Bad Wedding

Bad Wedding
Part 118



Sementara itu Alena yang sejak tadi menatap, dan mendengar apa yang dibicarakan ke dua pria yang sangat berharga di dalam hidupnya itu, begitu terenyuh melihat bagaimana Abian yang begitu menyayangi putra mereka, begitu pun sebaliknya Bian yang begitu menyayangi Daddy nya.


Hingga sebuah pertanyaan mengusik hatinya, apakah ia sanggup memisahkan mereka? Menghilangkan kebersamaan mereka yang terjalin begitu erat selama hampir satu bulan ini.


*


*


Setelah dokter pribadi Atmajaya datang, memeriksa dan memberikan obat untuk Bian. Suaminya itu masih menunggu putra mereka di tempat tidur tanpa lelah sedikitpun, padahal sejak tadi Abian terus menggendong Bian yang entah mengapa begitu rewel tidak mau jauh-jauh dari Daddy nya.


"Abian makanlah dulu!" Alena membawa piring berisi makanan untuk suaminya ke dalam kamar putra mereka. Ia merasa kasihan karena sampai sore hari, suaminya itu terus menjaga Bian tanpa bergerak sedikitpun kecuali ke toilet.


Abian menatap makanan yang di bawa Alena tanpa minat sedikit pun, tatapan matanya kembali beralih pada sosok mungil yang kini terbaring lemah di atas tempat tidur.


"Apa tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit?"


Alena menghela napasnya dengan lelah, sudah sepuluh kali Abian menanyakan hal tersebut.


"Kau lupa dengan apa yang dikatakan dokter? Jika demamnya tidak turun baru kita bawa ke rumah sakit. Sedangkan sekarang demam Bian sudah turun."


Abian mendesah frustasi, dan Alena yang melihatnya hanya bisa memaklumi apa yang dilakukan suaminya itu. Karena ini pertama kalinya Abian berhadapan dengan situasi dimana putra mereka sakit, berbeda dengan Alena yang sudah sering berada di situasi seperti ini.


"Kau tidak marah acara liburan kita gagal?" tanya Alena sembari menyuapkan satu sendok makan pada mulut Abian.


"Tinggal tiga hari Abian, waktu kebersamaan kita hanya tersisa tiga hari. Kau tidak lupakan dengan perjanjiannya?"


Abian yang tengah menatap putranya langsung menatap pada Alena, hatinya merasa sakit saat Alena dengan terang-terangan mengingatkan batas waktu mereka. Itu artinya, Alena tetap pada keputusannya untuk berpisah.


"Aku tidak lupa, tapi kita masih bisa pergi berlibur ke Bali meskipun dengan status yang berbeda. Dan kau harus mau ikut demi janjiku pada Bian," ucap Abian dengan lirih sembari mengusap rambut putranya dengan perlahan, menahan rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya saat teringat keinginan Bian yang ingin pergi berlibur bersama ke-dua orang tuanya.


Alena tersenyum getir sembari menaruh piring di atas nakas. "Kau akhirnya menyerah juga."


"Ini bukan tentang menyerah Alena, aku hanya tidak ingin lagi memaksakan kehendak. Apapun yang menjadi kebahagianmu dan Bian, akan menjadi kebahagian ku juga meskipun hati ini terluka." Abian menaruh kedua tangannya pada pipi Alena, mengusap dengan perlahan dan penuh kasih. "Kalau kebahagiaanmu dengan berpisah denganku, akan aku kabulkan keinginanmu."


"Abian.." Alena memeluk suaminya dengan erat, memeluk sosok yang sangat ia cintai sejak dulu hingga sekarang.


Abian pun membalas pelukan Alena. Hingga kini keduanya saling memeluk, menumpahkan semua rasa yang selama ini terpendam, dengan air mata yang mengalir dari kedua sudut mata mereka.


"Jangan menyerah..."


Deg.


"Alena..." Abian yang terkejut dan ingin menanyakan maksud perkataan Alena, justru tak bisa bergerak saat merasakan pelukan ditubuhnya semakin erat.


"Jangan pernah menyerah demi kami. Aku dan Bian, mari kita memulai semuanya dari awal," ucap Alena dengan terisak.