
"Ada apa ini? Kenapa Ben lama sekali?" karena seharusnya asisten pribadinya itu sudah kembali, mengingat ruangan dirinya dan Sky yang tidak terlalu jauh bahkan berada di lantai yang sama. Ruangannya berada di sudut kanan, sedangkan ruangan Sky berada di sudut kiri.
"Tuan..."
Abian menetap kebelakang, menatap pada asisten pribadinya yang baru masuk ke dalam ruangan. "Bagaimana? Apa Alena sudah menandatanganinya?"
"Maaf Tuan, sepertinya Tuan Sky tidak ada di ruangannya jadi aku tidak tahu apa Nona Alena sudah menandatanganinya atau belum."
"Tidak ada di ruangannya? Apa kau yakin?"
"Aku sudah mencoba untuk masuk ke dalam, tapi pintunya terkunci dan asisten pribadi Tuan Sky juga tidak ada."
Abian mengerutkan keningnya dengan bingung, karena seharusnya Sky masih ada diruangan tersebut, sedangkan Alena pasti sudah keluar dari kantornya sejak tadi.
"Coba kau hubungi ponselnya dan tanyakan ada dimana?"
"Baik Tuan," Ben mengambil ponselnya untuk menjalankan perintah Abian. "Tidak diangkat Tuan," ucapnya setelah mencoba menghubungi ponsel tuan Sky sebanyak dua kali.
Abian terdiam. Entah mengapa perasaan tidak enak yang sedari tadi dirasakannya, semakin kuat ia rasakan. "Cepat hubungi anak buah kita, tanya dimana posisi Alena saat ini!"
"Baik Tuan."
Ben menghubungi anak buahnya, sementara Abian mengambil ponselnya yang berbunyi.
"Alana?" gumamnya sembari mengangkat panggilan tersebut.
"Abian dimana Alena? Apa kau menahannya? Apa kalian bertengkar lagi?" tuduh Alana tanpa basa-basi setelah sambungan ponselnya terhubung.
"Alena tidak sedang bersamaku."
"Jangan bohong! Aku tahu kau ada di Gold, dan Alena pun ada di dalam, jadi mana mungkin kau tidak sedang bersamanya!" ketus Alana dengan sengit. Karena sejak tadi ia menunggu Alena, tapi adiknya itu belum juga keluar dari perusahaan tersebut. Bahkan sampai Bian sudah terbangun dari tidurnya, Alena belum juga keluar.
"Aku memang ada di Gold, tapi aku tidak sedang bersama Alena. Adikmu kemungkinan sudah pulang."
"Mana mungkin Alena pulang sendiri, karena aku yang mengantarnya jadi kami pasti pulang bersama."
Perasaan Abian semakin tidak enak saat mengetahui kemungkinan besar Alena belum pergi dari perusahaannya.
"Abian kau dengar aku? Biarkan Alena pulang, sebelum putramu ini menangis mencari Mommy nya."
"Bian.... "
"Tuan, Nona Alena belum keluar dari perusahaan Gold," ucap Ben setelah menghubungi anak buahnya.
Abian yang sempat bingung dengan apa yang terjadi, langsung keluar dari ruangannya saat menyadari sesuatu. Sementara Ben langsung mengikuti tuannya yang terlihat begitu marah.
"Ben cepat dobrak pintunya!" perintah Abian setelah sampai di depan ruang kerja Sky.
"Tapi Tuan."
"Cepat lakukan!"
Dengan penuh tenaga dan dibantu tuan Abian, akhirnya ia berhasil membuka paksa pintu ruangan tersebut.
"Bajingan!" dengan langkah cepat ia menarik Sky yang tengah berdiri di dekat Alena yang menangis ketakutan di sudut ruangan. Tak tanggung-tanggung Abian bahkan langsung menghajar temannya itu tanpa ampun, walaupun belum tahu apa yang terjadi sesungguhnya.
"Abian..." Alena langsung bersembunyi dibalik punggung pria yang tengah mencengkram kerah pakaian Sky.
"Apa yang sudah kau lakukan padanya?"
"Kami hanya sedikit bersenang-senang," jawab Sky dengan tersenyum sembari mengusap sudut bibirnya yang terluka.
"Bajingan! Berani sekali kau menyentuh istriku!" Abian kembali memberi bogem mentah pada wajah teman baik nya itu.
"Istri?" Sky menahan tangan Abian yang hendak memukulnya lagi. "Dia itu wanitaku!" ucapnya sembari membalas pukulan Abian.
Sky tidak terima wanita miliknya di akui sebagai milik pria lain, meskipun pria itu teman baiknya sendiri.
Sedangkan Abian yang juga tidak terima Alena nya disebut sebagai milik pria lain, membalas pukulan tersebut hingga terjadilah baku hantam diantara keduanya dengan sengit.