
Di sini tampak gelap… Kenapa tubuhku rasanya sakit sekali?
"Benarkah?"
"Tentu, Nona. Adik anda sebentar lagi akan bangun, jadi tenangkan diri anda."
Suara apa… Itu?
"Terima kasih banyak, tabib…"
Sepertinya aku mendengar 'Tabib'?
Tabib?! Siapa… yang… sakit?
Apa ada suatu kecelakaan? Atau memang cuma sakit biasa?
Tadi terdengar seperti suara wanita, tapi sepertinya aku kenal dengan suara tersebut…
Siapa… ya…? Siapa… itu…
Aku berusaha membuka mulutku, tapi tidak bisa. Kepalaku terasa sangat sakit dan pusing, perutku rasanya tidak enak.
Aku ingin… muntah. Sayangnya, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku.
Tubuhku terasa… Berat… Sekali…
Kaki, bergeraklah… Huft, kenapa… sulit sekali?
Se-sepertinya bisa, sepertinya aku bisa menggerakkan kakiku sedikit!
Ini… sulit sekali. Kakiku hanya bergerak sedikit. Kalau begitu,
Tangan! Bergeraklah sedikit, kumohon… Ayo, Hufftt…
Tanganku… Yah, aku bisa menggeser tanganku! Sekarang tubuh!
Tubuh, bergeraklah sedikit! Ayo, bergerak!
Kenapa sulit sekali, sih? Apa aku 'ketindihan' ya? Biasanya kan kalau tubuh tidak bisa bergerak saat bangun tidur, berarti 'ketindihan'.
Aku harus apa, ya… Mau bicara juga tidak bisa, mau bergerak juga rasanya sangat berat.
Ya sudahlah, diam saja. Mungkin sebentar lagi aku sudah bisa bergerak.
Di sini kenapa masih gelap juga? Aku kan jadi tidak bisa melihat…
Siapapun, hidupkan lampu atau sesuatu agar ruangan ini menjadi terang!
*KRIET*
Aku mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat kemari.
"Wah, Adikku sudah bangun rupanya! Apa tidurmu nyenyak?"
Aku? Adik? Aku kan tidak punya Kakak…
"Hei, kamu dengar aku?"
Aku dengar kok, cuma aku gak bisa ngapa-ngapain sekarang.
Kepalaku tiba-tiba diangkat lalu seperti dipangku. Seseorang yang memanggilku 'adik' lalu membelai rambutku.
"Kenapa tidak ada jawaban, ya? Padahal matanya terbuka begini... Apa adikku tidur sambil membuka mata?"
Aku sudah bangun, kok. Dan aku bukan adikmu.
Lalu orang aneh ini seperti mengarahkan jarinya ke dekat hidungku.
"Masih bernapas, kok. Apa aku perlu menyuruh tabibnya untuk kembali lagi kesini? Ini… agak mengkhawatirkan."
Kenapa tabibnya harus kembali ke sini? Apa kamu mengkhawatirkanku, orang aneh?
Aku berterima kasih kalau begitu, tapi tabibnya tidak perlu kembali lagi ke sini.
Ketindihan hanya berlangsung selama beberapa detik atau beberapa menit, setelah itu tubuhku bisa bergerak lagi.
Kurasa ini sudah lewat 2 menit, tapi kenapa aku belum bisa bergerak juga?
Kita tunggu beberapa menit lagi, setelah itu tubuhku pasti sudah bisa bergerak.
Ughh… Orang aneh, dia memegang-megang pipiku! Aku harus menghentikannya!
Tangan, ayo bergerak! Jangan biarkan orang aneh ini melukaimu!
Orang ini, sekarang dia mencubit pipiku… Aku benar-benar harus menghentikannya.
Tangan ini, tangan ini tidak mau diajak kompromi rupanya!
Tunggu sebentar, aroma ini… Tangannya seperti aroma…
Aroma Kakak! Pasti ini Kakak! Aroma seperti bunga-bungaan ini memang aroma Kakak.
Maaf karena sudah mengiramu orang aneh, Kakak. Sungguh, pendengaranku kurang baik sekarang.
Pasti pendengaranku bermasalah karena tidak bisa menandai suara Kakak.
Aku juga tidak bisa merasakan kehadiran Kakak, sepertinya keadaan tubuhku juga tidak terlalu baik.
Tapi, kok tadi aku lupa pada Kakak? Ingatanku… Ada apa ini?
Aku harus mencari tahu kenapa ini bisa terjadi. Apa Nenek itu memang melakukan sesuatu pada tubuhku?
Kemarin Nenek menyalurkan sesuatu ke dalam tubuhku tetapi rasanya tubuhku seperti akan terkoyak.
