Blindsight

Blindsight
Tidak Nyaman



"Bagaimana luka yang terdapat di tubuhmu? Apa bahu dan lenganmu juga sudah mendingan?"


Ternyata Guru memikirkan kondisiku…


Entah mengapa aku agak senang…


Sebenarnya, kondisiku masih tidak berbeda jauh dari yang semalam.


Luka yang diakibatkan oleh ledakan itu sudah pada tahap pemulihan akhir, yang artinya meskipun masih terasa sedikit sakit, tubuhku akan sembuh sepenuhnya dalam waktu beberapa jam lagi.


Bisa dibilang pemulihanku termasuk dalam golongan cepat.


Mungkinkah pemulihan yang super cepat ini berasal dari gen yang berkualitas?


Berarti gen orang tuaku sangatlah bagus!


Mengenai menahan biola, kalau aku memberi penekanan pada tulang selangka, dagu, dan bahu, rasanya sangat nyeri.


Rasa nyeri itu persis sama saat aku menekan biola menggunakan tulang selangka dan tulang dagu.


Tentu rasanya tidak senyeri itu saat aku menggerakkan lengan kiriku. Palingan cuma terasa pegal-pegal sedikit.


Karena itulah, jawaban yang akan kuberikan adalah…


"Sudah."


Setelah aku mengatakannya, aku tetap tidak bisa merasakan hawa Guru.


Aku tidak tahu apakah Guru puas dengan jawabanku atau tidak.


Bagaimana cara Guru untuk menyembunyikan perasaan yang dimiliki oleh setiap manusia?


Entahlah, Guru memang tidak bisa ditebak.


Omong-omong…


Aku bersyukur karena mereka tidak memarahiku. Sepertinya Tuan Mahajana tidak mempermasalahkan ada yang mendengar ceramahnya.


Kalau Guru, aku tidak tahu. Mungkin Guru hanya tidak peduli kalau anak kecil seperti kami menguping.


"Tuan! Laalit mengacuhkan Gulinear! Hiks…"


Ya, maaf…


Awalnya, aku mengacuhkanmu karena menurutku memang hal itu yang seharusnya aku lakukan.


Kukira kamu akan mengetahuinya sendiri, kamu kan bukan anak balita, Gulinear.


Kamu sudah cukup umur untuk mencerna perkataan orang lain, itu sebabnya aku ingin kamu memikirkan dan menyimpulkan secara mandiri.


Yang kedua itu, sebenarnya aku akan memberikan jawaban setelah kita menjauh dari Tuan Mahajana dan Guru.


Tapi kamu sudah marah duluan padaku…


Hukuman apa yang akan diberikan padaku, ya? Gulinear kan berasal dari keluarga terpandang, kalau membuatnya menangis terus-menerus, pasti aku akan dihukum juga.


Semoga bukan hukuman gantung diri…


"Laalit?! Mengacuhkan gadis cantik ini?"


Gulinear tidak cocok dengan kata 'cantik'


Memang banyak orang yang mengatakan kalau Gulinear itu cantik, tapi aku tidak setuju mengenai pernyataan itu.


Menurutku, keindahan itu memenuhi seluruh aspek, bukan hanya satu atau dua aspek saja.


Seseorang baru bisa disebut indah atau 'cantik' jika mempunyai akhlak yang baik, wajah yang baik, dan pembawaan ekspresi yang baik.


Aku tahu yang dimaksud 'cantik' di sini adalah wajah milik Gulinear, berarti Gulinear hanya menguasai satu dari ketiga aspek itu.


Dan dia belum pantas menyandang gelar 'cantik' karena belum memenuhi seluruh aspek tersebut.


Kenapa belum memenuhi?


Karena akhlak dan pembawaan ekspresinya masih jauh di bawah.


Sifatnya kekanakan dan dia menunjukkan ekspresinya secara berlebihan.


Gulinear harus mengubah sifatnya sesegera mungkin.


Selain karena belum pantas menyandang gelar 'cantik', orang-orang juga punya kesabaran yang terbatas.


Tidak semua orang bisa memaklumi sifatnya itu. Suatu saat, manusia akan murka bila terus-menerus dihadapkan pada hal yang menguras energinya.


Saat kesabaran orang lain sudah terkuras habis, kemungkinan orang lain tersebut akan melontarkan kemurkaannya, aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada Gulinear nantinya.


Aku harap tidak ada kejadian seperti itu. Jadi, lebih baik Gulinear cepat mendewasakan diri untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.


"Semuanya, berkumpul kemari."


Tidak terasa…


Penantian yang aku tunggu-tunggu ini…


Aku bisa merasakannya, Tuan Mahajana serius mengenai hal ini.


Aku mengangguk kemudian menuju tempat yang Tuan Mahajana minta untuk berkumpul.


Jaleed yang biasanya tenang dan santai, sekarang tubuhnya dipenuhi oleh keringat dingin.


