
Sarapan hari ini adalah nasi uduk. Aku makan nasi uduk sambil mengambil kerupuk. Aamod makan bagiannya seperti belum pernah makan selama setahun.
"Enyakk! Hmm, nyam lwar bwasya!"
Kakak menahan tawa sampai tubuhnya gemetar,
"Kak, awas nanti tersedak."
Kakak terkejut lalu tersedak. Aku cepat-cepat melakukan manuver Heimlich.
Pertama-tama, aku melingkarkan kedua lenganku mengelilingi pinggang dan perut Kakak, tentu saja posisi badanku berada di belakang posisi badan Kakak.
Lalu, Aku mengepalkan telapak tangan dan mendorong di antara pusar dan tulang rusuk.
Langkah terakhir yang aku lakukan adalah mendorong sekuat tenaga bagian perutku sebanyak 5 kali.
"Hah… leganya. Terima kasih ya, adikku."
Sebaiknya, kita tidak meminum air saat tersedak karena hal tersebut justru mendorong makanan masuk lebih dalam ke tenggorokan. Makanan bisa menyumbat bagian tenggorokan yang tidak terhubung dengan saluran pencernaan.
"Dari mana kau mengetahui hal seperti ini?"
Aamod yang menanyakan itu padaku.
"Hmm, entahlah?"
Benar juga, dari mana aku mengetahui manuver Heimlich? Apa ingatan lamaku sudah mulai pulih kembali?
Pertama-tama aku tahu soal tanaman, kemudian tahu soal nilai seni, sekarang aku tahu tentang manuver Heimlich…
Kakak mengelus rambutku dengan lembut. Perlahan-lahan menyisir rambutku menggunakan jari-jarinya.
Karena rasanya agak menggelikan, aku kemudian mengangkat kepalaku dan kembali ke kursiku.
Saat aku baru makan setengahnya, Aamod sudah menghabiskan nasi uduknya.
Wajar saja sih dia sudah siap, dia kan tadi makannnya seperti tidak makan selama setahun…
Setelah meletakkan piring ke tempat cucian, Aamod keluar rumah dan gerakannya seperti sedang menghunuskan pedang. Kemungkinan besar dia sedang berlatih sekarang…
"Sebenarnya, ada yang ingin Kakak bicarakan pada Laalit."
Hawa Kakak terasa menusuk dan sedih, sebenarnya ada apa?
Aku kemudian duduk di samping Kakak, mendekat dan memeluk sedikit.
"Kemarin, Tuan Mahajana yang terhormat mendatangi rumah ini dan kami mendiskusikan banyak hal."
Apakah Tuan Mahajana langsung menghilang karena itu, ya?
"Laalit…"
Kakak diam sejenak sebelum melanjutkan,
"…"
"……"
"Apa kamu ingat saat… Pertemuan pertama kita?"
Aku ingin merespon 'Iya!' dengan lantang, tapi aku tidak bisa. Aku hilang ingatan, Kak. Maafkan aku…
Aku hanya menjawab pertanyaan Kakak dengan mengangguk.
"Saat itu kamu pendiam sekali, tidak mau berbicara apa-apa. Saat kutanyakan namamu, aku melihat mulutmu terbuka sebentar, tapi kemudian tertutup lagi, seperti tidak mau memberitahukan namamu padaku… Aku akhirnya mengetahui namamu saat bertanya kepada pemilik panti asuhan, ia mencari berkas, lalu menyerahkannya padaku. Di berkas itu, terdapat biodatamu. Ternyata kamu datang sendiri ke panti asuhan dan mengatakan bahwa orang tuamu sudah tidak ada."
Aku sedikit terkejut bahwa aku datang sendiri ke panti asuhan, bukan ditemukan oleh orang-orang dari panti asuhan.
"Kamu selalu sendirian. Ketika ada anak yang mengajakmu bicara, kamu pergi dan memberikan dinding pembatas padanya. Pemilik panti asuhan juga mengatakan bahwa kamu tidak mau berbicara padanya juga. Anak-anak yang lain bilang bahwa kamu sombong dan jijik kepada mereka."
Aku hanya diam, menyimak cerita Kakak sambil mengira-ngira sifatku seperti apa dulunya.
"Tapi kurasa tidak begitu, kamu cuma… Kesepian…"
"Dan kamu tampak… Sedih."
"Kakak menanyakan bagaimana orang tuamu saat masih hidup, tapi kamu hanya gemetaran. Kamu lalu berlari meninggalkanku dan menuju ke kamarmu. Maaf, kamu pasti sedih karena Kakak mengungkitnya. Kamu pasti sedih karena Kakak mengungkit orang tuamu yang lebih cepat meninggalkanmu."
