
Beberapa menit Santi sudah tenang dan lemas, lalu Han Daegang memasukan Santi ke dalam mobil, Safira menemaninya duduk di belakang karena melihat kaka nya yang masih menangis beruraikan air mata "Ka sabar, jangan kaya gini" Safira berkata lalu memeluk Santi yang masih menangis.
Han Daegang sepanjang jalan hanya diam tidak bisa berkata apa-apa lagi, untuk yang kedua kalinya melihat Santi menderita seperti itu. sepanjang jalan tidak ada yang berani berbicara, Safira dan Han Daegang hanya mendengar tangisan Santi saja.
Sampailah di rumah, ketika keluar mobil Santi berdiri lemas lalu jatuh tidak sadarkan diri "Ka Santi......" pekik Safira lalu Han Daegang melihat Santi yang sudah tergeletak di lantai dan dengan cepat membopong Santi ke dalam rumah, semua kaget melihat Santi yang tidak sadarkan diri.
"Ya allah kenapa ka Santi Fir" mamah Mila bertanya dengan panik
"Ga tau tadi tiba-tiba di depan pingsan mah" Safira berkata dengan menangis
"Bawa aja ke kamarnya di atas" (korea) tante Yuni berkata dengan panik mengikuti Han Daegang dan Safira ke lantai atas
tante Yuni membuka pintu lalu Han Daegang meletakan Santi di tempat tidurnya, mamah Mila memberi minyak angin supaya Santi bangun namun tidak ada respon, Han Daegang sedih melihat keadaan Santi, lalu dia keluar kamar menemui Ayah, papah Beni dan Kaka yang berada di ruang televisi.
"Kenapa Santi bisa seperti itu" (korea) Ayah bertanya lalu Han Daegang menjelaskannya dan Kaka menterjemakan untuk papah Beni
"Baru kali ini saya melihat Santi anak saya seperti ini, kenapa dia rapuh karena dia sangat sayang dan cinta kepada Do Hyun" (inggris) papah Beni berkata lalu Kaka menterjemakan nya untuk Ayah
"Mereka memang saling cinta dan tidak akan bisa dipisahkan, Do Hyun pun baru kali ini sangat mencintai wanita selain ibunya, cinta dia kepada Santi sangat besar" (korea) Ayah berkata dan Kaka menterjemahkannya untuk papah Beni
"Betul apa yang dikatakan Ayah saya, Do Hyun pun baru pertama kali cinta kepada wanita seperti ini sampai mengejar Santi ke Indonesia hanya untuk melamarnya, itu sangat romantis" (inggris) Kaka berkata
Han Daegang terdiam mendengar perkataan semua yang membuktikan bahwa Do Hyun dan Santi tidak dapat dipisahkan oleh apapun. Dan cinta mereka sangatlah besar.
Pagi hari menjelang, ketika bangun Santi melihat sosok pria di sebelahnya yang sedang tertidur pulas, mata Santi terbuka dan melihat sosok pria masih buram karena dia baru sadarkan diri, ketika penglihatannya jelas dia melihat sosok pria itu mirip seperti Do Hyun "Apa gue lagi mimpi" Santi bergumam lalu memegang wajah Do Hyun dengan lembut
Lalu Do Hyun terbangun melihat Santi dan tersenyum "Kamu sudah sadar" (korea) Do Hyun berkata namun Santi hanya terdiam dan melihat wajah Do Hyun dengan aneh
"Apakah kamu Dion suami ku, aku sedang bermimpi tapi seperti nyata, walau mimpi aku bahagia kamu ada di sisi aku" (korea) Santi berkata lalu memeluk Do Hyun
"Kamu tidak bermimpi, ini nyata aku sudah bebas" (korea) Do Hyun mengusap rambut Santi
Santi melepaskan pelukaannya "Jadi ini nyata, ah.....aku sangat rindu sama kamu" (korea) Santi berkata dengan tersenyum lalu memeluk Do Hyun kembali
Ketika Santi sedang memeluknya Do Hyun meghilang begitu saja "Do Hyun kemana kamu, jangan pergi Do Hyun......." pekik Santi terbangun dari mimpinya lalu melihat ada mamah Mila dan tante Yuni yang sedang menjaganya "Do Hyun mana mah"
"Sayang yang sabar, Do Hyun masih di kantor polisi tapi Ayah mau menemui pengacara hari ini jadi kita berdoa semoga hari ini Do Hyun bisa pulang" mamah Mila berkata
"Jadi Do Hyun belum pulang" Santi berkata lalu wajahnya menjadi muram dan sedih kembali
"San jangan gini dong, tante sama mamah jadi khawatir, kamu harus kuat, tante yakin Do Hyun bakalan bebas hari ini" tante Yuni berkata
"Mamah bikinin nasi tim ya, soalnya kamu malem belum makan sama sekali jadi pingsan" mamah Mila berkata lalu pergi ke dapur
"San kenapa Viona ga mau jadi saksi" tante Yuni berkata
