
"Oh… Be-Begitu, ya?"
"Iya, Bu. Aku kemarin itu mengajarkan bocah ini cara menggunakan pedang. Kemudian, yang kami lakukan tadi adalah latihan bertanding."
Kami saat ini sedang duduk di halaman samping rumah, Aamod menjelaskan kepada para tetangga tentang apa yang kami lakukan barusan.
Lucu sekali, masa kami dikira berkelahi?!
Yah, mungkin karena mereka tidak pernah mempelajari cara menggunakan senjata ataupun latihan, makanya mereka tidak tahu.
"Apa itu 'Latihan Bertanding'?"
Kakak hanya duduk di sebelahku, tidak mengatakan apapun.
"'Latihan Bertanding' itu… Mengasah kemampuan berpedang sambil bertarung satu sama lain. Kami melakukan latihan bertanding agar aku tahu sampai mana kemampuan pedang bocah ini."
"Be-Begitu, ya…"
Mereka melirikku… Kenapa lihat-lihat?!
Sudah menggosipkan yang tidak-tidak, sekarang banyak tanya.
Ini sangat membosankan. Kapan mereka akan berhenti menanyai kami?
"Jadi… Hubunganmu dengan Fakeehah?!"
Aku hanya mendengarkan mereka sambil menikmati angin yang sejuk.
"Kami… Teman? Ha ha ha…"
Aamod, kau harus menjelaskannya dengan benar. Mereka bisa menjadikan Kakak bahan gosipan kalau kau menjelaskannya asal begitu.
"Mereka cuma teman. Aamod datang ke rumah malam-malam untuk mengantar saya pulang. Saya bertemu dengan Aamod di tempat pelatihan. Karena sudah malam dan tidak tahu jalan pulang, saya meminta tolong Aamod agar mengantarkan saya pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah, saya menyuruh Aamod menginap sementara di sini sebagai balas budi karena telah mengantarkan saya sampai ke rumah dengan selamat."
Aku sebenarnya malas menjelaskan panjang lebar begini.
Tapi, aku juga tidak bisa berharap banyak agar Aamod menjelaskannya dengan benar.
Aku hanya tidak ingin mereka menggosipkan Kakak lagi, karena itulah aku langsung menjelaskan semuanya sampai tempat pelatihan pun terpaksa aku sebutkan.
Aamod menggaruk kepalanya dan tertawa.
"Aamod tidur sekamar denganku sedangkan Kakak tidur di kamarnya sendiri."
Aku hanya menegaskan agar mereka tidak salah paham lagi.
Aku tahu kalian kaget, kalian pikir aku tidak mendengar pembicaraan kalian walaupun kalian setengah berbisik?!
Kejadian Sebelumnya
"Maafkan saya, saya sungguh tidak sengaja melempar pedang ke arah anda."
Orang ini… Dia masih menarik tanganku dengan kuat.
"Minta maaf yang benar! Aku tidak melihat ada penyesalan diwajahmu! Menunduk dan minta maaf dengan benar!"
Tidak mau…
"Terima kasih."
Orang ini agak kaget lalu mengendurkan sedikit genggaman tangannya.
"A-Apa maksudmu?!"
Ini sangat menyusahkan. Aku dengan SANGAT TERPAKSA menarik bibirku agar tersenyum.
"Terima kasih karena telah menunjukkan kebenaran pada saya, dan maaf…"
Orang ini tidak mengangkat tangannya lagi dan sepenuhnya melepaskan genggaman tangannya padaku.
Sepertinya dia senang, tapi aku tidak begitu.
"Kukira kau nakal dan akan melawan orang yang lebih tua, tetapi sepertinya kami salah mengira. Syukurlah kau mengerti bahwa kami memang bermaksud menunjukkan kebenaran padamu agar bersikap sopan dan tidak menyerang orang lain seperti itu~ Walaupun perkataanmu agak aneh, tetapi tidak apa-apa, karena kau cukup manis~"
Aku dengan berat hati menundukkan badan di hadapan 2 orang itu.
"Saya ingin mengambil pedang saya. Permisi…"
Aku kemudian mengambil pedangku sementara mereka hanya melihatku saja.
Menjaga jarak sejauh mungkin dari mereka, aku lalu mengatakan hal yang lebih pantas kukatakan pada mereka.
"Ah, maksud saya… Terima kasih telah menunjukkan kebenaran pada saya bahwa sifat asli kalian ternyata busuk seperti ini. Berkat kalian, saya bisa menjaga Kakak dan menjauhkan Kakak dari orang-orang seperti kalian."
Salah satu dari mereka berusaha mengejarku, namun dengan cepat aku melompat dan mundur.
"Dan maaf, yang saya katakan barusan cuma bercanda."
Ia lalu menghentikan langkahnya.
"Be-Benarkah?!"
