
Sudut pandang Laalit
"Wah!"
Sepertinya aku mendengar suatu suara bagusan.
"Wow! Itu sangat keren!"
Aku perlahan membuka mataku dan tidak melihat apapun sekarang.
Di sini sangat gelap…
"Besar sekali!"
Suara ini padahal tepat di atasku, tapi aku tidak melihat seseorang atau apapun di atas sini.
Omong-omong…
Apanya yang 'besar'? Aku padahal tidak melihat apapun dari tadi.
Oh iya, aku kan buta. Bisa-bisanya aku melupakan hal remeh seperti itu…
Aku kemudian merasakan sesuatu yang agak empuk di bawah kepalaku.
Apa ini? Permukaannya empuk dan kecil, tetapi sepertinya bukan bantal.
Karena penasaran, aku kemudian menyentuhnya.
"Kya!"
Seseorang menjerit! Tapi, sepertinya aku pernah mendengar suara ini sebelumnya.
Kenapa dia menjerit? Apa ada sesuatu yang menempel di bajunya?
Entahlah, hal itu tidaklah penting sekarang. Aku harus mengetahui benda apakah yang berada di belakang kepalaku barusan.
Aku kemudian menyentuhnya lagi. Semakin lama, permukaannya semakin mengecil.
"KYA!"
*BUK*
"Aduh!"
Kepalaku sakit sekali… Tapi pukulan yang khas ini…
Ini… Ini pukulannya Gulinear…
"Gulinear? Ada apa?"
Hawa Gulinear terasa marah sekaligus malu, mungkin dia sedang sakit.
"APA MAKSUDNYA 'ADA APA'?! YANG LAALIT LAKUKAN BARUSAN ITU SANGAT TIDAK SOPAN!"
Memangnya aku melakukan apa sampai Gulinear mengatakan bahwa aku 'tidak sopan'?
Kurasa dia memang sedang demam sekarang…
"HUA… HIKS… HIKS… TUAN! LAALIT… HIKS… LAALIT NAKAL…!"
*BUK*
Gulinear berlari dengan cepat sementara kepalaku langsung terbentur dengan sesuatu yang agak keras.
Tunggu… Kenapa…
Kenapa kepalaku rasanya langsung terjatuh saat dia bangkit?
Aku kemudian meraba sesuatu yang agak keras itu, ternyata sekarang aku sedang tiduran di kursi kayu.
Aku kemudian meraba lagi, ternyata kursi ini mempunyai sandaran, letaknya di samping kiriku.
Aku meraba hingga ke ujung kursi, ternyata tempat duduknya tidak seluas bayanganku.
Kalau dikira-kira, mungkin panjang kursi ini hanya sepanjang badanku yang sedang tiduran saat ini, tetapi masih terdapat sedikit ruang yang tersisa untuk duduk.
Kalau kuraba ruang yang tersisa itu, sepertinya Gulinear tidak akan bisa duduk karena ruangan yang tersisa sangat kecil.
Tapi, bagaimana dia bisa bangkit seolah-olah baru saja duduk di kursi ini?
Apa dia duduk di kursi yang lain? Tapi, aku tidak merasakan benda apapun di dekat sini. Berarti Gulinear memang duduk di sini barusan.
Hmm… Bagaimana caranya untuk duduk di kursi ini? Ruangannya saja kecil begini… Walaupun tubuhnya memang mungil, tapi dia tetap tidak akan bisa duduk di sini.
Sisa ruangan yang terdapat di kursi ini hanya bisa menampung sebagian badan Gulinear.
Dia bisa duduk di sini kalau…
Kalau dia menggeser kepalaku sedikit, posisi kakiku sekarang pasti akan terangkat kemudian menggantung di tangan kursi.
Tapi sejak bangun tadi, posisi kakiku hanya lurus saja, tidak menggantung sama sekali.
Atau posisi kakiku mungkin akan berada di bawah tangan kursi sehingga posisi kakiku akan sedikit menurun.
