
Sekarang, aku akan membuat gerakan yang berbeda dari yang Guru ajarkan.
Bagaimana aku akan menggerakkannya, ya?
Hmm…
Coba kalau begini…
Aku mencoba berkonsentrasi untuk lebih merasakan kekuatanku.
Kumpulkan kekuatan, ya…
Ini hampir selesai…
Ya, sudah!
Nah, rasakan kekuatan tersebut sampai seluruhnya tercapai.
Ini hampir, sedikit lagi…
Yang terakhir, gerakkan kekuatan de… ngaan… pelan.
Ayo, Laalit. Tidak perlu terburu-buru.
Santai, tenang~
"Eh, apa ini?"
Sebentar, Guru. Aku sedang berkonsentrasi pada bagian punggungku.
Ingat-ingat lagi, ingat-ingat…
Aku akan menggerakkannya dengan…
Kuharap ini berhasil!
Bagus… Aku akan menjawab pertanyaan Guru sekarang.
"Aku… Aku menggabungkan kekuatanku dan membentuk wajah Kakak."
Yah…
Kekuatannya terkumpul dengan baik dan mengapung pada punggungku.
Kira-kira semuanya akan menyambung dalam beberapa menit lagi…
Posisinya kan membelakangiku, jadi aku harus membayangkan wajah Kakak dalam posisi-
"Bisakah aku menemui Kakakmu?"
Ugh… Guru nyaris saja membuatku kehilangan konsentrasi.
Maaf, aku tidak bisa berpikir hal lain karena harus memfokuskan diriku ke pembentukan kekuatan.
Jadi, aku tidak akan menduga-duga alasan Guru ingin menemui Kakak. Aku akan langsung menanyakannya saja.
"Kenapa?"
Baik. Tinggal beberapa kepingan lagi…
10… 8… 6-
"Aku akan melamarnya."
Hah?!
Apa yang aku dengar barusan?
Tidak, sepertinya aku hanya salah dengar.
"Guru bilang apa barusan?"
Sepertinya kualitas pendengaranku agak menurun karena melakukan dua hal sekaligus.
Oke, kembali ke meditasi…
Sisa kepingannya lumayan jauh, duh…
Kemarilah, aku akan membawamu ke temanmu yang sudah berkumpul di sana, kepingan.
"Aku akan melamar Kakakmu."
Apa…
MELAMAR?!
MELAMAR KAKAK?!!
Astaga, aku kaget sekali!
Untung meditasiku tidak buyar dalam sekejap…
Guru sengaja ya ingin mengganggu meditasiku…
"Kenapa?"
"Karena Kakakmu cantik."
TIDAK!!
Bertahanlah, kekuatanku!
Jangan hancur cuma karena perkataan om-om ini!
Aku harus mengatur napas dan pikiranku agar tidak kacau.
Masukkan udara, keluarkan…
"Fiuh…"
Damaikan pikiranmu.
Anggap saja kalau Guru hanya mengatakan omong kosong barusan.
Ya… Bagus…
Kekuatan yang mengambang di punggungku masih menetap di sana.
Haruskah aku menggabungkan semuanya agar membentuk wajah Kakak?
"Karena Kakakmu cantik."
Lebih baik tidak…
"Aku cuma bercanda…"
Cuma bercanda?
Entah mengapa aku tidak percaya kalau Guru cuma bercanda.
Aku akan mencoba gerakan yang lain saja!
"Aku hanya ingin menguji seberapa fokusnya kamu saat berpusat pada meditasi."
Ternyata ada udang di balik bakwan…
Terdapat masalah di setiap kehidupan, Terdapat tujuan di setiap cobaan.
Namun, aku tidak tahu apa tujuan Guru menggangguku dengan dalih 'menguji'.
Memang yang terbaik adalah mengacuhkannya saja.
Aku akan lanjut ke dalam meditasi.
Lebih baik aku mengalihkan diriku ke hal yang positif daripada memikirkan hal yang tidak berguna.
"Maaf, maaf. Aku tidak akan bercanda seperti itu lagi, ya?"
Tidak perlu meminta maaf. Tidak ada salahnya bercanda ria sesekali.
Baguslah kalau Guru sadar akan hal itu. Aku senang karena Guru bisa mencairkan suasana untuk mengusir atmosfer ketegangan di antara kami.
Ha ha ha…
Tidak!
Maksudku yang sebenarnya adalah…
Menjadikan Kakak sebagai bahan candaan sama dengan cari mati denganku.
Meskipun Guru hanya bermaksud 'melamar', tapi Guru menambahkan imbuhan 'bercanda' setelahnya.
Bercanda untuk melamar seseorang?
Benarkah?!
Perasaan seseorang itu bukan candaan, Guru. Emosi manusia itu bukan permainan yang bisa dianggap remeh.
Selain itu, bukankah candaan itu seharusnya membuat orang lain menjadi tertawa karena lucu?
Dan…
Jika tadinya Guru memang serius untuk melamar Kakak, aku tidak akan membiarkan lamaran tersebut sampai pada Kakakku.
Adakah Adik yang rela membiarkan Kakaknya hidup bersama dengan seorang pria yang bersikap abu-abu?
