Blindsight

Blindsight
Namaku Fakeehah



Cirp.. cirp.. cuit.. 🐦


Aku mendengar suara burung, mungkin mereka sedang bersarang di pepohonan sekarang. Tunggu, memangnya pohon itu seperti apa? Aku bahkan tidak tahu burung itu seperti apa.


Berbicara soal burung, kenapa aku tahu kalau burung bersarang di pepohonan? Sebentar, sebenarnya aku sedang apa?


Aku lalu bangkit dari tempat tidur, kepalaku berdenyut dan aku merasakan rasa sakit yang luar biasa. Disini juga tampak gelap, tetapi cuacanya sejuk. Bahkan aku tidak merasakan panas matahari mengenai kulitku.


"Ah, kamu sudah bangun ya.."


Aku mendengar suara wanita. Emosiku memuncak sejenak. Kenapa aku merasakan emosi seperti itu?


Sepertinya dia mendekat lalu duduk di sampingku.


"Bagaimana keadaanmu setelah perjalanan kemarin? Kurasa kamu tampak sangat lelah sampai tertidur di perjalanan. Apa sekarang sudah lebih baik?"


Aku tidak tahu apa yang sedang wanita ini bicarakan. Perjalanan? Aku bahkan tak tahu mengapa aku disini.


"Hey, kamu mau mendiamkanku terus sampai kapan? Aku tahu kamu pendiam, tapi berbicara sedikit kan tidak apa-apa."


Aku agak ragu sebelum menjawabnya,


"Aku baik-baik saja, Nyonya. Terima kasih karena sudah peduli dengan keadaanku."


"Fiuh, syukurlah. Aku khawatir karena kamu tidak pernah berkata apapun semenjak pertemuan pertama kita."


Apakah aku memang sependiam itu? Anehnya, aku tidak tahu apapun tentang itu.


Aku mencoba untuk mengingat kejadian kemarin, lalu mencoba mengingat kejadian beberapa Minggu yang lalu, tapi nihil.


Wanita itu tiba-tiba mendekat dan mengelus rambutku, aku agak kaget tapi ini juga terasa nyaman. Lalu, aku sedikit menjauh karena merasa malu.


Kemudian, aku teringat ingin menanyakan sesuatu padanya.


"Uhm, Nyonya, bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Tentu, sayangku. Bertanyalah apapun yang ingin kamu ketahui."


Entah kenapa aku agak takut menanyakan hal ini, tapi kemudian aku memberanikan diri.


"Apakah disini selalu gelap seperti ini?"


Kurasa wanita itu kaget, lalu buru-buru membuka sesuatu.


"Hahaha, astaga, aku benar-benar lupa untuk membuka tirai dan jendela. Harusnya kamu bilang dari tadi."


Wanita itu bilang dia sudah membukanya, tapi meskipun begitu, hanya kegelapan saja yang kulihat.


"Maafkan aku, tapi apakah Nyonya sudah membuka tirai ataupun jendelanya?"


"Ini sudah kubuka kok dua-duanya. Pagi yang cerah ya, udaranya benar-benar sejuk.


Tapi, kenapa kamu menanyakan hal itu? Kamu seperti tidak bisa melihat saja.."


TERKEJUT, itulah yang kurasakan sekarang


Apa aku tidak bisa melihat?


Tunggu sebentar, mungkin saja wanita ini sedang bercanda denganku. Mungkin saja dia belum membuka tirai dan jendelanya. Tentu saja, pasti begitu.


"Nyonya, tolong jangan bercanda seperti ini. Ruangan ini masih gelap. Bisakah nyonya buka tirai dan jendelanya sekarang?"


"Aku sudah membukanya kok, kemari dan lihatlah. Mungkin dari sana tidak kelihatan."


Entah kenapa kakiku berjalan dan mengetahui kemana arah yang harus kutuju.


Angin yang dingin, udara yang segar, ini pasti masih sekitar jam 7 pagi. Kurasa wanita itu ada disebelahku, menikmati udara sejuk juga.


Samar-samar aku melihat cahaya.


Tapi sungguh, yang kulihat hanyalah cahaya. Aku tidak melihat jendela ataupun yang lainnya.


Sepertinya aku memang buta..


Kenapa Nyonya tidak tahu bahwa aku buta?


Apakah aku tampak seperti orang biasa yang tidak buta?


Apakah sebelumnya aku menyembunyikan tentang ini?


Tapi, kalau aku menyembunyikannya, harusnya kan segera ketahuan. Orang buta kan menutup mata dan..


Menutup mata?!


Aku kemudian meraba mata kananku. Lalu buru-buru meraba mata kiriku juga. I-ini..


Kenapa mataku terbuka?