"Kok tante tau"
"Safira malem cerita katanya Viona ga ikut ke kantor polisi"
"Dia katanya diancam kalau jadi saksi Ali bakalan nyebarin video sama calon suami Viona yang sekarang"
"Ah.....vedio, emang mereka udah melakukan hubungan ***"
"Kok tante tau"
"Abis video apa lagi kalau sampai Viona takut gitu, waduh parah juga temen kamu San, itu lagi cowok yang namanya Ali jahat banget, pokoknya kita harus cari jalan supaya Do Hyun bebas"
"Iya aku sama Natasya juga baru tahu, ga tau tante aku bingung mau maksa Viona tapi dia sahabat aku punya privasi tapi di sisi lain aku pengen Do Hyun bebas" Santi berkata lalu ketika sedang bercerita dia merasakan mual pergi ke kamar mandi dan muntah
Ketika selesai muntah Santi merasakan pusing yang hebat "Aku pusing, kayanya masuk angin"
"Yakin kamu masuk angin bukan hamil" tante Yuni berkata dan memapah Santi berjalan dan kembali ke tempat tidur
"Masuk angin aja kayanya, ga mungkin hamil"
"Kenapa ga mungkin, kamu udah nikah, lagiaan ciri-ciri sensitif sampai nangis histeris dan pingsan itu waktu hamil pertama kaya gitu juga"
"Ya juga sih, aku aja aneh sama diri aku yang cengeng kalau ada kabar sedih malah pengen nangis"
"Oh ya, perasaan aku belum beli pembalut bulan ini" Santi berkata lalu mengecek kalender di ponselnya
Setelah melihat kalender di ponsel Santi terbelalak kaget "Tante bener aku udah 2 bulan ga haid" Santi menutup mulutnya
"Aaaaaaaa........serius, yes aku mau jadi nenek"
"Tapi aku harus cek soalnya siapa tahu cuman setres aja gara-gara siapin pernikahan dan bulan kemarin kan aku sama Do Hyun berantem juga"
"Bener kamu harus ke Dokter kandungan langsung, kalau bener hamil jadi bisa di kasih vitamin" tante Yuni berkata lalu mamah Mila datang membawa nasi tim
"Yuni kenapa teriak, kirain Santi pingsan lagi" mamah Mila bertanya
"Bukan, kita mau jadi nenek ka"
"Nenek, maksudnya Santi hamil"
"Iya" jawab tante Yuni
"Alhamdulilah, pantesan kamu sensitif banget mana pingsan lagi, seumur-umur mamah baru malem tadi liat kamu pingsan"
"Ga tau mah takutnya masuk angin aja" Santi berkata dengan muram
"Pokoknya kamu sekarang makan dulu baru kita Harus ke Dokter periksa" mamah Mila berkata
"Setuju...." kata tante Yuni
"Aku ga mau makan, aku ga mau ke Dokter juga" Santi berkata
"Sayang jangan siksa diri kamu kaya gini, ga baik ayo makan" mamah Mila mengulurkan sendok berisi nasi tim namun Santi tidak mau melahapnya
"Do Hyun juga kesiksa mah di sana, aku ga tau dia udah makan atau belum" Santi berkata dengan lirih dan mamah Mila menarik nafanya
"Ayolah San, kamu butuh makan biar ada tenaga buat bela Do Hyun, kalau kamu bener hamil kasiaan anak kamu, dari malem kamu belum makan" tante Yuni menasehati
"Tapi aku ga selera, aku sedih jauh dari Dion" Santi berkata dengan menangis
"Sayang kamu harus kuat, kamu harus lawan rasa sedih menjadi rasa semangat demi diri kamu dan Do Hyun juga" mamah Mila berucap
"Bener apa kata mamah kamu, Do Hyun bakalan sedih kalau liat kamu kaya gini" tante Yuni berkata lalu ada yang mengetuk pintu kamar
tok
tok
tok
"Masuk" mamah Mila berkata lalu tante Yuni membuka pintunya
"Masuk Hyung" (korea) tante Yuni berkata
"Santi kamu sudah sadar" (korea) Kaka bertanya
"Masuk Hyung" (korea) Santi menjawab dan mengahapus air matanya
"Ada temen kamu mengunjungi" (korea) Kaka berkata
"Siapa" (korea) kata Santi
"Suruh ke kamar Santi saja Hyung" (korea) tante Yuni berata
"Silakan masuk saja" (inggris) Kaka berkata kepada tamu dan ketika tamu masuk ke dalam kamar, Santi terbelalak kaget
"Viona...." kata Santi dan Viona hanya diam
"Masuk saja sini, Santi tidak mau makan gara-gara Do Hyun belum bebas dan mudah-mudahan kamu bisa menolong sahabat kamu yang sedang menderita ini" tante Yuni berkata lalu mengajak mamah Mila pergi meninggalkan mereka berdua di kamar.
Viona ijin tidak bekerja karena masalah Santi dengan Do Hyun menghantui pikirannya sepanjang malam, maka dia berniat membantu Santi untuk membesakan Do Hyun.