
"Kami bermain petak umpet. Jaleed yang berjaga, sementara aku dan Gulinear bersembunyi."
Ternyata kalian sedang bermain 'petak umpet'… Hampir saja aku mengira bahwa kalian sedang ada masalah pribadi…
Seharusnya aku sudah tahu hal itu, Kamaniai adalah anak yang lembut dan Gulinear adalah anak yang pemaaf.
Dengan sikap kalian yang bukan tipe pendendam, tidak mungkin kalian bertengkar hebat dengan Jaleed yang sikapnya jauh lebih dewasa.
Masalah kecil tidak akan membuat kalian bertengkar, dan masalah besar juga tidak, kan ada Jaleed.
Aku yakin, Jaleed bisa berpikir rasional. Dia pasti bukan tipe yang cenderung memikirkan masalah secara terus-menerus bahkan sampai memendam masalahnya.
Sikapnya yang rasional akan membuatnya maju dan menyingkirkan semua permasalahan tidak penting yang menghambat hidupnya.
"Gulinear tadi mau mengajak Laalit bermain petak umpet. Tapi kata Jaleed, Laalit sedang tidak sehat, Gulinear tidak jadi mengajak Laalit."
Perhatian sekali, Jaleed. Bahkan sampai mengkhawatirkan kondisiku…
Aku masih ingat saat kamu menepis tanganku dengan kasar.
Hawa yang mencekam dan tatapan matamu yang menunjukkan rasa ketidaksukaan, ditambah lagi dengan nada bicaramu yang menunjukkan kebencian.
Kamu kira aku akan lupa dengan semua itu?
Ha Ha…
Tanpa disengaja, terkadang orang-orang akan menunjukkan sifat naif mereka.
Ya, dari luarnya aku kelihatan seperti bocah yang terlalu naif, tapi di dalamnya, aku agak sedikit berbeda.
Aku sama sekali tidak akan menyangkal, aku 'memang' naif tetapi bukan 'terlalu' naif.
Aku bukan naif setiap saat, tetapi hanya menempatkan sifat naifku pada hal yang seharusnya.
Aku bisa naif pada hal yang kuanggap perlu, tetapi aku tidak akan bisa naif pada hal yang kuanggap tidak perlu.
Misalnya, aku pernah membuat kesalahan hingga Gulinear menangis.
Aku akan bersikap naif karena sikapku memang diperlukan saat itu.
Kenapa diperlukan? Karena aku YAKIN kalau aku telah berbuat kesalahan.
Aku akan berusaha minta maaf pada Gulinear, kemudian memperbaiki kesalahanku agar tidak mengulangi hal yang sama.
Nah, ini adalah hal utama yang ingin aku bahas sekarang.
Kenapa aku tidak bersikap naif kepada Jaleed?
Bukan… Bukan karena Jaleed adalah laki-laki sementara Gulinear adalah perempuan.
Aku memperlakukan semua orang dengan sama, maksudku, aku menganut kesetaraan gender.
Kita harus bersikap adil pada semua orang, tentu saja bila orang tersebut masih bersikap adil kepada kita.
Tapi, jika orang tersebut tidak bersikap adil kepada kita, tidak perlu membalasnya dengan bersikap adil, kecuali kalau memang benar-benar terpaksa.
Ingat, 'benar-benar terpaksa', berarti sudah tidak ada pilihan lain lagi.
Kembali ke permasalahan utama.
Alasanku tidak bersikap naif pada Jaleed adalah… Karena sikap naifku tidak diperlukan saat ini.
Kenapa tidak diperlukan? Karena aku TIDAK YAKIN kalau aku telah berbuat kesalahan.
Jaleed tidak mau melepaskan Kamaniai, Kamaniai sampai meronta agar segera terlepas dari Jaleed, tetapi tidak berhasil karena tenaga Kamaniai yang tidak sebanding dengan Jaleed.
Aku bisa merasakannya, meskipun terus meronta, Kamaniai sama sekali tidak marah pada Jaleed, tapi tetap saja perbuatan Jaleed tidak patut dibenarkan.
Jaleed malah bersikap egois dan tidak membiarkan Kamaniai untuk mendaratkan tubuhnya.
Sungguh, aku sebenarnya masih tidak paham mengapa Jaleed bersikap kekanak-kanakan.
Sikapnya tidak seperti biasanya yang selalu menggunakan otaknya dan bertingkah laku layaknya bangsawan sejati.
Saking kekanakannya, aku sampai harus ikut campur secara langsung.
Jadi, yang kulakukan hanyalah menolong Kamaniai.
Menolong Kamaniai adalah hal yang benar, menurutku tidak ada yang salah dari menolong orang lain.
Apakah 'menolong orang lain' termasuk kesalahan?
Kalau memang kesalahan, yang mana yang termasuk kebenaran?
Apa perbuatan yang benar itu… Saat dengan sengaja membiarkan orang lain mengalami kesulitan?
