Blindsight

Blindsight
Permasalahan Baru



"Hasilnya… Aku minta maaf karena aku belum bisa memberitahu hasilnya padamu. Aku akan membicarakan hal ini kepada Tuan Mahajana Yang Agung. Setelah kami sepakat, aku akan mengatakannya padamu."


"Haaahhh…"


Perkataan orang itu membuatku kepikiran terus dari kemarin…


Yang paling membuatku kesal adalah… Orang itu malah dengan sengaja tidak memberitahukan hasilnya padaku…


Aku benar-benar penasaran dengan hasilnya, seberapa kuat kekuatanku sampai bisa menghancurkan 2 giok.


Aku ingin orang itu memberitahuku secepatnya, secara sembunyi-sembunyi pun tidak masalah untukku.


Tapi, kenapa dia perlu membicarakannya secara pribadi kepada Tuan Mahajana?


Apa ada yang salah tentang kekuatanku?


Jangan-jangan… Ini ada hubungannya dengan kekuatan yang diturunkan oleh Neneknya Gulinear?


Apa… Kekuatan yang diturunkan oleh Neneknya Gulinear adalah kekuatan ganas yang tidak bisa ditangani oleh tubuhku?


Apa aku akan mati?


Tidak… jangan sampai begitu!


Aku baru menikmati hidupku selama beberapa bulan dan aku akan… Mati?!


Mengenaskan sekali hidupku…


Pasti ada jalan keluarnya, cara supaya aku tidak mati karena kekuatan ini!


Tuan Mahajana kan kuat. Orang kuat pasti bisa mengatasi hal sepele macam ini.


Tunggu, lagipula tidak ada satupun orang yang mengatakan bahwa aku akan mati karena kekuatan ganas ini…


Aku sendiri yang terlalu berpikiran jauh…


Hentikan pemikiran negatif yang tidak berguna ini, Laalit. Lebih baik, aku memikirkan hal lain saja.


Aku menarik udara melalui hidungku, kemudian menghembuskannya dengan kasar.


"Haaahhh…"


Dari kemarin sampai hari ini, Gulinear juga masih bersikap dingin padaku.


Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menyikapinya.


Maksudku, aku tahu aku salah. Tapi, bukankah aku sudah mengambil tindakan yang benar, mengakui kesalahanku pada Gulinear?


Hal yang kulakukan pertama kali adalah meminta maaf.


Setelah itu, aku mengatakan alasannya dengan lengkap dan jujur, aku tidak menambahkan hiasan apapun agar Gulinear mempercayai alasanku.


Aku menolak untuk menunjukkan kekuatanku agar tubuh ini tidak terbebani.


Kurasa penjelasanku seharusnya sudah cukup dapat diterima. Memangnya aku harus apa lagi?


Kan tidak mungkin aku menuruti keinginan Gulinear dan membuat diriku sendiri menderita. Itu terlalu beresiko…


Lagi-lagi, tanpa sadar, aku memasukkan udara yang cukup banyak ke hidungku, lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Haaahhh…"


Sudahlah, aku jadi tidak bisa menikmati makanan ini…


Menu makan malam hari ini adalah…


Udang goreng asam gurih dengan telur ceplok balado.


Rasanya cukup enak, tapi… entah mengapa lidahku tidak ingin makanan ini memasuki bagian dalam tubuhku.


Sial, padahal aku belum pernah makan makanan mewah seperti ini, tapi aku malah tidak terlalu menikmati makanan ini, makanan yang tidak pernah kumakan seumur hidupku.


Biasanya aku makan dengan lahap, tapi hari ini makan sesuap lauk saja rasanya sangat berat.


Padahal aku bukan anak yang pemilih dalam makanan…


Nafsu makanku benar-benar terjun bebas ke bawah…


Ini gara-gara banyak permasalahan yang langsung tumpang tindih menimpa diriku.


Hasil dari pengujian kekuatan yang masih dirahasiakan dan Gulinear yang masih menjaga jarak dariku…


Ah, iya! Kami bahkan belum merayakan kebangkitan Gulinear.


Belum ada waktu yang tepat, ya…


2 hari yang lalu, Gulinear masih terbaring lemah dan belum sadarkan diri.


Untung Jaleed tidak memarahi Kakak pelayan yang mengurus Gulinear.


Gulinear yang belum sadarkan diri kan, bukan salah Kakak pelayan, bukan salah Gulinear juga.


Tidak ada yang bersalah karena kebangkitan kekuatan merupakan reaksi alami dalam tubuh sehingga tidak bisa direncanakan, termasuk kapan si pemilik tubuh akan siuman.


Aku merasa lega karena kemarin Gulinear sudah sadarkan diri. Tubuhnya juga sudah pulih karena bisa bermain petak umpet, bahkan sudah bisa tertawa dan marah.


