
Setelah keheningan yang cukup lama, pada akhirnya salah satu dari mereka angkat bicara.
"Itu… sangat mengagumkan! Aku sangat kaget saat kita sedang latiha-"
Aku tidak tahu apa yang Kakak lakukan pada Aamod hingga Aamod tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Aku cukup penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Aamod,
"Ya?"
Hawa Aamod terasa ragu sebelum mengatakan sesuatu,
"Kau tahu aku sedang mondar-mandir saat itu. Aku masih bingung walaupun kau sudah menjelaskannya padaku. Bisa jelaskan bagaimana kau mengetahuinya? Aku benar-benar ingin mengerti apa yang kau rasakan, soalnya aku tidak pernah bertemu dengan orang tunanetra yang bisa merasakan sesuatu di sekelilingnya, seperti dirimu."
Aku mengangguk ringan lalu menjelaskan,
"Saat berjalan, langkah kakimu cenderung kasar namun lebar seperti pria pada umumnya. Maksud 'kasar' di sini adalah sepatumu yang selalu 'menggesek' permukaan tanah, menyebabkan permukaan tanah menjadi agak terkikis dan tidak sehalus sebelumnya. Karena itulah aku mengatakan bahwa langkah kakimu cenderung 'kasar'. Sedangkan 'lebar', saat kau melangkahkan kakimu untuk berjalan, jarak kaki yang satu dengan yang lain cukup jauh. Karena itulah aku mengatakan bahwa langkah kakimu cenderung lebih 'lebar' juga. Mondar-mandir biasanya dilakukan berjalan dengan langkah yang lebih cepat, bukan sebaliknya. Aku mendengar suara derap kakimu yang berbunyi 'tap tap tap' selama hampir 1 detik tiap langkahnya. Kau sudah melangkah selama kurang lebih 10 kali kemarin, berarti kurang lebih hampir 10 detik kecepatannya bila dihitung dan hasilnya adalah langkah kakimu cukup cepat."
Aku menarik napas panjang sebelum menjelaskan lebih jauh lagi,
"Kenapa aku menghitung per detiknya? Agar aku tahu apakah kau berjalan biasa, berjalan cepat, atau bahkan berlari. Aku tidak dapat melihat, jadi aku menggunakan sebagian besar tubuhku melalui pendengaran. Jadi, begini… Saat kakimu melangkah, seketika itu juga pendengaranku menajam. Pendengaranku memproses bunyi kakimu yang apakah lambat, cepat, atau berlari. Setelah pendengaranku mengetahui bunyi kakimu yang mana, kemudian aku menghitung per detiknya untuk lebih memastikan. Kenapa aku harus memastikannya? Tentu saja untuk mengecek yang pendengaranku proses apakah salah atau memang sudah benar. Kenapa aku harus mengeceknya? Tentu saja agar informasi yang diterima pendengaranku semakin akurat. Kenapa harus akurat? Agar aku lebih yakin dengan apa yang aku dengar. Kalau tidak yakin, aku akan mengecek ulang dengan cara menghitung ulang langkahmu per detiknya, lalu merasakan auramu. Setelah yakin, kemudian aku menyimpulkannya. Kau memang sedang mondar-mandir."
Aku menghela napas karena penjelasan yang ruwet ini akan segera selesai,
"Aku bisa mengetahui itu adalah dirimu salah satunya adalah dari auramu. Apa itu aura? Aura adalah pancaran energi yang ada pada setiap manusia. Setiap manusia memiliki aura yang berbeda. Aura yang kurasakan darimu adalah aura yang positif. Aura positif adalah energi positif yang berputar di sekitarmu. Biasanya, aura positif berhubungan dengan emosi, kesehatan, atau keadaan di luar tubuh kita. Kau tahu, saat di tempat pelatihan, aku sangat jarang merasakan aura yang positif dari orang lain, kebanyakan adalah aura yang sombong dan licik. Auramu juga cukup mencolok, sangat terang, karena itulah aku jadi mudah menemukanmu di tempat pelatihan. Aku waktu itu merasakan aura positifmu makanya aku meminta tolong padamu untuk menunjukkan pintu keluarnya. Tidak kusangka sifatmu ternyata seperti ini, padahal hawamu cukup bijaksana. Ha. Ha. Haa…"
Aamod memegang pundakku secara mendadak, lalu mendekatkan kepalanya.
"Apa maksudmu 'seperti ini'?"
Aku sebenarnya ragu-ragu untuk menjawab ini. Namun dengan keterpaksaan, akhirnya aku menjawabnya.
"Sifatmu yang kony-"
Kakak tiba-tiba menimpali pembicaraan kami.
"Jadi, bagaimana caramu merasakan aura tersebut, adikku?"