Aku bisa merasakan ketegangan meliputi jiwa dan raganya.


Kamaniai juga kurang lebih sama seperti Jaleed. Tentunya rasa takut Kamaniai berlipat-lipat lebih besar dari Jaleed.


Sedangkan Gulinear, perasaannya sudah membaik, dia tidak menangis lagi, tetapi aku bisa merasakan kalau dia masih sedikit marah padaku.


Apa boleh buat…


Nanti aku akan mengalah saja dengan minta maaf seperti biasa.


Lama kelamaan dia juga akan dewasa saat sudah waktunya, kan?


Jadi untuk sementara, aku akan mengalah padanya sampai Gulinear menjadi dewasa seutuhnya.


"Ada apa, Laalit?"


Tuan Mahajana bertanya begitu karena aku mengacungkan tanganku.


Sebenarnya yang kulakukan ini sangat tidak sopan.


Tuan Mahajana belum mempersilahkan siapapun untuk bertanya, tapi aku sudah mengangkat tanganku seperti tergesa-gesa


Yah…


Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan. Kurasa aku tidak bisa menunda pertanyaannya karena aku tidak sabar untuk mendengarkan jawabannya.


"Apa ruang lingkup mempunyai pengaruh yang besar terhadap kekuatan yang dihasilkan?"


Pertanyaanku tidak membuat Tuan Mahajana kebingungan, kan?


Semoga saja tidak.


Sepertinya Tuan Mahajana sedang menyusun kalimat lewat otaknya agar bisa menyampaikan dengan bahasa yang jelas dan lugas.


Hmm…


Aku memikirkan hal ini berulang kali selama beberapa hari.


Jika ruang lingkup mempunyai pengaruh yang besar terhadap kekuatan yang dihasilkan, aku akan membuat situasi yang menguntungkan saat berhadapan dengan musuh di masa yang akan mendatang.


Dengan menggiring musuh ke tempat yang menguras kekuatannya, aku bisa menyerang dengan lebih efisien meskipun aku tidak memberikan serangan beruntun dalam jumlah yang besar.


Aku juga bisa menghemat tenagaku dan memenangkan pertarungan dengan mudah tanpa menguras banyak energi.


Memang terkesan curang. Tapi, kemenangan itu tidak dilihat dari curang atau tidaknya, kan?


Orang-orang hanya akan melihat kemenangan seseorang tanpa mempedulikan bagaimana cara seseorang memenangkan pertarungan tersebut, dan orang-orang akan merendahkan saat mendapatkan kekalahan dalam pertarungan, tidak peduli apakah dikalahkan karena curang atau perbedaan kekuatan yang jauh, orang-orang tetap akan merendahkannya.


"Tergantung kekuatan yang dimiliki oleh individu tersebut. Seorang ahli pedang yang mempunyai elemen api bisa menggunakan kemampuannya dengan efisien di manapun tempatnya. Kamu pasti sudah mengerti cara kerjanya jadi aku akan melewatkan penjelasannya."


A-Apa…??


Aku memang tahu cara kerja elemen api karena Aamod pernah mempraktekannya langsung pada saat kami bertarung.


Walaupun Aamod mempunyai kepribadian yang konyol, sifat konyolnya itu akan berubah 180° saat Aamod mengayunkan pedangnya.


Dia adalah lawan yang cukup tangguh dan sulit ditaklukan.


Aku masih ingat saat dia menaruh elemen api ke sisi pedangnya dan langsung menyerangku tanpa memberi celah sedikitpun.


Tapi…


Bagaimana kalau yang lain tidak paham dengan cara kerjanya?


Tidak, tidak. Mereka kan kaum bangsawan dari keluarga terpandang.


Pasti mereka sudah mempelajari mengenai berbagai macam elemen dan timbal baliknya terlebih dahulu.


Emm…


Kalau belum mempelajarinya, mereka juga dapat mengerti sedikit karena mereka diberi makanan yang bergizi setiap hari.


Iya, kan…??


Iya… Pasti begitu…


Oke… Diam dulu, Laalit.


Tuan Mahajana akan menjelaskan lebih lanjut, aku bisa merasakan tarikan napasnya.


"Sedangkan ahli sihir yang mempunyai elemen air dapat menggunakan kekuatan dengan lebih efisien jika berada di dekat tempat yang menghasilkan air. Kamu pasti sudah mengetahui cara kerjanya jadi aku akan melewatkan penjelasannya juga."


Kenapa dilewatkan terus…


Bagaimana kalau yang lain tidak mengetahui cara kerjanya…?


Kuharap mereka berinisiatif untuk bertanya kepada Tuan Mahajana bila tidak mengetahui proses awal hingga perkembangan akhirnya.


"Apa kamu sudah paham?"


Aku mengangguk.


Jadi, semua itu tergantung pada kekuatan, lebih tepatnya elemen yang dimiliki oleh setiap orang.