
"Permisi."
Kakak pelayan yang awalnya sibuk dengan hal lain, kemudian langsung menghampiriku.
"Maaf karena aku tidak langsung menghampirimu tadi. Ada yang bisa ku bantu?"
Aku mengangguk kemudian langsung meminta tolong padanya.
"Kakak pelayan, bisa tolong antarkan aku ke taman yang terletak di lantai 3?"
Kakak pelayan kemudian memintaku agar mengikutinya.
Aku berjalan di samping Kakak pelayan. Kami lalu berbincang-bincang sebentar.
"Apakah kamu murid barunya Tuan? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya."
Seperti biasa, aku menjawab pertanyaan seseorang dengan anggukan.
Sambil berjalan, Kakak pelayan terus menatapku sampai membuatku tidak nyaman.
"Ada apa ya, Kak?"
Kakak pelayan terasa kaget kemudian tertawa untuk menutupi hawanya yang terasa agak canggung.
"Kamu mengingatkanku pada adikku, sepertinya kalian seumuran. Adikku kadang ke sini untuk menemuiku. Dia anak yang ceria dan selalu bersikap manja kepada Kakaknya. Setiap hari aku selalu merindukan sikap manjanya itu."
Aku mengingatkannya pada adiknya, ya…
Aku bisa mengerti bagaimana perasaan Kakak pelayan saat merindukan adiknya.
Rasa rindu itu, pasti mirip dengan rasa rinduku yang ingin bertemu dengan Kakak walaupun kami baru berpisah selama sebulan.
Memang benar, setiap hari aku merindukan Kakak yang biasanya menyisir rambutku dengan lembut.
Saat menyisir rambut sendiri, kadang aku membayangkan tangan Kakak yang mengelus rambutku kemudian memainkannya.
Kadang, aku juga rindu saat Kakak memelukku. Tangannya yang membelai wajahku kemudian mencium pipiku, kapan aku merasakan hal itu lagi?
Aku sekarang jadi terdengar seperti anak manja…
"Aku minta maaf kalau tatapanku membuatmu tidak nyaman."
"Tidak apa-apa."
Tidak perlu minta maaf, aku bisa memakluminya, kok.
Kakak pelayan kan hanya merindukan adik makanya Kakak menatapku seperti itu.
Kalau aku bisa melihat rupa Kakak pelayan, mungkin aku juga akan menatapnya dengan lama karena teringat dengan Kakak.
"Kenapa pagi-pagi begini ingin ke taman? Apa kamu ingin melihat pemandangan di jendela sembari ditemani bunga-bunga yang harum?"
Sayangnya, aku tidak bisa melihat pemandangan itu, Kakak…
Aku juga tidak terlalu menyukai wangi bunga yang menyengat.
Rasanya seperti akan bersin kalau terus-menerus mencium baunya.
"Temanku yang mengundangku ke taman."
"Apakah temanmu itu perempuan?"
Wah, bagaimana Kakak bisa tahu?
Apakah Kakak pelayan adalah seorang pesulap atau semacamnya?
Pesulap itu… Orang yang melakukan suatu seni yang sebenarnya hanya tipuan belaka, kan?
Menghilangkan kartu, menyembunyikan koin, dan memunculkan kelinci dari dalam topi.
Itu semua memang tampak mengagumkan, tetapi itu semua mempunyai 'trik' tersendiri yang sebenarnya hanya tipuan yang cerdik.
Lagi-lagi, aku mengingat hal yang tidak penting…
Tapi, kurasa Kakak pelayan bukanlah seorang pesulap.
Kalau Kakak memang seorang pesulap, kenapa dia bekerja sebagai pelayan di sini?
Apa Kakak pelayan sedang menyamar?
Untuk apa menyamar sebagai pelayan?
Kenapa menyamar sebagai pelayan?
Apa tujuannya menyamar menjadi pelayan di rumah ini?
Jangan-jangan… Kakak sebenarnya adalah seorang penculik yang akan menculik anak-anak yang ada di sini…?
Sepertinya pikiranku sudah terlalu jauh. Kakak pelayan mempunyai adik yang seumuran denganku, Kakak pelayan juga merindukannya setiap hari.
Harusnya Kakak tidak akan menculik kami. Setiap melihat anak-anak seumuran adiknya, Kakak pasti akan teringat dengan adiknya, sampai tidak tega untuk menculik kami.
Mungkin Kakak hanya asal menebak saja.
"Halo?"
Astaga… Sepertinya aku sudah terlalu larut dalam pikiranku sendiri…
"Iya, perempuan."
Maaf, Kak. Tadi aku diam saja karena sedang berpikir apakah Kakak pelayan adalah seorang penculik atau pesulap, ternyata Kakak pelayan memang seorang pelayan.
Aku sempat meragukan Kakak karena Kakak pelayan bisa menebak temanku dengan benar. Sekali lagi, maaf ya, Kak…
"Ya ampun… Irinya…"
Hmm… Kenapa Iri?