Aku harus secepatnya menemui Nenek lalu menanyakan soal ini.
Kakak tadi sepertinya memanggil tabib untuk datang kemari. Siapa yang sakit?
Kakak bisa berjalan kemari dan memangku kepalaku. Sepertinya bukan Kakak yang sakit, syukurlah…
Pasti Aamod. Kukira dia cuma usil, ternyata sekarang dia juga merepotkan Kakak, ya!
"Ada apa?"
Itu suara Aamod! Untuk apa dia kemari, harusnya kan dia beristirahat agar segera sembuh.
Kakak perlahan meletakkan kepalaku pada bantal lalu menjauh dariku.
"Tenanglah, mungkin dia tidur dengan mata terbuka."
"A-apa biasanya memang begitu? Apa biasanya Laalit memang tertidur dengan mata terbuka?"
"…"
"Ke-kenapa diam saja?!"
"…"
"Jawab! Jawab aku!"
"…"
"Kubilang jawab! Kumohon, kumohon…"
"Maaf…"
"Kenapa bisa seperti ini, sebenarnya apa yang terjadi? Hu… hu… hu… Hiks… Hiks…"
"…"
"Dokter bilang kalau dia tidak apa-apa, tapi kenapa sampai sekarang belum sadar juga?! Adikku, adikku sebenarnya kenapa?"
"…"
"Saat latihan, apa yang sebenarnya terjadi? Katakan yang sebenarnya! Jawab aku!"
"…"
"Lepaskan aku! Lepaskan! Lepas-"
"Menangislah, menangislah agar perasaanmu sedikit lega. Tidak apa-apa…"
"Hu… hu… hu…!"
"…"
"Hu… huhu…"
"…"
Jadi… aku sakit? Apa karena ini, tubuhku tidak bisa digerakkan sama sekali?
Kemarin…
Coba kita ingat-ingat kejadian kemarin. Aku pulang dengan menunggang kuda bersama Aamod. Lalu-
Tu-Tubuhku! Rasanya sangat panas! Rasanya sangat sakit!
Ughh! SA-SAKIT!
"AAARGHHH!"
Kenapa tubuhku seperti ini?!
Ke-kemarin… Apa kemarin aku tidak sadarkan diri lalu tertidur karena rasa sakit ini?
Iya, sepertinya memang begitu. Kemarin aku merasakan rasa sakit ini lagi, lalu berteriak dan tidak sadarkan diri saat jarak tempuh perjalanannya sudah dekat dengan rumah Kakak.
"Huft… Huft…"
Aku memegangi kerah bajuku. Air mata perlahan mengalir mencapai pipiku.
"Laalit! Adikku!"
Ada seseorang lagi yang mendekat padaku.
"Laalit, kau tidak apa-apa?"
Aku mencoba membuka mulutku untuk berbicara, tapi rasanya benar-benar berat.
"A…ku… Tidak… ta… hu…"
Kakak menarikku hingga kepelukkannya sambil mengelus punggungku.
"Syukurlah kamu sudah bangun. Kakak… sangat khawatir pada Laalit."
Kakak kemudian memberikan sesuatu padaku.
"Ini, minuman herbal untuk memperkuat daya tahan tubuh. Minumlah secara perlahan, mungkin ini akan membuat keadaanmu menjadi membaik."
Aku menerima 'sesuatu' tersebut yang ternyata adalah sebuah gelas berisi minuman herbal.
Aku kemudian minum perlahan seperti yang dianjurkan Kakak.
Tapi, kalau bisa aku tak mau minum ini. Ini sangat pahit…
Aku hanya minum sedikit lalu memberikan gelasnya pada Kakak.
"Sedikit sekali minumnya. Ayo, minum lagi agar keadaanmu cepat membaik."
Kakak memberikan gelasnya lagi padaku. Aku terpaksa menerimanya kembali.
Aku meminumnya sampai habis agar Kakak senang.
"Nah, begitu dong! Kakak bangga punya adik sepertimu, ada keinginan untuk sembuh. Ayo, buka mulutmu! Aaa."
Kakak mau menyuapiku, ya? Tapi aku benar-benar tidak berselera makan sekarang.
Aku menggelengkan kepalaku dengan pelan.
"Makan sedikit saja, yuk. Mau sembuh, kan?"
Dengan susah payah, perlahan aku membuka mulutku walaupun tidak berselera.
"Hmm, enak! Ini sop daging kesukaanmu, lho. Daging sapinya sengaja Kakak buat banyak agar Laalit berselera untuk makan. Ayo, buka mulutnya lagi."
Aku menurut dan membuka mulutku dengan susah payah.
Kakak kok tahu kalau aku suka sop daging?
Padahal kan, aku tidak pernah bilang…