Aku menggelengkan wajahku lalu tersenyum.
"Yang saya katakan barusan itu juga bercanda~"
"Berani-beraninya kau mempermainkan kami! Dasar anak nakal!"
Aku lalu berhenti dan mengucapkan mantra pelindung. Mumpung begini, aku tes sekalian saja apakah pelindung ini memang cukup kuat untuk melindungi tubuhku.
"A-Apa ini!"
Mereka menyentuh pelindungku.
"Ini… Ini pelindung! Bagaimana bisa seorang anak kecil melakukan ini?! Anak ini… Inti kekuatannya pasti sudah bangkit!"
Pelindungnya cukup kuat ternyata… Atau mereka saja yang terlalu lemah?
"Mana mungkin! Anak sekecil ini… Anak ini pasti belum genap 10 tahun!"
Aku 11 tahun, kok…
"Ada apa ini?"
"Kau seharusnya tidak boleh berlari begitu. Tubuhmu masih terluka!"
Itu suara Aamod dan Kakak.
"A-Ada apa ya, berkerumun begini?"
Sekarang
Karena itulah akhirnya kami berada di halaman samping dan menjelaskan hal-hal yang membuat mereka penasaran.
"Anak ini… Apakah inti kekuatannya sudah bangkit?"
"Oh… I-Itu…"
Aamod kemudian melirik ke arahku.
Apa boleh buat… Aku sudah menggunakan mantra pelindung tadi, jadi aku tidak bisa mengelak sekarang.
Aku mengangguk.
"Begitulah… Ha ha ha…"
Seseorang baru bisa menggunakan kekuatannya jika inti kekuatannya sudah bangkit secara alamiah di dalam tubuh.
Bila belum bangkit, tentu saja elemen kekuatan tidak dapat digunakan karena masih tertahan dalam tubuh.
Kata Aamod, inti kekuatan akan bangkit dengan sendirinya saat mencapai usia 14 tahun.
Berarti aku bangkit lebih cepat dari yang lain. Mungkinkah ini karena gen orang tuaku juga bangkit dengan cepat?
"Tapi anak ini menyerangku tadi! Mentang-mentang kekuatannya sudah bangkit, memangnya boleh menyerang orang lain secara tiba-tiba begitu?! Dasar anak sombong! Berbakat sedikit saja sudah sok!"
Tubuhmu tidak terluka, kan? Berlebihan sekali…
"Benarkah begitu? Laalit, jelaskan pada Kakak sekarang!"
Aku menyerangnya karena dia terus-menerus membicarakan hal buruk tentangmu, Kakak…
Tidak, biarkan hal itu jadi rahasia saja. Kalau Kakak tahu ternyata ada tetangganya yang busuk seperti itu, Kakak pasti akan sedih.
Aku memasang ekspresi wajah andalanku.
"Aku tidak sengaja Kakak, sungguh… Aku tadi ingin melempar pedangku ke kayu pohon karena ingin tahu seberapa tepat sasarannya, tapi ternyata ada orang lain di sana. Aku sungguh tidak tahu ada orang lain di sana. Aku juga sudah minta maaf pada Ibu ini."
Kakak mendekat dan wajahnya masih tampak serius.
"Kamu tidak bohong pada Kakak, kan?!"
Ughh… Maafkan aku, Kakak.
"Tentu saja! Aku… Kakak tahu kan aku tidak bisa melihat?"
Kakak kemudian memasang wajah lega lalu mengelus rambutku dengan lembut.
"Tentu saja, adikku mana mungkin membohongiku."
He he he! Siasatku berhasil!
"Aku sekali lagi meminta maaf untuk adikku. Adikku sungguh tidak sengaja menyerangmu. Apa ada bagian tubuhmu yang terluka? Kalau ada, aku akan mengobatimu sekarang."
Hawa orang itu terasa kesal. Kenapa kau yang kesal? Kan kau yang memfitnah Kakak, seharusnya yang kesal itu aku sekarang!
"Dasar anak licik! Kau kira aku bisa dibohongi? Tidak bisa melihat bagaimana, kau saja tadi lompat-lompat dan jalan dengan santai. Dan kau DENGAN SENGAJA melempar pedangmu sehingga rambutku jadi terpotong dan tidak cantik lagi!"
Sepertinya orang ini tidak punya kaca di rumah. Kau lah yang licik dan akan menyebarkan tuduhan palsu pada Kakak!
"Maaf, saya memang seorang tunanetra."
Aku memaksakan diriku untuk bersedih dan merasa tersinggung.
"Kalau begitu, jelaskan bagaimana kau bisa bertarung dengan pria itu!"
Aku menitikkan air mata dan berpura-pura menangis. Kakak memelukku lalu memarahi orang itu.
"Berhenti menyudutkan adikku! Bukankah dia juga sudah minta maaf padamu?!"