Tetapi sejak tadi, posisi kakiku sudah lurus seperti ini. Berarti bukan dua-duanya…
Kalau kepalaku bukan di geser, lalu…
Tidak mungkin Gulinear duduk di dekat kakiku. Karena saat dia bangkit tadi, kepalaku yang terjatuh, bukan kakiku.
Terjatuh itu…
Bukankah biasanya di awali dengan memegang suatu benda, lalu menjatuhkan benda tersebut.
Berarti tadi Gulinear 'memegang' kepalaku dengan telapak tangannya.
Tapi… Gulinear pernah menggenggam tanganku dan permukaannya tidak seempuk itu.
Berarti, dia bukan memegang kepalaku dengan telapak tangannya.
Ayo, pikirkan sesuatu…
Bagian tubuh Gulinear yang bisa digunakan untuk 'menopang kepalaku' saat duduk, tentu saja…
Paha!
Pasti itu pahanya! Sudah jelas!
Karena saat dia bangkit, kepalaku sedikit terangkat kemudian terjatuh secara mendadak.
Kalau kepalaku memang dipegang kemudian dijatuhkan oleh Gulinear, pasti kepalaku tidak akan terangkat dan akan langsung terjatuh.
Pasti tadi kepalaku sedang dipangku oleh Gulinear, lalu kepalaku terjatuh dengan keras karena Gulinear mengangkat kakinya dan bangkit dari duduknya secara mendadak.
Setelah itu, dia berlari dan mengatakan bahwa aku…
Aku…
Aku telah memegang…
"HUA… HIKS… HIKS… HU… HU…!"
"Apa yang telah kamu lakukan pada Gulinear?!"
Aku tertegun, ternyata Tuan Mahajana sudah duduk di sebelahku entah sejak kapan.
"HIKS! LAALIT NAKAL…!"
Aduh… Bagaimana aku akan menjelaskannya pada Tuan Mahajana…
Aku menyentuh 'itu' karena tidak tahu kalau ternyata adalah…
Sial, ini memalukan sekali. Aku… aku ingin menyembunyikan wajahku ke tempat yang tidak bisa ditemukan oleh siapapun sekarang juga.
"Ini salah paham, sungguh! A-Aku… Aku sungguh tidak sengaja! Maafkan aku, Gulinear."
Tangisan Gulinear semakin mengeras. Aku berusaha mendekatinya, tetapi dia malah berlari menjauhiku.
"Gulinear! Jangan menghindariku! Dengarkan aku dulu!"
Gulinear bersembunyi di belakang badan Tuan Mahajana.
Aku bisa mengira dia bersembunyi di belakang Tuan Mahajana karena aku merasakan aura khas yang biasanya dimiliki Tuan Mahajana, yaitu kuat dan menekan.
"Laalit, bukankah aku barusan bertanya padamu?!"
Aduh… Sepertinya Tuan Mahajana marah padaku karena aku mengacuhkan pertanyaannya barusan.
Aku… Aku rasa aku tidak akan bisa menjelaskan hal itu dengan benar.
Tapi kalau aku tidak mengatakan apapun, Tuan Mahajana pasti akan semakin marah padaku.
Walaupun ini memalukan, aku harus berusaha menjelaskannya pada Tuan Mahajana.
"A-Aku… Aku memegang…"
Kedua telingaku terasa panas, tapi seluruh wajahku terasa lebih panas daripada kedua telingaku.
"HUA! HIKS… HIKS…!"
Gulinear, tolong jangan menangis seperti itu…
A-Aku… Perbuatanku… Aku sangat menyesal karena melakukan hal itu…
Sungguh… Aku sungguh tidak sengaja melakukannya… Aku… Aku tidak tahu kalau sesuatu yang empuk tersebut… itu…
"A-Aku… Aku… Aku memegang… Pahanya…"
Tuan Mahajana akan memarahiku sekarang…
"Kenapa…"
"A-Apa?"
