Blindsight

Blindsight
Nenek Sihir



Mereka sudah sampai. Apa Kamaniai membawa mereka kemari untuk mengobati luka di wajahku?


Kamaniai kemudian berjalan mendekat, diikuti oleh seseorang yang dipanggil 'bibi'.


Aku tidak terlalu suka hawa 'Bibi' ini. Entah mengapa hawanya seperti menunjukkan bahwa dia adalah seorang antagonis dicerita dongeng.


"Kamu melakukan ini dengan kekuatanmu?"


Dengan hawa yang sungkan, Kamaniai menjawab pertanyaan orang tersebut.


"Aku… Aku menggunakan elemen angin untuk menyerangnya ke- kemudian inilah yang terjadi."


Sepasang mata itu menatapku seperti aku adalah sebuah kue yang baru siap dipanggang.


Secara refleks, aku berdiri dan menunjukkan gestur badan yang canggung.


Tangannya kemudian langsung mengangkat daguku.


"Mata yang bersinar dan hidung yang mancung, dengan bentuk rambut yang sangat bagus."


Masih memegang daguku, tangannya yang satu lagi langsung menyentuh rambutku.


"Setelah kamu menyerangnya, bentuk rambutnya menjadi tidak terlalu kaku dan warna kulit pada bagian wajah menjadi lebih rata."


Kemudian dia beralih memegang wajahku tanpa melewatkan setiap incinya.


Aku bisa merasakan bahwa dia sedang mengendus wajahku.


"Terdapat bau mawar di wajahnya. Apa bau ini berasal dari kekuatanmu?"


"Tidak, Bibi. Itu karena aku memegang bunga mawar sebelumnya. Ja-Jadi saat menyerang Laalit, bau yang menempel di tanganku otomatis akan terbawa juga dengan kekuatanku. Ah, itu.. Maksudnya…"


"Aku sudah mengerti. Tapi, wajahnya memang luar biasa."


Oh… Jadi, aku tidak diperbolehkan menyentuh wajahku sendiri karena akan ada seorang Bibi yang memegangi wajahku seenaknya…


Apa itu artinya wajahku baik-baik saja? Saat Bibi ini menyentuh wajahku, aku tidak merasa sakit atau perih sama sekali.


Selain itu, dia memegangi wajahku tanpa menunjukkan perasaan yang khawatir, dia malah menunjukkan hawa yang terkesima.


Memangnya wajahku ini kenapa, sih? Selalu saja ada orang yang seenaknya menyentuh dan mengatakan wajahku luar biasa dan sebagainya.


Padahal wajah Kakak lebih luar biasa daripada wajahku… Itu menurutku, sih. Selera orang kan berbeda-beda.


Sejujurnya, aku tidak terlalu mengerti apa yang dia katakan.


Bentuk rambutku menjadi tidak terlalu kaku setelah Kamaniai menyerangku?


Apakah bentuk rambutku memang sekaku itu pada awalnya?


Dan warna kulit di wajahku menjadi lebih rata… Memangnya awalnya tidak rata?


Warna yang rata itu seperti apa? Sebentar, memangnya warna kulit itu seperti apa?


"Anak ini kenapa diam saja? Dia sama sekali tidak mengeluh."


Aku mengeluh dalam hati, dasar nenek sihir…


Aku hanya tidak mengatakannya langsung karena takut kau akan memukulku dengan sapu ijuk milikmu.


"Ini boneka, ya?"


"Bukan Bibi. Laalit… Dia bukan boneka."


Ini kapan selesainya, ya?


Kau sudah berulang kali memegangi kelopak mataku.


Kau juga sudah memegangi pipiku tadi, sekarang berhentilah.


"Kenapa dia tidak ada respon sama sekali?"


Karena aku tidak tahu harus merespon apa…


Kalau diam, dikira boneka.


Kalau marah, nanti akan dicap sebagai anak yang durhaka.


Kurasa aku tidak akan bisa mengatakan sesuatu dengan nada yang biasa-biasa saja, soalnya aku sedang kesal sekarang.


Gawat kalau aku keceplosan memanggilmu 'nenek sihir'.


Posisiku itu serba salah sekarang…


Sebenarnya, aku kesal karena sudah beberapa orang yang memegangi wajahku tetapi tidak pernah meminta izin dulu padaku.


Kalian itu… Kalian itu memegangi wajahku seperti memegangi wajah kalian sendiri.


Seharusnya sebelum memegang wajah orang lain, kalian meminta izin dulu terhadap orang tersebut.


"Dia ini memang boneka. Oh tidak, tadi dia bisa berdiri. Hmm, tapi mungkin saja ada sesuatu yang membuat boneka ini bisa berdiri sendiri."


Iya, dan yang membuatku bisa berdiri adalah kedua kakiku.


"Bibi… Laalit bukanlah boneka…"


Iya, aku itu manusia. Dengarkan apa yang Kamaniai katakan, dong.


Jaleed, dia hanya menatapku saja. Padahal hawanya terasa tidak nyaman saat melihat nenek sihir ini memegangi wajahku.


Kalau memang mau membantuku, ya langsung lakukan saja. Jangan ragu-ragu begitu… Jadilah laki-laki sejati!


"Benarkah? Kalau begitu, coba ku sentuh area yang lain juga."


