Blindsight

Blindsight
Kompres Hangat



"Pelayan, bawa Gulinear ke kamar. Jangan lupa kompres hangat dan letakkan di dahinya."


"Baik, Tuan Muda."


Pelayan mulai menggendong Gulinear kemudian berjalan menuju tangga.


"Tunggu."


Pelayan berhenti dan berjalan kembali menghampiri Jaleed.


"Ya, Tuan?"


"Gulinear harus sembuh sebelum malam ini."


Pelayan terasa tidak percaya dengan perkataan Jaleed barusan.


"Kalau sebelum malam ini-"


"Berani menentang perintahku?!"


Bentakan Jaleed menggelegar hingga ke ujung ruangan.


"Ma-Maaf… Maafkan saya… Akan saya usahakan, Tuan…"


Dengan terburu-buru, pelayan langsung pergi menuju tangga, takut dimarahi lagi oleh Jaleed.


"Aku ada urusan."


Setelah membalikkan tubuh dan mengucapkan salam perpisahan yang tidak seperti salam perpisahan, Jaleed lalu pergi menuju ke arah timur.


Hmm…


Aku terkejut dengan sikapnya barusan, dia memarahi pelayan secara terang-terangan, padahal pelayan itu bertanya dengan baik-baik.


Kalau dipikir-pikir, sejak awal, Jaleed sudah menggunakan nada bicara yang kasar.


Dia itu… Dia itu memerintah pelayan dengan ketus, tanpa belas kasihan sama sekali.


Aku tahu Kakak yang barusan itu memang hanyalah seorang pelayan, tapi Kakak Pelayan itu kan juga seorang manusia, sama seperti kita.


Manusia adalah makhluk yang perasa, bisa merasakan marah, senang, kecewa, dan sedih.


Padahal Jaleed bisa mengatakannya dengan nada bicara yang baik, yang tidak akan membuat perasaan Kakak Pelayan merasa sedih dan sakit hati karena mendapat perlakuan majikannya seperti itu.


Tapi, ada yang janggal. Padahal saat masuk kemari, Jaleed sama sekali tidak menunjukkan hawa yang emosional.


Lalu, mengapa saat mulai berbicara dengan Kakak Pelayan yang barusan, hawa Jaleed langsung mendidih dan meledak-ledak?


Mungkinkah moodnya tiba-tiba menjadi buruk? Apa penyebabnya?


Apa Jaleed baru saja teringat dengan sesuatu yang membuatnya menjadi jengkel?


Atau sebenarnya ada suatu permasalahan yang belum kunjung selesai di antara Jaleed dan Kakak Pelayan itu?


Permasalahan apa itu?


Apakah seperti tidak bisa mencuci pakaian yang Jaleed kenakan dengan benar?


Mencuci pakaian itu…


Aku tidak tahu bagaimana cara mencuci pakaian dengan benar.


Aku tidak tahu harus bagaimana dan melakukan apa untuk mengatasi masalahnya, padahal aku juga yang memikirkan permasalahan itu.


Mari kita pikirkan kemungkinan lain yang terjadi…


Permasalahan yang mungkin sedang dilalui oleh anak berusia 11 tahun adalah…


Banyak, sih. Diusili oleh seseorang, kelelahan, ingin menjadi kuat…


Coba kita persempit kemungkinannya saja.


Hobinya Jaleed…


Yang Jaleed sukai…


Apakah Kakak Pelayan tidak sengaja menjatuhkan buku yang Jaleed taruh di mejanya?


Kurasa itu hanya masalah sepele. Toh, Kakak Pelayan tidak sengaja menjatuhkan bukunya.


Kalau aku jadi Jaleed, aku tidak akan pernah mempermasalahkannya.


Dengan berlapang dada, aku akan langsung memaafkan Kakak Pelayan dan memberikan bukuku padanya.


Menjadi akrab itu, perlu kan?


Sebagai makhluk sosial, sesekali kita harus memberikan sesuatu kepada orang lain, agar hubungan dengan orang tersebut dapat terjalin dengan erat.


Itu pesan moral yang bagus…


Kembali ke topik utama…


Jadi, apa yang sebenarnya terjadi antara Jaleed dan Kakak Pelayan?


Entahlah… Tapi, aku masih bisa merasakan hawa Kakak Pelayan yang sedih, takut, dan kecewa dengan perlakuan Jaleed.


Bentakan yang tidak berperasaan itu, entah mengapa aku sangat mengerti apa yang dirasakan oleh Kakak Pelayan.


Bentakan yang seolah-olah memenuhi seluruh ruangan dan mendekap tubuh dalam-dalam…


Rasa sakit itu…


Tangan itu… Tangan yang memperlakukan tubuh seseorang dengan tidak bermoral…


Aku… Aku takut…


"Apa kamu kesakitan? Sebentar lagi akan selesai, tahan dulu, ya…"


Sama sekali tidak sakit…


Kenapa aku ketakukan begini?


Apa karena luka di tubuhku?


Mungkin memang karena itu. Kalau bukan itu, memangnya apalagi?


Karena… Bentakan Jaleed?