Setahuku, mata orang buta itu sensitif pada cahaya. Namanya kebutaan legal, orang dengan kebutaan legal sangat sensitif terhadap cahaya. Sedikit saja cahaya dapat menyebabkan nyeri pada mata.


Biasanya orang buta menutup mata mereka semenjak kecil, karena walaupun orang buta membuka mata, tidak ada apapun yang bisa dilihat.


Kurasa mereka juga bisa lebih berkonsentrasi saat menutup mata, maksudku, penglihatan mereka akan meningkat saat mata mereka tertutup.


Ah, itu hanya berlaku untuk orang yang mengalami kebutaan legal. Kebutaan legal itu orang buta yang bisa melihat, tetapi hanya sekitar 20-


Sebentar, mengapa aku mengetahui hal ini?


Aku tidak dapat mengingat mengapa berada disini, tapi aku dapat mengetahui hal-hal yang tidak berguna seperti tadi.


"Huft.. Sialan."


"Ka-kamu tadi bilang apa? Sialan? Tidak kusangka kamu ternyata bisa berkata kasar.."


Aku mendiamkannya karena tidak tahu harus merespon apa.


"Dasar, kamu mendiamkanku lagi!.."


Aku merasakan angin semilir mencapai telingaku. Rambutku sedikit terbang karena angin.


Aku benar-benar menikmati angin yang menyejukkan ini.


Nyonya lalu menatapku.


.......


.......


.......


Astaga, ini sudah cukup lama, tapi dia masih tetap menatapku seperti melihat sekantong emas.


"Nyonya? Apa nyonya mau mengatakan sesuatu?"


"Tidak kok, aku cuma ingin melihat wajahmu yang imut itu. Kurasa saat dewasa nanti, kamu akan diperebutkan banyak wanita."


"Kurasa mereka malah akan menjauhiku.."


Nyonya tertawa agak keras, menepuk-nepuk punggungku sangat kuat.


Tawanya lalu mereda karena aku tidak ikut tertawa bersamanya.


Satu hal yang kutahu sekarang, nyonya adalah orang yang melakukan sesuatu secara mendadak, termasuk yang sekarang ini.


Nyonya menarik tanganku menuju ke ruangan lain. Sepertinya ini adalah ruang makan.


Harum makanan, ini jadi membuatku lapar.


Aku duduk dan mengambil sendok dari tempatnya.


Saat aku baru membuka mulutku dan memakan makanannya, Nyonya lagi-lagi melakukan hal yang mendadak.


"Bagaimana? Apakah enak? Ini pertama kalinya kamu makan masakan yang kubuat, kan. Ayo, katakan sesuatu!"


Aku berpikir sebentar sebelum menjawabnya,


"Ini cukup enak, Nyonya. Garamnya pas, tapi bumbunya kurang merata dibagian ayamnya. Kurasa itu saja.."


Nyonya tampak cukup senang dan melanjutkan makan. Kami lalu berbincang-bincang singkat.


"Kenapa kamu memanggilku Nyonya dari tadi? Apakah aku setua itu?"


"Bukankah memang begitu?"


"TENTU SAJA TIDAK!"


Nyonya berteriak, saking kagetnya aku sampai tersedak. Aku buru-buru minum beberapa tegukan.


"Memangnya Nyonya umur berapa?"


Tampaknya Nyonya semakin marah..


"Berhenti memanggilku 'Nyonya'! Aku masih 19 tahun. Oh iya, aku sepertinya belum memperkenalkan diri.


Namaku Fakeehah, kamu boleh memanggil Kakak atau menyebutku Fakee. Salam kenal, Laalit."


Kak Fakeehah menjulurkan tangannya.


"Baiklah Kakak, salam kenal juga. Nama Kakak cukup mencerminkan diri Kakak, yah kurasa.."


'Fakeehah' bermakna anak perempuan yang ceria.


Aku balas menjabat tangannya.


Jadi namaku adalah.. 'Laalit'? Nama yang aneh, siapa yang memberiku nama seperti itu..


Aku lalu melanjutkan makanku.


.......


.......


.......


Aku membereskan meja makan dan pergi keluar rumah untuk berkeliling.


Yang dapat kusimpulkan sampai sekarang adalah,


1) Sepertinya aku hilang ingatan,


2) Aku buta total,


3) Kak Fakeehah hidup sendirian sebelum aku dibawa kemari,


3) Kak Fakeehah yang mengurusku secara sukarela.


Saat sedang mencuci piring, Kakak menceritakan bahwa ia membawaku dari panti asuhan.


Dia bilang bahwa aku anak yang sangat tertutup dan tidak mau berbicara dengan siapapun hingga semua orang menghindariku karena menganggapku aneh.


"Setidaknya, kamu tidak semurung itu sekarang. Aku cukup lega.."