Kemarin, ya…


Kemarin juga, kami belum sempat merayakannya karena Gulinear terkejut dengan kebangkitanku yang lebih awal darinya.


Setelah itu, Jaleed langsung membawaku ke tempat pengujian dan kekuatanku telah diukur di dalam sana.


Selesai diukur, kami keluar ruangan dan menuju ke ruangan masing-masing.


Aku kembali ke kamar dan melempar tubuhku ke kasur, tanpa sadar tidur terlelap hingga aku terbangun hari ini, tepatnya saat sudah sore hari.


Mungkinkah ini efek samping dari mengeluarkan kekuatan meskipun sedikit?


Aku tidak boleh gegabah. Lain kali, aku harus bisa menahan diri agar tidak menggunakan kekuatanku walaupun hanya segelintir.


Aku menancapkan garpuku pada telur, memasukkan irisan telur ke seluruh mulutku.


"Huft… Nyam… Nyam…"


Oke, jadi permasalahan yang sedang kualami sekarang adalah…


• Hubunganku yang renggang dengan Gulinear karena tidak memberitahukan mengenai kebangkitanku,


Yang itu, aku sudah berusaha untuk membujuknya, tapi percuma.


Mungkin Gulinear sedang butuh waktu sendiri. Aku hanya perlu menunggu sampai perasaan kecewanya perlahan mereda dan berubah menjadi ceria seperti biasanya.


• Hasil dari tingkat kekuatanku yang masih dirahasiakan juga cukup menggangguku sampai detik ini,


Masalah yang ini akan terselesaikan begitu hasilnya sudah keluar.


Aku hanya perlu bersabar saja. Bersabarlah sampai waktunya tiba, Laalit.


Hmm…


Dalam sehari, sudah ada 2 masalah yang muncul secara bersamaan…


Sebenarnya, kalau dihitung dari sebulan ini, masalahku sudah cukup berat untuk anak yang masih berusia 11 tahun.


• Termasuk pada kekuatan yang Neneknya Gulinear berikan padaku.


Kekuatan ini nakal dan sulit jinak, berusaha merobek inti kekuatanku dari dalam.


Dari perkataan Tuan Mahajana, kasus yang ku alami ini termasuk langka.


Bahkan Gulinear, Jaleed, dan Kamaniai. Mereka bertiga tidak akan pernah mengalami rasa sakit ini karena tubuh mereka bisa beradaptasi lebih baik daripada tubuhku.


Hanya segelintir orang yang merasakan inti kekuatan yang sakitnya luar biasa, karena tubuh manusia itu umumnya fleksibel, bisa menyesuaikan diri dengan kekuatan yang ada di dalam tubuh.


Namun, tubuhku tidak bisa karena kekuatanku meningkat tajam secara mendadak, sehingga tubuh tidak berkesempatan untuk menyesuaikan diri dalam kurun waktu yang tidak sebentar.


Tentu saja ini membuat diriku kesakitan setiap harinya.


Kekuatan besar yang terus menerus memberontak tanpa henti, bahkan saat tidur pun aku sampai terbangun hanya karena kekuatan yang belum bisa dijinakkan.


Permasalahan yang ini, aku tidak tahu kapan selesainya.


Semua itu bergantung pada seberapa cepat tubuhku bisa menyesuaikan diri dengan kekuatan ini.


Dan permasalahan terakhir yang ku alami sekarang adalah…


• Berpisah dengan Kakak.


Kami baru bersama-sama selama beberapa minggu, tapi kami sudah harus berpisah seperti ini.


Seandainya aku menolak menjadi murid Tuan Mahajana, pasti aku sedang bersenang-senang dengan Kakak sekarang.


Apa keputusanku ini sudah benar?


Benar atau tidaknya, tidak perlu lagi dipikirkan saat ini.


Sudah sangat terlambat untuk memikirkan hal itu. Yang penting, aku bisa menjalani hari-hari di sini dengan baik.


Bagaimana kabar Kakak di sana?


Kuharap Kakak baik-baik saja karena ada sepupunya Aamod yang menemani.


Kakak…


Aku… sangat merindukanmu…


Aku harus bagaimana?


Kenapa aku merasa berat di sini… Padahal ini pilihanku, aku yang mengambil keputusan untuk menetap di sini.


Tapi, masalah terus bermunculan. Perbedaan kekuatan, sikap orang lain yang cukup mengejutkan bagiku…


Aku takut tidak bisa menyesuaikan diri dengan benar di sini…


Aku…


"Laalit, kamu… kenapa?"


Kamaniai?


Kenapa tiba-tiba mengajakku bicara?


"Aku tidak kenapa-kenapa. Memangnya aku kenapa-"


Apa itu…


Aku merasakan ada sesuatu yang muncul dari atas sana.


Sepertinya akan ada sesuatu yang keluar…


*JTAAARRR*


"AGGHHH!"


Telingaku…


Suaranya kuat sekali…