Ternyata Jaleed sangat menakutkan saat marah. Benar kata orang-orang, marahnya orang sabar itu menyeramkan.


Tidak… Tidak, Jaleed itu sebenarnya tidak sabaran. Kalau dilihat sekilas, tingkah laku Jaleed memang pantas dilabeli 'tenang' dan 'penyabar', tapi sebenarnya tidak begitu.


Aku yang bisa merasakan hawanya, bisa mengetahui dengan tepat bagaimana perasaan Jaleed yang sesungguhnya.


Jaleed adalah anak yang emosional dan tidak sabaran.


Yah, meski sikapnya tidak menunjukkan begitu, sih…


Omong-omong, dia menunjukkan sifat aslinya barusan.


"Meskipun terluka, area kulitmu sangat lembut."


Sebisa mungkin, aku memasang wajah yang lembut, selembut permukaan kulitku yang sebenarnya sudah tidak terlalu lembut lagi…


Terima kasih atas pujiannya, Kakak Pelayan. Meskipun tidak sependapat denganmu, aku akan tetap menghargai pujianmu.


Sedari tadi, para Kakak Pelayan sedang membersihkan lukaku dengan membasuh bagian yang terluka menggunakan air.


Aku sudah mengatakan bahwa aku bisa menanganinya sendiri, tapi Kakak-Kakak ini tetap menyuruhku duduk dan membiarkan mereka yang menanganinya.


Ada pepatah yang mengatakan,


'Jika kita menunggu seseorang memberikan apa yang kita inginkan, kemungkinan besar kita tidak akan pernah mendapatkannya.'


Jadi, mumpung ada seseorang memberikan apa yang kita inginkan, kenapa tidak diterima saja?


Sama sekali tidak rugi. Yang ada kita malah untung.


Karena itulah aku membiarkan para Kakak Pelayan yang menangani lukaku.


Memang terdengar kasar, tapi aku akan tetap menyatakannya secara tersirat di sini.


Yang mereka lakukan sekarang, termasuk kewajiban mereka sebagai pelayan.


Mereka bekerja dan digaji untuk menangani segala sesuatu yang terjadi di sini, kan?


Seperti, mengerjakan tugas dengan baik dan tanggung jawab.


Termasuk mengobati luka seorang anak berusia 11 tahun yang terkena ledakan dari seorang anak berusia 13 tahun yang mengenai ledakan pada anak yang berusia 11 tahun tersebut.


Dan anak berusia 11 tahun tersebut sekarang sedang duduk sambil menikmati setiap olesan yang mengenai setiap luka di tubuhnya.


Dan anak berusia 11 tahun tersebut adalah aku.


Ada sesuatu yang padat tetapi juga terasa kenyal mengenai setiap lukaku, rasanya sangat menyenangkan sampai aku menggigit bibir bagian bawah.


Aku bahkan sampai teringat perlakuan Nenek Sihir yang kurang ajar itu.


Kalau bisa, aku benar-benar ingin mengutuknya sekarang juga.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"


Tidak boleh. Nanti aku tidak bisa berkonsentrasi merasakan setiap olesan yang kalian torehkan dilukaku.


"Apa yang baru saja terjadi di luar sana? Kami tiba-tiba mendengar suara ledakan, padahal sedari tadi, tidak ada peringatan apapun dari penjaga."


Tentu saja tidak ada peringatan. Yang barusan terjadi itu sama sekali tidak berbahaya.


Untuk apa pula peringatan itu?


Lagipula, para penjaga tidak akan tahu akan ada anak yang bangkit, bukan?


Kebangkitan itu tidak bisa diprediksi. Ketetapan bangkit saat berusia 14 tahun itu hanyalah usia rata-rata kebangkitannya saja.


Mau sekeras apapun menghitung hari, bulan, tahun, dan lain sebagainya, tetap saja bila saatnya bangkit, ya bangkit.


"Gulinear bangkit."


Aku juga baru tahu bahwa dia akan bangkit di sana.


Badan yang lebih hangat dari sebelumnya, kepanasan.


Kurasa itu tanda-tanda seseorang bila akan mengalami kebangkitan.


Kamaniai juga mengatakan hal yang sama. Kamaniai bilang, badannya terasa panas seperti demam.


Kamaniai sudah mengatakan hal itu dan aku baru mengingat perkataannya sekarang, saat Gulinear sudah bangkit.


Dasar pelupa…


Ah… Sebenarnya, membawa Gulinear ke taman adalah tindakan yang benar.


Kalau dia bangkit saat di dalam kamar…


Aku tidak bisa membayangkan seberapa hancur kamarnya nanti…


"Nona Gulinear sudah bangkit? Kami turut senang! Setelah Nona Kamaniai bangkit terlebih dahulu, Nona Gulinear pun bangkit, bahkan usia mereka belum genap 14 tahun. Mereka berbakat!"


Memang…


Kalau dilatih dengan benar, mereka akan jadi sangat kuat di masa depan nanti…


"Apa kamu sudah bangkit juga?"


Kenapa bertanya hal itu padaku…