Oh iya, aku belum menjelaskan cara merasakannya, ya? Aku bingung harus menjelaskan bagaimana, apakah mereka paham atau tidak, apakah mereka mengira ini masuk akal…
Aku rasa mereka akan bingung, tapi aku juga lebih bingung kalau disuruh menjelaskan begini.
Aku juga bingung dengan diriku yang bisa merasakan aura orang lain.
Kurasa Kakak dan Aamod tidak bisa merasakan aura dan hawa.
Seperti yang kujelaskan barusan, aura adalah pancaran energi yang ada pada setiap manusia.
Aura yang dipancarkan manusia terasa berbeda-berbeda dan sangat beragam.
Sedangkan hawa adalah perasaan emosi pada manusia. Perasaan sedih, senang, bahagia, marah, dan lain sebagainya, itulah hawa yang kurasakan pada banyak orang yang kutemui.
Hawa manusia terasa gelap dan berat saat sedih atau marah, sedangkan hawa manusia akan sangat terasa cerah dan ringan saat merasa senang dan bahagia.
Hawa yang kurasakan dari Aamod adalah hawa positif juga, selain itu dia sangat bersemangat dan berapi-api.
Mungkin karena memang elemen dasarnya adalah elemen api, makanya dia punya semangat yang membara seperti api?
Hawa yang kurasakan dari Kakak adalah hawa kasih sayang, Kakak terasa sangat menyayangiku.
Kakak sangat menyayangiku seperti seorang Ibu yang menyayangi anaknya.
Rasanya, kasih sayang itu tak pernah terbatas, seperti kasih sayang seorang Ibu.
Tapi kan Kakak bukan Ibuku, Kakak tetaplah Kakakku. Mungkin juga seorang Kakak mempunyai kasih sayang yang tak terbatas pada Adiknya.
Ibu ya… Apakah dulu aku sempat mendapatkan kasih sayang dari Ibu?
Apakah Ibu juga memasak suatu makanan yang kusukai?
Bagaimana rasa masakan yang dibuat oleh Ibu? Apakah lebih enak dari yang Kakak masak?
Bagaimana Ibu mengelus kepalaku? Apakah belaiannya lebih lembut daripada Kakak?
Apakah suara Ibu selalu membuatku jauh lebih tenang seperti suara Kakak?
Apakah pelukan Ibu juga hangat, seperti pelukan Kakak?
Ibu, apa selalu perhatian padaku? Biasanya apa yang Ibu lakukan?
Apakah Ibu sibuk bekerja? Ataukah Ibu hanya di rumah dan mengurusku?
Apa Ibu… selalu ada untukku? Apa Ibu selalu menemaniku saat aku takut akan sesuatu?
Apa Ibu juga… tepat janji?
Apa Ibu juga suka bercanda denganku? Apa sifat Ibu humoris?
Ibu… apakah Ibu… indah?
Tentu saja, Ibu mana mungkin tidak indah. Ibu pasti adalah wanita terindah walaupun aku belum pernah melihat wajahnya.
Pasti Ibu memiliki pelukan yang hangat dan sifat penyayang…
Tapi… Apakah Ibu… menyayangiku?
Ibu melahirkanku dengan mempertaruhkan nyawanya, kemudian Ibu merawatku dengan sabar.
Pasti Ibu adalah orang yang perhatian dan masakannya juga enak.
Kalau Ibu ternyata tidak bisa masak… bagaimana?
Tidak mungkin! Masa Ibu rumah tangga tidak bisa memasak, memangnya Ibu 'ayah rumah tangga'?
Kalau Ibu tidak bisa memasak, lalu bagaimana aku makan?
Aku mungkin sudah tidak hidup lagi sekarang… Kecuali dulu kalau keluargaku adalah…
Tidak mungkin! Kalau keluargaku memanglah keluarga terpandang, aku pasti sudah ditemukan oleh salah satu pengawal saat orang tuaku tertimpa suatu musibah atau yang lainnya.
Lagipula, mana ada anak dari keluarga terpandang yang 'buta'.
Anak keluarga terpandang pastilah anak yang berbakat dan tidak cacat sepertiku…
Aku penasaran dengan Ayah, dengan Ibu. Apakah Ibu meninggal saat tertimpa suatu musibah… atau saat melahirkanku?
Bagaimana sifat ayah? Apakah ayah selalu bersemangat?
Apa… Apa sifat ayah sepertiku?
Mungkin saja tidak! Ayah pastilah orang yang bersemangat dan tampak kuat!
Aku berharap kalau sifat Ayah tidak overthinking dan terlalu pemikir sepertiku.
Apa sifat pemikirku adalah turunan dari Ayah? Mungkin juga kalau sifat pemikirku menurun dari Ibu.
Kalau sifat Ayah seperti Aamod…
Kurasa akan lebih bagus, hahaha…
Sepertinya aku sudah gila…