Blindsight

Blindsight
Seperti Aamod



Setelah makan, tenagaku pulih kembali. Tubuhku tidak seberat dan sesakit tadi, kepalaku juga sudah mendingan.


Aku sudah bisa mulai berbicara dengan jelas, tidak kesulitan lagi seperti beberapa waktu yang lalu.


Kakak dan Aamod sangat lega, mereka sebelumnya khawatir bahwa aku mengidap penyakit berbahaya dan tidak bisa berbicara lagi.


Aamod menyuruhku mengikutinya, aku beserta Kakak berjalan mengikutinya sampai ke halaman rumah bagian samping.


Aku tahu ini halaman bagian samping karena sudah hapal rutenya.


"Lihat ini! Ini adalah kekacauan yang kau buat. Badai angin yang kau keluarkan dari pedang milikmu, membuat seluruh halaman menjadi seperti ini."


Aku tidak bisa melihat apapun karena yang kulihat hanyalah kegelapan, Aamod.


"Aku tunanetra, kau lupa?"


Hawa Aamod seketika terasa kikuk dan salah tingkah.


"Maaf, aku benar-benar lupa, karena kau tak tampak seperti itu. Kau membuka matamu dan berjalan tanpa bantuan tongkat layaknya manusia umumnya, kau juga tidak butuh bantuan siapapun. Orang tunanetra kan biasanya harus dituntun kemana-mana dan memakai tongkat, tapi kau tidak begitu. Kau bisa tahu aku ada di mana, kau bisa tahu Kakakmu ada di mana, kau juga bisa tahu kalau ada benda di depanmu. Bagaimana bisa kau melakukannya? Aku masih penasaran hingga sekarang."


Aku diam sejenak lalu menarik nafas kembali.


"Kurasa, aku sudah mengatakannya padamu…"


Kakak hanya menyimak saja dan tidak ikut campur dalam pembicaraan kami.


Kurasa Kakak juga sama penasarannya dengan Aamod, hanya saja Kakak ragu mengatakannya padaku.


"Iya, aku tahu. Tapi, bagaimana caramu 'merasakannya'? Bagaimana caramu merasakan bahwa ini memanglah aku, atau itu memanglah Kakakmu. Benda-benda juga, bagaimana merasakannya?"


Pikiranku mulai terbenam sekarang.


Bagaimana aku menjelaskannya? Apakah Aamod mengerti dengan penjelasanku nanti?


Aku juga kurang paham dengan kebutaanku yang dapat melihat.


Buta tapi bisa melihat… Apa ini bisa disebut buta? Buta adalah kondisi seseorang ketika tidak dapat melihat sebagian atau sepenuhnya.


Aku mengalami kebutaan total, di mana kondisiku tidak memiliki penglihatan sama sekali.


Kadang aku juga bisa melihat cahaya atau sesuatu yang terang, tapi hanya itu saja.


Masalahnya adalah, aku bisa merasakan sekeliling walaupun aku buta.


Aku juga tidak mengerti soal ini. Bisa gila aku lama-lama karena memikirkan teori tentang kebutaan yang kualami sendiri.


Sudahlah, mari kita jelaskan saja. Entah Aamod mengerti atau tidak, tapi intinya kan aku sudah berusaha menjelaskan padanya.


"Aku merasakannya. Benda di sebelah sana, atau yang di sana. Aku tahu bahwa benda tersebut ada di sana, tapi aku tidak bisa melihat bentuknya, aku hanya tahu saja bahwa ada suatu benda di sebelah sana."


Aku menunjuk kursi rotan yang pernah kududuki dan beberapa meja lainnya.


Aku sudah meraba-raba kursi dan meja-meja tersebut sehingga aku sudah tahu bahwa yang di sana adalah kursi rotan dan beberapa meja.


Tapi aku tidak akan mengatakan bahwa aku sudah tahu benda tersebut itu apa.


Aku akan menggambarkan kondisi awalku pada mereka, di mana aku hanya menyadari keberadaan benda tersebut, tetapi tidak tahu benda tersebut itu apa.


Aku menarik napas dahulu sebelum menjelaskan,


"Kalau pada manusia, biasanya aku menandainya melalui hawa dan aura yang dipancarkan. Hawa Kakak memiliki ciri khas tersendiri, begitupun juga hawamu, Aamod. Aku juga bisa mengenali kalian lewat suara kalian, langkah kaki, dan gerak-gerik."