Tidak, kan?
Perbuatanku sudah benar. Jaleed yang salah di sini.
Kemana otaknya? Apa dia baru saja menjatuhkan otaknya saat berjalan menuju kemari?
Setelah menjatuhkan otaknya, bukankah dia seharusnya tidak lupa untuk mengambilnya?
"Laalit! Lihat, lihat! Gulinear sudah bisa melakukan ini!"
Kekuatan perlahan bergerak di udara bersamaan dengan rasa kagum yang muncul pada hawa Gulinear.
Anak ini… Betapa senangnya dia saat bisa melakukan hal yang sangat sederhana itu…
"Itu bagus… Tapi, akan lebih baik kalau kamu melepaskan kekuatannya dengan tidak terburu-buru seperti barusan."
Tanganku mencari-cari tangan Gulinear untuk mengajari cara melepaskan kekuatan dengan benar.
Setelah mendapatkan tangan Gulinear, aku mengarahkan tangannya agak ke atas dan menopang punggung telapak tangannya.
Kalau kujelaskan secara teori, kurasa anak ini tidak akan mengerti…
Hmm…
Aku akan menggunakan cara instan saja.
Secara samar, aku memberi 'dukungan' berupa mengeluarkan sedikit kekuatanku ke telapak tangannya agar kekuatan Gulinear bisa langsung dilepaskan dengan benar tanpa penjelasan yang rumit.
Mungkin ini sudah cukup…
"Ayo, coba kerahkan kekuatanmu."
Gulinear melepaskan kekuatannya dengan bersemangat.
Meskipun bersemangat seperti barusan, kali ini dia melepaskan kekuatannya dengan lebih rileks. Ini sudah termasuk bagus untuk pemula.
Aku bisa merasakan kekuatan yang dia keluarkan sudah stabil layaknya seseorang yang sudah berlatih selama berbulan-bulan.
"Keren! Gulinear merasa lebih ringan saat Gulinear mengeluarkan kekuatannya!"
Tentu saja… Karena langkah-langkahnya sudah benar, kamu jadi bisa mengeluarkan kekuatanmu dengan lebih santai.
Wajar saja kalau pada percobaan awal, kamu tidak bisa mengeluarkan kekuatannya dengan benar.
Tapi, aku kan di sini. Aku akan mengajarimu sampai kamu mahir dalam mengontrol kekuatan.
"Karena kamu baru bangkit, otomatis tubuhmu sedang dalam tahap awal, yaitu tubuhmu sedang menyesuaikan diri dengan kekuatanmu yang baru bangkit. Agar tubuhmu tidak terlalu terbebani dengan kekuatanmu dan bisa menyesuaikan diri dengan benar, sebaiknya tidak terlalu sering mengeluarkan kekuatan. Biarkan kekuatan dalam tubuhmu mengalir secara merata hingga ke jari-jari tanganmu."
Ada beberapa hal lagi yang ingin kukatakan padanya, tapi sepertinya aku sudah terlalu banyak bicara…
Nanti akan kujelaskan pada Gulinear saat Gulinear menanyakannya saja.
"Laalit…"
Hawa Gulinear terasa agak… Kecewa?
Apa aku telah melakukan kesalahan?
Kurasa, aku sudah sangat berhati-hati saat berbicara padanya.
Aku juga tidak memegang paha atau dadanya… Aku hanya memegang tangannya saja, itu pun barusan.
Aku cuma mengajarinya cara melepaskan kekuatan secara natural.
Lalu, kenapa Gulinear menunjukkan hawa sedih bercampur kecewa seperti ini?
Apa yang telah kulakukan hingga dia menjadi seperti ini, yang awalnya ceria berubah 180° menjadi murung?
Tidak ada gunanya berpikir seperti ini, aku tidak akan mendapat jawaban apapun.
Lebih baik aku mendapatkan jawabannya langsung dari orang yang bersangkutan.
"Ya?"
Beritahu mengapa perasaanmu berubah secara mendadak, Gulinear.
Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk menghiburmu.
"Laalit sudah bangkit, kan?"
Bangkit…?
Bagaimana Gulinear bisa tahu…
Aku baru ingat! Barusan, aku kan melepaskan sedikit kekuatanku untuk membantu Gulinear.
Ah… Laalit, dasar anak ceroboh…
Gulinear pasti melihat kekuatanku dan merasakannya di punggung telapak tangannya, aku tidak bisa mengelak!
"Pembohong… Laalit pembohong!"
Tidak… Aku bukanlah seorang pembohong!
Aku tidak mengatakannya padamu karena tidak ingin dirimu sedih terlampau dalam, Gulinear.
Waktu itu kan kamu belum bangkit. Aku hanya tidak ingin merasakan hawa yang terasa lebih sedih karena ada anak yang lebih muda 2 tahun sudah bangkit lebih dulu daripada kamu.
Aku hanya menjaga perasaanmu… Oke?