Blindsight

Blindsight
Pembicaraan yang Penting



Sudut pandang Fakeehah


Aku sekarang sedang duduk berhadapan dengan seorang master peringkat 10 besar di dunia.


Sebelumnya aku hanya mendengar rumor saja tentangnya, kata orang-orang dia gagah, sangat kuat, dan berkarisma.


Ternyata rumor tersebut benar adanya. Rambut panjangnya yang berwarna cokelat sangat indah, janggutnya yang tajam namun terkesan bijak, dan matanya sehijau dedaunan yang asri sedang menatapku sekarang.


Sang master memakai jas launs dengan style berwarna hitam, terlihat matching karena menambah kesan kuat padanya.


"Kudengar sewaktu muda ia sangatlah tampan. Banyak para gadis yang rela memohon demi menjadi istrinya."


"Meskipun tahun ini ia memasuki usia 61 tahun, karismanya masih belum pudar sama sekali."


"Aku benar-benar beruntung! Bahkan orang lain belum tentu bisa bertemu dengannya sekali seumur hidup."


Apalagi duduk berhadapan dengannya, apakah ini mimpi?


Kalau iya, jangan bangunkan aku sekarang!


"Nona? Ehem.."


Tuan Mahajana menyadarkanku dari lamunanku yang sedang kegirangan karena bertemu dengannya.


"Sebelumnya, saya ingin berterima kasih karena Nona dapat mengetahui berbagai macam rumor tentang saya dan saya baru tahu adanya rumor seperti itu tentang saya. Walaupun suara Nona terlampau kecil untuk saya dengar, tapi informasi tersebut cukup membuat saya merasa senang dan segar kembali."


Wahh.. Ternyata kedengaran ya.. Padahal kukira aku sedang bergumam.


Aku merasa sangat malu. Saking malunya, aku ingin bersembunyi di lubang tikus sekarang juga.


"Maafkan saya karena tadi sudah tidak sopan, Tuan Mahajana Yang Terhormat. Tuan boleh menghukum saya sekarang juga karena saya sudah bersikap lancang."


Aku baru saja mau menundukkan badan, tetapi Tuan Mahajana mengangkat tangannya.


Tuan Mahajana tertawa singkat lalu memegang janggutnya.


"Tidak apa-apa, Nona. Saya sama sekali tidak merasa itu adalah perbuatan yang lancang, malahan perkataan Nona membuat saya menjadi lebih muda kembali. Memang masa muda adalah masa yang terindah, seandainya saya bisa kembali ke masa-masa kejayaan dulu."


Tuan Mahajana benar-benar seperti malaikat! Dia memaafkanku padahal aku memang salah barusan.


Tuan Mahajana juga sangat rendah hati. Padahal dia juga masih berjaya sekarang, tapi dia tidak menyombongkannya sama sekali.


Ya Tuhan.. Sisakanlah 1 pria yang seperti Tuan Mahajana untukku.


"Ah, di mana sopan santunku? Saya bahkan belum membuatkan secangkir teh setelah anda berkunjung kemari. Saya akan membuatkannya dengan cepat lalu kita bisa memulai obrolannya. Mohon tunggu sebentar ya, Tuan."


Saat aku akan menuju ke dapur, seorang anak kecil tiba-tiba berbicara.


"Gulinear tidak dibuatkan teh juga?"


Saking kagumnya pada Tuan Mahajana, aku sampai tidak menyadari keberadaan anak ini dari tadi.


"Tentu saja aku juga akan membuatkan teh untukmu, sayang. Aku akan membawa beberapa kue juga."


Wajahnya tampak cemberut seperti tidak puas dengan perlakuanku.


"Gulinear tidak mau teh, Gulinear maunya susu! Gulinear mau susu rasa vanilla! Kuenya juga yang banyak, ya. Kalau tidak, Gulinear akan benar-benar marah!"


Sebelum aku mengatakan sesuatu, Tuan Mahajana menyela.


"Kurasa Laalit tidak akan mau berteman denganmu sekarang."


Hah, Laalit? Apakah mereka sudah menemukan anak itu?


"A-apa?! Benarkah begitu? Kenapa??"


Gadis itu tampak cemas dan memain-mainkan rambutnya secara bergantian.


"Entahlah, tapi kurasa Nona yang di sana sudah tahu jawabannya.."


Gadis itu langsung melirik kepadaku dan menunggu jawabanku.


Dengan secepat kilat, aku langsung menuju ke dapur karena tidak ingin membuat gadis itu menjadi semakin marah padaku.


