
"Bagaimana, apa sudah selesai?" Abian menatap Alena yang tengah mengemasi pakaiannya dan juga pakaian Bian. Karena hari ini rencananya mereka akan pergi berlibur ke Bali.
Ya, setelah beberapa kali Alena menolak keinginannya tersebut, akhirnya wanita itu mau diajak berlibur ke Bali saat ia mengatakan ingin menghabiskan sisa waktu tiga hari mereka dengan kenangan yang indah. Karena sesuai dengan kesepakatan, setelah satu bulan tinggal bersama maka mereka akan berpisah secara baik-baik.
Jika kalian pikir Abian sudah menyerah, maka itu salah. Karena meskipun waktu yang tersisa hanyalah tiga hari, Abian tetap akan berjuang meluluhkan hati Alena. Dan ia berharap saat di Bali nanti, hati istrinya akan terbuka dan mau memulai semuanya dari awal.
"Tinggal memasukkan mainan Bian saja," jawab Alena sembari menutup koper.
"Biar aku saja, kau coba tengok Bian di dalam kamarnya," Abian mengambil alih pekerjaan Alena.
"Baiklah," Alena pun keluar dari dalam kamar, menuju kamar putranya.
Namun belum ada lima menit istrinya keluar dari kamar, Abian segera berlari saat mendengar suara Alena yang berteriak memanggil namanya.
"Kenapa sayang?" tanya Abian dengan napas naik turun, dan wajah yang cemas setelah sampai di kamar putranya.
"Suhu tubuh Bian tinggi sekali," jawab Alena dengan cemas. Ia yang sedari tadi sibuk mengemasi semua keperluan yang akan di bawa mereka ke Bali, sampai melupakan keberadaan Bian yang memang sejak pagi terlihat tidak bersemangat.
Abian mendekat pada putranya, meletakkan punggung tangan di kening Bian sembari melihat Termometer yang diberikan Alena.
"Kita bawa ke rumah sakit!"
"Tunggu Abian! Lebih baik kita panggil dokter dulu."
"Tapi Alena, suhu tubuh Bian tinggi sekali," ucap Abian dengan cemas.
"Percayalah padaku, kita panggil dokter lebih dulu!"
Abian menatap Alena lalu menatap pada Bian. "Aku akan panggil dokter," dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi dokter pribadi keluarga Atmajaya.
Sedangkan Alena berlari menuju tempat penyimpanan obat-obatan, untuk mengambil obat penurun demam.
Jujur ia merasa sangat khawatir dengan keadaan putranya yang demam tinggi, karena ini baru pertama kalinya Abian menghadapi situasi tersebut. Berbeda dengan Alena yang lebih bersikap tenang, saat meminumkan obat untuk putra mereka.
"Anak pintar!" Abian mengusap putranya dengan penuh kasih sayang, setelah Bian meminum obat penurun panas. "Apa dia sering demam secara tiba-tiba?" tanyanya dengan cemas pada Alena yang sedang menaruh botol obat ke atas nakas.
Alena menganggukkan kepalanya. "Bian jika sedang sakit pasti diam, dia tidak rewel atau pun mengeluh. Jadi aku selalu kecolongan saat dia sakit dengan tiba-tiba."
Abian menganggukkan kepalanya, ia memahami posisi Alena yang pastinya kesusahan saat mengurus Bian sendirian.
"Daddy kapan kita pelgi ke Bali?" tanya Bian dengan lirih.
"Kita tidak jadi berangkat, karena Bian sedang sakit." Abian menatap putranya yang terlihat bersedih.
"Tapi Bian mau pelgi jalan-jalan."
"Iya jagoan, kita pasti pergi jalan-jalan. Tapi setelah Bian sembuh," bujuk Abian masih dengan menggendong putranya.
Namun bukannya mengerti, Bian justru menangis dengan menatap Daddy nya. "Bian tatut Daddy pelgi, meninggalkan Mom dan Bian."
Deg.
Baik Alena maupun Abian saling menatap dengan tatapan yang sama, sama-sama menatap penuh luka dan kesedihan.
"Daddy tidak akan pergi meninggalkan Mom dan Bian."
"Daddy janji?" Bian mengulurkan tangannya.
"Daddy janji sayang," Abian menerima uluran tangan tersebut sembari memeluk putranya dengan erat. Ya, dia berjanji tidak akan meninggalkan istri dan putra nya lagi meskipun Alena mengusirnya.