Saking gugupnya, aku tidak terlalu mendengar apa yang Tuan Mahajana katakan barusan…
"Kenapa… Kamu melakukannya?"
Kenapa… Aku melakukannya?
Tuan Mahajana benar-benar menanyakan hal itu padaku sekarang?
Aku masih merasakan bahwa Tuan Mahajana sedang marah sekarang, tapi Tuan Mahajana berusaha menutupi emosinya.
"Aku… Hanya penasaran…"
Ugh… Perasaan ini… Hawa Tuan Mahajana… Sangat…
Menyeramkan…
"Aku hanya penasaran karena… Itu… Saat aku terbangun… A- ada… sesuatu yang empuk seperti… bantal… Ta-Tapi… Aku menyadari itu bukan bantal… Karena permukaannya… Tidak seempuk… Bantal…"
"…"
"Ja-Jadi aku… Aku penasaran… Itu benda… A… pa…"
Tuan Mahajana… Rasanya Tuan Mahajana sedang memelototiku dengan marah sekarang…
"…"
Keringat dingin bercucuran membasahi punggungku, aku masih terdiam sambil menggenggam pergelangan tanganku.
"…Lalu?"
Aku sempat tersentak karena Tuan Mahajana mengeluarkan suaranya dengan aura yang lebih mencekam dari biasanya.
"Aku… Menyentuh benda… Tersebut… Se-Sebanyak… Dua kali…"
Auranya terasa seperti… Seorang pembunuh…
"…Lalu? Setelah itu?
Apa yang Tuan Mahajana maksud…
"A. PA. YANG. KA. MU. LA. KU. KAN. SE. LAN. JUT. NYA?!"
Sepertinya aku akan pingsan sekarang…
"Kepalaku… Kepalaku…"
Tuan Mahajana mencengkram bahuku dengan sangat kuat.
"A. PA?!"
"Ugh…! Ke-Kepalaku… Terbentur… Ke kursi… Karena… Karena Gulinear… Karena dia tiba-tiba… berlari… tanpa meletakkan kepalaku terlebih dahulu…"
Ini… Ini lebih menyeramkan daripada aura mencekam yang Tuan Mahajana pancarkan barusan.
Tuan Mahajana… Auranya tiba-tiba tidak seperti seorang pembunuh lagi.
Aura yang menyeramkan itu… Tiba-tiba… Menghilang…
"Hanya itu saja?"
Aku mengangguk dengan sangat cepat.
Tuan Mahajana kemudian melepas cengkraman bahunya secara perlahan.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?"
Hah?!
"Oh… Itu… Karena memalukan…"
Aku mengatakannya sambil setengah berbisik.
"Gulinear, Laalit ingin mengatakan sesuatu padamu."
Dengan hawa yang ketakutan, Gulinear lalu mendekatiku tetapi tetap memberi jarak padaku.
"Gulinear… Aku tahu perbuatanku yang barusan itu sangat keterlaluan… Dan aku… Aku akan memperbaiki sikapku agar tidak mengulangi hal yang sama untuk kedua kalinya. Maafkan aku, Gulinear…"
Aku lalu mengarahkan tanganku untuk bersalaman pada Gulinear.
Masih sedikit takut, Gulinear lalu menerima salaman dengan menyentuh telapak tanganku secara perlahan.
Oh, iya…
"Apa yang Tuan lakukan di sini?"
"Aku sedang mengerahkan kekuatanku. Aku menyerap energi pada kekuatanmu untuk mengurangi rasa sakit yang kau alami. Yang paling membuatku terkejut adalah, kekuatanku meningkat sebanyak 2 kali lipat setelah menyerap energinya. "
Rasa sakit…?
Sepertinya aku sudah melewatkan sesuatu…
"Aku akan mengatakan cerita lengkapnya besok. Sekarang sudah malam, sebaiknya kita masuk ke dalam penginapan dan beristirahat dengan tenang."