.......


.......


.......


Tuan Mahajana menyerahkan suatu berkas padaku.


"Apakah anak ini memang benar adik angkat Nona?"


Aku mengambil berkas tersebut lalu mencoba membacanya.


Di bagian paling bawah berkas tersebut, terdapat wajah Laalit dan tanda tanganku.


Kurasa Tuan Mahajana mendapatkan berkas ini dari pengadilan.


"Iya, dia adalah adik angkat saya. Seminggu yang lalu, saya menemukannya di sebuah panti asuhan. Saya lalu mengajukan surat permohonan ke pengadilan. Setelah itu, saya membawa Laalit kemari."


Tuan Mahajana lalu merespon,


"Apakah kamu tahu siapa orang tuanya kandungnya?"


Ada apa ini, kenapa Tuan Mahajana mencari tahu tentang orang tua Laalit?


Apakah dia telah membuat kekacauan hingga membuat Tuan Mahajuna turun tangan dan mencarinya langsung kemari?


"Maaf Tuan, tapi saya sama sekali tidak diberitahu informasi tentang orang tua Laalit oleh panti asuhan tempatnya ditampung"


Tuan Mahajana hanya merespon dengan menyeduh tehnya kembali.


"Tuan Mahajana Yang Terhormat, maaf kalau saya terdengar lancang, tetapi apakah Laalit sudah membuat kekacauan sehingga anda mencarinya langsung untuk turun tangan?"


"LAALITKU TIDAK AKAN MEMBUAT KEKACAUAN! DIA BENAR-BENAR KEREN! Dia.. dia juga teman pertama Gulinear!"


Gadis di sebelah Tuan Mahajuna tiba-tiba berteriak sehingga membuatku sangat terkejut.


Tidak kusangka ternyata Laalit sudah menggoda gadis ini.


Sebagai anak berumur 11 tahun, dia mendapat tangkapan yang sangat bagus.


Kalau dilihat-lihat, meskipun sifat gadis ini sangatlah egois dan kekanakan, tetapi dia cukup manis dan serasi dengan Laalit.


Rambut yang berwarna merah berkilau dengan mata sebiru lautan, bibir mungil yang cerah, dan kulit putih yang bersih.


Dia mengenakan setelan yang feminim, sangat sesuai dengan dirinya!


"Gulinear, Nona ini adalah Kakak Laalit. Kalau kamu bersikap tidak sopan pada Kakaknya, Laalit akan kecewa dan menjauhimu dan teman pertamamu akan menghilang. Kamu tidak ingin hal seperti itu terjadi, kan?"


Ah, manisnya. Ternyata namanya Gulinear..


"Huaaa.. TIDAK MAU! Gulinear minta maaf Kakak. Gulinear minta maaf karena sudah teriak-teriak kayak gitu barusan."


Gulinear menangis sangat kuat, aku kemudian mencoba menenangkannya.


"Sudah, sudah.. Jangan menangis ya, Kakak tidak apa-apa, kok. Laalit juga tidak akan menjauhimu, oke?"


Tangisannya perlahan mereda. Gulinear yang imut kemudian memelukku kuat-kuat.


Aku mengelus-elus rambutnya dan membalas pelukannya.


"Duh, memangnya kamu sudah bertemu dengan anak itu?"


Gulinear menanggapi pertanyaanku dengan penuh semangat,


"SUDAAAHH! Kami bertemu di tempat pelatihan. Meskipun Gulinear masih kecil, Gulinear sudah terlatih menggunakan busur panah! Gulinear menunjukkan cara memegang busur panah kepada Laalit dan Laalit sangat kagum pada Gulinear! Laalit bilang kalau Gulinear master!"


Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi anak itu saat mengatakan 'master' padanya.


Badan anak ini mungil sekali, dia tampak lucu saat aku melihatnya dari sini.


Tuan Mahajana kemudiaan mengatakan sesuatu,


"Laalit sama sekali tidak membuat kekacauan, dia anak yang sangat tenang. Hanya saja, saya merasakan 'Sesuatu yang berbeda' darinya.."


Mimik wajahku yang awalnya rileks perlahan menjadi tegang.


"Maaf, Tuan. Saya kurang mengerti dengan perkataan Anda, 'Sesuatu yang berbeda'?


Mata Tuan Mahajana menatapku lekat-lekat. Rasanya benar-benar menegangkan, karena seseorang yang kedudukannya sangat penting sekarang sedang menatapku dengan serius.