekuatan sekarang."
Setelah mengatakan hal itu, Jaleed langsung berjalan mendahului kami.
Masih kebingungan, aku berjalan mengikuti Jaleed.
"Jaleed! Kenapa tiba-tiba?!"
Kamaniai berteriak, setengah berlari hingga berjalan sejajar dengan Jaleed.
Meskipun nada bicara Jaleed merendah, aku masih bisa mendengar perkataannya dengan jelas.
"Kamu tidak lihat tekniknya? Itu teknik tingkat menengah ke atas."
Apa yang Jaleed maksud dengan 'teknik' adalah… Kekuatan yang kuarahkan pada punggung telapak tangan Gulinear dan membuat kekuatan yang dilepaskan Gulinear menjadi lebih stabil?
Sebenarnya, aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa mengetahui hal itu.
Aku tidak pernah mendengar ini di tempat pelatihan.
Apa ini ada hubungannya dengan ingatan masa laluku?
Atau… Ini kuketahui karena Neneknya Gulinear juga memberitahuku informasi ini, saat menyalurkan kekuatanku?
Memang semenjak itu, aku jadi mengetahui beberapa hal yang tidak pernah kudengar sebelumnya.
Seperti, bagaimana mengucapkan mantra pelindung, yang barusan itu juga… Aneh, tapi unik.
"Permisi! Kami kemari untuk menguji kekuatan anak yang ada di belakangku."
Hah… Kita sudah sampai ke tempat pengujian itu?
Cepat sekali… Kukira kita perlu keluar dan menaiki kereta kuda untuk pergi ke sana.
Ternyata tempatnya ada di dalam rumah ini…
"Bukankah anak ini masih masih terlalu muda, Tuan Jaleed?"
"Dia sudah bangkit."
Ada seseorang yang mendekat dan menatapku dari atas sampai bawah.
"Oh, anak ini baru bangkit, ya? Dari ciri-ciri fisikmu, pasti kamu adalah anak yang sering dibicarakan para pelayan di sini. Laalit, kan?"
Aku sudah bangkit sejak lama, sih…
Tapi, terserah deh…
Dengan ragu-ragu, aku mengangguk.
Aku tidak menyangka, ternyata aku…
Sangat populer! He he…
Padahal aku baru di sini, tapi sudah banyak pelayan yang tahu tentangku, bahkan orang ini juga tahu namaku.
"Kemarilah, Nak."
Aku mengikuti orang tersebut, hingga berhenti di tempat yang terdapat suatu benda kecil di depanku.
"Karena kamu baru saja bangkit, aku akan mengujimu dengan giok tahap pemula. Kamu hanya perlu menyentuh giok kecil ini. Setelah itu, aku bisa mengetahui seberapa kuat kekuatanmu"
Aku mengangguk sebagai tanda persetujuan, lalu mengarahkan jariku ke benda yang disebut 'giok' ini. Belum satu menit, giok tersebut sudah hancur…
Masih kebingungan, aku menempatkan tubuhku dengan gestur meminta maaf, lalu hanya berdiam diri karena tidak tahu harus bagaimana.
Hawa orang tersebut terasa kaget tetapi ia langsung mengalihkan perasaannya menjadi tenang kembali.
"Mari kita uji ke giok tahap pemula-menengah."
Orang tersebut mengarahkan tempatnya padaku. Sekarang, aura yang terpancar pada giok tersebut terasa sedikit kuat daripada sebelumnya.
"Kamu hanya perlu menggenggam giok ini. Setelah itu, aku bisa mengetahui elemen apa yang terdapat dalam tubuhmu dan seberapa kuat elemen itu."
Aku mengangguk, kemudian menggenggam giok yang ukurannya lebih besar daripada sebelumnya.
Orang tersebut berada di sampingku, memperhatikan genggaman tanganku dengan seksama.
Setelah 3 menit, giok yang kugenggam menjadi hancur.
Sekali lagi, aku menunduk dan meminta maaf kepadanya.
Aku ingin undur diri saja, tetapi orang ini menyuruhku untuk mengikutinya.
"Fiuh, baiklah… Ini adalah yang terakhir dan paling kuat, giok bulat untuk menguji kekuatan orang dewasa yang baru saja memasuki rank 500 besar. Letakkan telapak tanganmu di sini, aku akan bisa mengetahui seberapa kuat elemen kekuatanmu dan seberapa kuat keseluruhan kemampuanmu."