Keheningan meliputi kami, tidak ada satupun dari mereka yang merespon jawabanku.


Hawa Kakak terasa seperti sedang bingung, sementara hawa Aamod terasa bingung sekaligus kagum?


Aamod cenderung langsung melakukan sesuatu tanpa berpikir. Dia sangat percaya diri, tidak sepertiku.


Aku selalu saja berpikir, sekarang pun begitu. Aku selalu memikirkan bagaimana awalnya, bagaimana kejadian berikutnya, dan bagaimana akhirnya.


Bagaimana suatu masalah bisa terjadi, kenapa bisa terjadi, apa yang menyebabkan masalah tersebut terjadi, aku memikirkannya dengan sangat banyak di otak yang kecil ini.


Aura orang lain, aku juga memikirkannya. Aura apa saja itu, bagaimana tingkatnya, apakah aura menentukan tingkat kekuatan seseorang, mungkinkah ada aura yang lebih tingkatannya yang belum pernah kudengar, aku juga sangat memikirkannya.


Bagaimana cara mengatakan sesuatu, aku bahkan memikirkannya.


• Penyusunan kalimat, apakah kalimat yang kukatakan dapat dimengerti oleh orang lain atau tidak, apakah pemilihan kata sudah tepat sesuai dengan situasi, aku memikirkannya.


• Nada pengucapan, kapan nadanya tegas, kapan nadanya lembut, kapan nadanya tinggi, kapan nadanya rendah, kapan nadanya ramah, kapan nadanya waspada, aku memikirkannya.


• Gestur tubuh, kapan menanggapi dengan ramah, kapan menanggapi dengan serius, kapan menanggapi dengan percaya diri, kapan menanggapi dengan penasaran, dan lain sebagainya. Aku memikirkannya.


• Dan ekspresi…


Menunjukkan ekspresi ramah, gembira, senang, terkejut, sedih?, takut?, marah?, kecewa?, aku juga memikirkannya.


Aku agak ragu dengan ekspresi takut, sedih, marah, dan kecewa.


Ekspresi takut dan sedih pernah kutunjukkan saat teringat suatu suara misterius dan menyeramkan di kamar mandi.


Aku menunjukannya secara spontan, tanpa berpikir terlebih dahulu.


Menurutku itu aneh, karena biasanya aku memikirkan seperti apa ekspresi yang akan kukeluarkan.


Ekspresi marah dan kecewa, kurasa aku belum terlalu mengerti bagaimana menunjukannya.


Mungkin sebentar lagi aku akan menunjukkan ekspresi tersebut?


Entahlah, tapi aku ini tipe yang pemikir sekali. Sifat ini, aku ingin sifatku yang pemikir ini berubah.


Aku ingin percaya diri dan pengertian seperti Aamod. Dia dengan percaya diri menyerangku dan percaya pada kemampuanku untuk mengatasi serangannya.


Dia dengan percaya diri memilih senjata yang ada, tidak sepertiku yang memikirkannya ruwet sekali sampai satu episode hanya dipenuhi oleh pemikiranku, seperti sekarang.


Dia juga dengan percaya diri mencariku hingga menemukanku di pasar.


Kakak bilang, selama 2 hari, mereka mencariku sampai Aamod kurang tidur karena Kakak memaksa Aamod untuk tetap mencariku sepanjang waktu.


Yang paling berkesan bagiku adalah, pertemuan pertama kami.


Aku awalnya hanya meminta tolong untuk menunjukkan pintu keluar padanya.


Tapi setelah itu, Aamod mengkhawatirkan diriku dan akhirnya mengantarkanku pulang dengan selamat. Dia tidak meminta imbalan apapun, sungguh mulia.


Dia juga memperlakukan Kakak dengan baik dan sopan.


Dia memakan apapun yang Kakak masak, seperti orang kelaparan.


Tapi tidak apa-apa, daripada dia tidak puas dengan masakan Kakakku, lebih baik dia makan seperti orang yang kelaparan saja.


Sepertinya aku bisa mempercayakan Kakak pada Aamod saat aku akan menjadi murid Tuan Mahajana nanti.


Awalnya aku khawatir dengan keselamatan Kakak, tapi sekarang tidak begitu.


Aku akan meminta tolong Aamod agar menjaga Kakak, entah dia mau atau tidak, yang penting aku sudah mengungkapkan apa yang ingin kukatakan.


Kalau bisa, Aamod setiap saat selalu bersama dengan Kakak, agar keselamatan Kakak tetap terjaga.