Entahlah, tapi memang hatiku terasa sakit saat Kakak membicarakannya.
"Kakak mengira kamu akan lebih terbuka saat Kakak mengasuhmu di sini, karena itulah Kakak kemudian membawamu."
Kakak perlahan menyentuh tanganku dan menggenggamnya,
"Apakah Kakak… Terlihat seperti orang asing bagimu?"
Aku benar-benar tidak tahu bagaimana akan menjawabnya.
Rasanya aku baru bangun kemarin dan baru menjalani hidup.
Aku tidak bisa mengingat kenanganku bersama Kakak saat di panti asuhan.
Aku hanya mengingat hal kemarin saja. Kakak yang memasak untukku, membawaku jalan-jalan ke pasar, dan mengambilkan baju untukku.
Maaf, Kakak. Tapi, memang baru kemarinlah rasanya kita bertemu dan menjalani hari.
Yah, Kakak memang orang asing bagiku. Walaupun begitu, aku tetap menganggapmu sebagai Kakak yang baik.
Bukan... Kakak adalah wanita pertama yang kudengar suaranya, yang mengurusku dengan sepenuh hati, dan membandingkanku dengan anak tetangga.
Jadi begitu, aku mengerti sekarang.
"Tentu saja Kakak bukanlah orang asing. Kakak adalah Kakakku. Meskipun kita tidak memiliki ikatan darah, tetap saja kita adalah sebuah keluarga. Kakak mencurahkan kasih sayang padaku dengan tulus, lalu membawaku kemari dan mengurusku dengan baik. Kalau Kakak penasaran bagaimana aku melihat Kakak, Kakak sudah seperti ibuku sendiri. Rasa kasih sayang Kakak seperti rasa kasih seorang Ibu kepada anaknya. Kakak menggosok punggungku, membuatkan makanan yang enak untukku, dan selalu mengkhawatirkanku. Kakak bukanlah orang asing, Kakak adalah Kakakku yang cerewet dan suka meracik bumbu yang enak."
Kakak tiba-tiba memelukku dengan erat seperti aku akan segera menghilang dari dunia ini.
"Kakak senang sekali, Kakak senang kalau Kakak bukanlah sekedar orang asing di matamu. Ah soal itu, kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu adalah seorang tunanetra?"
Pasti Tuan Mahajana yang memberitahu Kakak. Aku juga heran kenapa diriku yang dulu tidak pernah mengatakannya pada Kakak, padahal Kakak sangat baik padaku.
"Ah, itu… Aku takut Kakak membuangku dan tidak mau menemuiku lagi."
Sepertinya jawaban itu paling tepat untuk menggambarkan diriku yang dulu.
"Tentu saja tidak! Kakak sangat menyayangimu, Kakak membawamu ke sini agar kamu tidak kesepian juga. Bahkan meskipun kamu memiliki kekurangan yang lain, Kakak tetap akan menerimamu, Adikku…"
Kakak yang baik, padahal sebelum membawaku kemari, dia pasti sangat kesepian.
Orang tua Kakak meninggal saat Kakak masih usia remaja.
Orang tuanya meninggal karena kecelakaan, dan semenjak itu, Kakak tinggal sendirian di rumah yang luas ini.
Kadang sepupunya berkunjung sebentar kemari dan membantu Kakak beberes rumah.
Aku mengetahui ini karena Kakak menceritakannya sehabis sarapan kemarin.
Kakak mengarahkan telapak tanganku ke wajahnya.
"Mau 'melihat' wajahku?"
Aku tidak mengerti maksud Kakak, tetapi aku mengangguk dan perlahan mengikuti jari lembut Kakak yang menuntunku.
Kakak perlahan mengarahkanku ke atas, aku merasakan suatu bentuk bulat dan memancarkan kasih sayang, mungkinkah ini yang disebut 'mata'?
Bulu mata yang lentik ini membuatku menyentuhnya lebih lama.
Kemudian perlahan ke bawah, apakah ini yang dinamakan 'hidung'? Hidung Kakak sangat mancung.
Perlahan ke bawah lagi, dan sampailah aku kepada bibirnya. Sangat lembut dan penuh, ternyata seperti ini bentuk 'bibir' orang lain. Bentuk bibirku ternyata tipis, tidak seperti Kakak yang bentuk bibirnya penuh.
Perlahan ke pipi kemudian ke rambutnya. Aku merasa bahwa wajahku semakin lama semakin memanas.
Aku menarik tanganku secara mendadak, menyudahi melihat diri Kakak.
Apakah ini yang disebut 'keindahan'?
Aku tidak menyangka bahwa aku tinggal dengan seseorang yang begitu Indah…