Maksudnya?
"Iri?"
Mungkinkah Kakak pelayan juga tidak punya teman, sehingga iri dengan pertemuan kami di taman?
Kasihan sekali, semoga Kakak pelayan segera mempunyai teman yang sejalur dengannya.
"Iya, kehidupan anak muda itu masih segar. Oh iya, yang akan kamu temui itu… Apakah nona yang sangat cantik itu? Kalau tidak salah, namanya Gulinear, ya?"
Dan Gulinear itu… Dia petakilan dan menurutku tidak indah sama sekali…
Yah, aku memang belum pernah melihat wajahnya. Tapi setelah melihat wajahnya pun, kurasa pendapatku akan tetap sama.
Dia. Tidak. Cantik.
"Kamaniai yang mengundangku."
Kamaniai… Anak yang pemalu itu…
Tidak kusangka akan berani mengundangku…
Kemarin, berbicara dengannya saja sulit. Dia selalu grogi dan menjaga jarak dariku.
Kenapa dia mengundangku pagi ini?
Mungkinkah dia ingin membicarakan tentang kekuatannya?
Atau dia malah penasaran dengan kekuatanku?
"Ah, nona yang pendiam itu? Nona itu juga cantik. Selain itu, nona itu sangat mengagumkan. Kudengar, nona itu bangkit lebih cepat yaitu saat berusia 12 tahun, masa depannya pasti cerah. Kamu sudah memilih gadis yang tepat!"
Nah, kalau Kamaniai, dia memang pantas disebut indah.
Bersikap canggung dan malu-malu kepada orang yang baru dikenal, kurasa itu masih termasuk sikap yang wajar.
Aku juga akan bersikap begitu pada orang yang baru kukenal.
Kamaniai juga tidak menguncir rambutku dan tidak menimpa tubuhku.
Walaupun sangat kaku, sikapnya itu masih termasuk sopan.
Memang benar dia sangat mengagumkan karena bangkit baru-baru ini.
Tapi, apa maksudnya dengan memilih gadis yang tepat?
Oh, mungkin maksud Kakak pelayan, aku sudah memilih teman yang tepat?
"Kita sudah sampai."
Benarkah? Cepat sekali…
"Terima kasih karena sudah mengantarku, Kakak pelayan."
"Semoga berhasil."
"?"
Apanya yang berhasil?
Pembicaraan kami?
Hmm… Ini…
Wangi bunga-bungaan…
Tapi wanginya agak berbeda…
"Umm… Aku membuatkan teh mawar untukmu. Kuharap kamu suka."
Oh, ternyata wanginya berasal dari teh mawar ini, ya.
Aku berjalan mendekat dan menyentuh cangkir teh tersebut.
"Kamu boleh duduk di situ."
Kamaniai menunjuk benda yang terdapat tepat di sampingku.
Aku menyentuh benda tersebut yang ternyata adalah sebuah kursi, aku kemudian duduk di kursi tersebut.
"Jadi, apa yang membuatmu mengundangku kemari?"
Aku mengangkat cangkir tersebut kemudian meminum teh mawarnya.
"Oh, itu… Apakah tehnya enak?"
Tehnya, ya…
Memang wanginya cukup menyengat dan sebagian orang menyukai wangi yang seperti ini, tapi kalau soal rasa…
Sebenarnya, aku kurang suka rasanya. Terasa agak pahit tetapi juga ringan dilidahku.
Kalau lebih manis sedikit, mungkin aku akan suka.
Tapi karena Kamaniai sudah membuatkannya untukku, aku akan memujinya saja.
"Enak."
Kurasa itu sudah cukup membuatnya senang. Omong-omong…
Apa dia mengundangku kemari hanya untuk menanyakan rasa teh buatannya?
Kalau iya, kurasa aku akan berdiri sekarang dan segera pergi dari sini.
"Sebenarnya… Kenapa kamu tidak ingin memberitahu Gulinear kalau kamu sudah bangkit?"
Hampir saja aku berdiri dan meninggalkannya di sini. Ternyata dia ingin membicarakan ini.
"Dia belum bangkit. Kalau aku mengatakannya pada Gulinear, dia hanya akan kecewa dengan dirinya sendiri."
Orang yang belum bangkit, lebih baik tidak mengetahui tentang orang lain yang sudah bangkit.
Gulinear hanya akan terus-menerus kepikiran mengapa dia belum bangkit.
Apalagi tangisannya kemarin… Hatiku saja sakit mendengar dia menangis seperti itu…
"Begitu… Tapi, kamu tidak bisa terus-menerus menyembunyikannya, kan?"
Iya… Perkataannya benar, aku tidak bisa menyembunyikannya terus dari Gulinear.
Aku hanya tidak ingin membuatnya sedih. Itu saja, kok…
Suatu saat dia pasti akan tahu dan mungkin akan marah besar padaku.