Kurasa tidak ada!
Tidak ada Adik yang rela Kakaknya menjalani hidup bersama dengan orang yang tidak bisa tertebak sifat aslinya.
Aku tidak akan pernah menyerahkan Kakakku pada Guru!
Lagi, Kakak sudah bersama dengan orang yang sikapnya lebih baik dari yang lainnya, termasuk Guru.
Itu cukup melegakan…
"Kekuatanmu bergerak dengan cepat."
Terserah.
Aku tidak akan terkecoh dengan candaan Guru!
"Tampaknya perasaanmu sedang berapi-api. Apa kamu sudah menemukan teknik gerakan yang lain?"
Belum.
Aku tidak sempat memikirkannya karena Guru berulang kali mengganggu konsentrasiku.
"Kekuatanmu bergerak seperti sambaran petir. Sangat cepat namun juga bertenaga"
Aku bahkan tidak terlalu tahu seperti apa sambaran petir itu…
"Aku tidak tahu dari mana kamu bisa mempunyai ide untuk membuat gerakan kilat seperti ini. Tapi, kerja bagus!"
Yah, aku bisa merasakannya.
Kekuatan ini bergerak cepat dengan gerakan naik turun mengelilingi tubuhku hingga bergerak ekstra cepat sesekali.
Walaupun aku tidak berencana untuk membuat gerakan seperti ini sih…
Mungkin gerakan seperti ini muncul karena emosiku campur aduk barusan.
Baguslah…
Tanpa harus berpikir panjang lebar, kekuatanku sudah bergerak secara otomatis mewakili perasaanku yang tidak karuan.
Dari nada suaranya juga, sepertinya Guru memang tidak sedang bercanda sekarang.
Kalau begitu, aku tidak akan lagi menyimpan dendam.
Sebaiknya, aku menanggapi ucapan Guru demi kesopanan.
"Terima kasih Gu- Uhuk!"
Hah?
Kenapa aku batuk?!
Aku hanya makan nasi goreng dengan segelas teh manis hangat pagi ini.
Ini pasti bukan apa-apa.
"Uhuk! Uhuk!"
Batuk lagi?!
Tidak mungkin kan… gara-gara makanan di sini?!
Tidak, Kakak Pelayan selalu menyajikan makanan dengan kualitas yang tidak perlu diragukan lagi.
Kalau alergi makanan juga tidak mungkin. Biasanya juga tidak terjadi apapun setelah aku sarapan, makan siang, ataupun makan malam.
Mungkin aku cuma kelelahan saja karena mengontrol kekuatan dengan jumlah tenaga yang besar.
Tapi…
Tidak mungkin kan kalau ini…
Racun?
Kalau ini racun?!
Aku… diracun?!
Tidak! Tidak ada gunanya bagi Kakak Pelayan atau orang lain meracuniku.
Aku hanyalah anak kecil yang baru tinggal di sini selama 9 hari.
Aku juga tidak punya kelebihan apapun. Mustahil orang lain meracuni anak kecil tanpa alasan yang jelas.
Mungkinkah…
Dendam terselubung?
Tidak...
Aku tidak mencari perkara dengan siapapun. Baik Jaleed, Kamaniai, dan Gulinear, aku memperlakukan semuanya dengan baik.
Aku selalu menjadi murid yang hormat terhadap Guru dan Tuan Mahajana.
Para Kakak Pelayan, aku menghargai mereka semua.
Itu juga bukan penyebabnya. Batuk ini bukan disebabkan oleh ketiga hal tersebut.
Bukan karena sarapan, racun dalam makanan, dan dendam terselubung.
Benar, ini pasti karena tubuhku kelelahan karena tidak terbiasa mengontrol kekuatan dengan kontrol dan tenaga yang lebih besar dari biasanya.
Sebaiknya aku menghentikan pergerakan kekuatanku, kemudian izin untuk beristirahat sebentar pada Guru.
Aku menghentikan kontrol kekuatan, berdiri dari duduk, lalu bersiap untuk meminta izin-
"Uhuk!"
Ugh…
Sakit…
Rasa sakitnya semakin terasa pada…
Inti kekuatanku…
"Darah!"
Da… rah?
A-Apa?
Kenapa dengan darah?
Apa cairan yang ada di telapak tanganku ini…
"Kamu tidak apa-apa, Nak?"
Siapa… ini?
Ini bukan suara… Guru…
*DEG*
ARGH!
Inti kekuatanku…!
Ada apa ini?
Kenapa… Kenapa rasa sakit ini kualami lagi setelah sekian lama?
Aku… Aku harus ke tempat Tuan Mahajana sekarang…
Ta-Tapi…
Tapi aku tidak bisa merasakan keberadaan Tuan Mahajana…
Aku harus meminta pertolongan pada…
"Guru… antar aku pada Tuan… Mahaja… na…"
"Aku akan mengantarmu ke pengobatan-"
"Tidak! Tuan Mahajana… Kumohon…"
Tuan Mahajana bisa mengatasi ini…
"Baiklah…"
Guru menuntunku dengan telapak tangannya yang berada di punggungku, mengarahkanku menuju Tuan Mahajana.