Dia tidak mempercayai perkataan Kamaniai… Dasar keras kepala…


Berhenti menyentuh tubuh orang lain seperti menyentuh tubuhmu sendiri.


Tidakkah kau pernah mempelajari sopan santun di rumahmu?


"Oh! Tangannya lembut sekali."


Tanganku memang lembut karena aku masih muda, tidak sepertimu yang tangannya sudah keriput.


Setelah memegangi jari jemariku, dia kemudian memindahkan tangannya ke bagian tubuhku yang lain.


Ah! Jari tangannya!


"Sialan."


Dasar Nenek sihir kurang ajar…


Tanpa kusadari, aku sudah mengepal jari-jari tanganku.


Aku semakin merapatkan jemariku hingga menggenggam seluruhnya dengan kuat.


Dia lalu buru-buru menarik tangannya. Hawanya terasa kaget sekaligus cemas secara bersamaan.


"Apa?! Apa katamu?!"


Sial, aku baru sadar kalau aku keceplosan barusan. Aku harus mengelak secepatnya.


Aduh… Tapi mengelaknya bagaimana?


Pikirkan sesuatu, Laalit. Jangan cari gara-gara dengan Bibinya Kamaniai.


Aku berusaha memikirkan sesuatu yang dapat digunakan untuk mengelak perkataan kasarku barusan.


Kalau lari, aku hanya kabur dari masalah. Kalau diam saja juga tidak mungkin, Nenek sihir ini sudah mendengar aku berbicara barusan. Tidak mungkin juga aku menendangnya.


Nah! Aku baru teringat kata-kata yang mirip dengan 'sialan'.


Aku kemudian merubah ekspresi wajahku dengan cepat.


Dengan perasaan yang masih terbilang emosi, aku menaikkan bibirku dan berusaha merilekskan tanganku agar tidak kelihatan menggenggam lagi.


Aku pun membuka mulutku.


"Silakan."


Aku benar-benar ingin menghancurkan tangannya sekarang…


Ini jadi sangat menyebalkan. Kenapa aku yang harus tersenyum dan berpura-pura seolah tak terjadi apapun?


Padahal bukan aku yang membuat gara-gara duluan, tapi nenek sihir ini yang seenaknya menyentuh bagian wajahku dan bagian tubuhku yang lainnya.


Aku masih bisa memaklumi kalau dia hanya memegangi wajah atau tanganku, tapi kalau sudah bagian yang benar-benar privasi…


Aku tidak bisa mentolerir lagi…


Apakah aku yang terlalu sensitif?


"O~hohoho! Anak yang sopan. Aku sempat mengira kamu ini boneka. Bagaimana seorang manusia bisa setampan ini, hmm?"


Tentu saja aku sopan, aku kan bukan Nenek sihir sepertimu.


Tampan, menggemaskan, dan sempurna. Oke, sepertinya aku sudah terlalu sering menerima pujian itu.


Tapi, dikatakan 'tampan' oleh Nenek sihir ini, entah mengapa aku tidak merasa seperti habis dipuji.


"Ayo, aku akan mengenalkanmu pada anakku."


Tidak mau. Dan berhenti menyentuh bahuku.


Nenek sihir ini lalu mendorong badanku dan membawaku ke pintu keluar.


"Bibi… Bukankah kita akan membicarakan tentang kekuatanku?"


Benar! Bukankah kita akan membicarakan tentang itu?!


Nenek sihir ini mau mengingkari janji, ya…


Bibi lalu melepaskan cengkraman tangannya dari bahuku.


Bagus! Akhirnya aku terbebas dari kukunya yang tajam itu!


Terima kasih karena telah menyelamatkanku dari pengaruh Nenek sihir yang jahat, Kamaniai.


Kelak, aku akan mengajarimu dengan lebih giat lagi.


"Aku berubah pikiran. Kita bisa membicarakannya besok bersama dengan Tuan Mahajana."


Tuan Mahajana? Kemarin, pria tua itu hanya mengatakan seperlunya kemudian langsung menghilang dari sini.


Kukira Tuan Mahajana sedang ada keperluan yang mendesak. Apa perkiraanku salah?


"Namamu Laalit, kan? Aku akan senang kalau kamu menjalin hubungan yang dekat dengan anakku."


Kalau aku tidak senang, bagaimana?


Apakah kau akan memaksaku agar aku dekat dengan anakmu?


"Aku yakin kamu sedang luang sekarang. Mari ikut denganku, aku akan memperkenalkanmu pada anakku."


Tidak mau. Ibunya saja menyentuh tubuh orang lain tanpa tahu batas wajar, bagaimana dengan anaknya?


Mungkin akan jauh lebih parah dari Ibunya…


Membayangkannya saja sudah membuatku… Entahlah, tidak bisa dijelaskan…


"Tuan Mahajana menyarankan saya untuk melakukan meditasi secara rutin. Jadi, saya akan melakukan meditasi di kamar."


Aku tidak sudi berjalan bersamamu. Kalau bisa memilih, lebih baik aku melakukan meditasi yang menurutku membosankan daripada berjalan bersamamu.


Melakukan meditasi bisa membuat kekuatan di dalam tubuhku semakin jinak. Sedangkan berjalan bersamamu…


Tidak ada manfaatnya!


Tanpa mengucapkan salam perpisahan, aku menapakkan kakiku menuju pintu keluar.


Aku tidak akan pernah memaafkan perbuatanmu.