Bad Wedding

Bad Wedding
Part 37



Hari berganti hari dan setiap menit yang di jalani Alena begitu berat, karena setiap harinya dia akan melihat kemesraan suaminya bersama Sekar. Karena entah mengapa suaminya itu selama beberapa hari ini, justru lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Otomatis membuat Alena lebih sering berinteraksi dengan suaminya dan melihat bagaimana pria itu yang begitu perhatian pada Sekar.


Dan hari ini akan menjadi hari terakhir Alena berada di rumah, karena besok pagi sesuai dengan rencananya dia akan melarikan diri saat berbelanja bersama bi Yanti


"Non sedang apa?"


Alena yang sedang membuat susu coklat, menatap pada Bi Yanti. "Ini," ia memperlihatkan gelasnya.


"Oh..." Bi Yanti tersenyum.


"Bi tiap pagi jangan lupa buatkan susu coklat untuk Abian, dan nasi goreng dengan dua telur mata sapi. Jangan diberi sayuran karena Abian tidak suka."


"Loh kenapa bukan Non yang menyiapkan?" tanya Bi Yanti dengan bingung, karena biasanya nona Alena yang menyiapkan susu coklat dan sarapan pagi sampai makan malam untuk tuan Abian. Karena entah mengapa selama beberapa hari ini, tuannya yang bekerja di rumah hanya ingin di layani istrinya, meskipun meminta dengan cara yang kasar.


Seperti dua hari yang lalu sampai menyeret nona Alena keluar dari kamar, hanya untuk menyuruh wanita itu membuatkan mie instan. Padahal Nona Sekar sudah membuatnya untuk tuan Abian, tapi tuannya itu lebih memilih buatan istrinya.


"Aku hanya mengingatkan Bi, siapa tahu aku tidak bisa menyiapkan karena sakit," Alena tersenyum tipis. "Kasihan Abian kalau sampai harus menunggu. Bibi tahu kan setiap pagi Abian pasti muntah-muntah, susu coklat itu yang bisa membuat mual nya reda," jelas Alena dengan raut wajah senatural mungkin agar pelayannya tidak curiga.


Bi Yanti menganggukkan kepalanya. "Non, kenapa Non Alena masih bersikap baik pada Tuan, padahal selama ini Tuan Abian selalu menyakiti Nona. Sampai membawa wanita lain untuk tinggal bersama," tanya nya dengan memberanikan diri.


"Maksud Nona?" tanya bi Yanti dengan bingung, karena seharusnya yang merasa bersalah itu tuan Abian, karena pria itu sering menyakiti nona Alena.


"Aku merasa bersalah sudah merusak kebahagiaannya, memisahkan dia dengan wanita yang sangat dicintainya. Itu lah kenapa aku tidak bisa membencinya, tapi aku juga tidak bisa memaafkan apa yang sudah dia lakukan selama ini," Alena menghela napasnya dengan panjang lalu tersenyum kaku. "Aku ini aneh ya Bi, mencintainya tapi tidak bisa membencinya tapi juga tidak bisa memaafkan kesalahannya."


Bi Yanti yang memahami luka batin yang di rasakan nona nya, langsung memeluk wanita itu dengan erat. Dia paham apa yang dirasakan nona Alena, mencintai dengan segala kesakitan di dalamnya itu pasti sangatlah berat. Dan luka yang ditimbulkan tidak akan mudah hilang, dan pastinya akan selalu beriringan di setiap rasa cinta itu sendiri.


"Bi aku harus ke dalam kamar, aku tidak ingin melihat mereka bermesraan."


Bi Yanti yang mengerti mengurai pelukannya. "Non Sekar tidak ada, tadi Bibi dengar hari ini beliau pulang ke rumah orang tuanya."


"Oh..." Alena menganggukkan kepalanya. "Ya sudah aku masuk dulu, jangan lupa besok pagi aku ikut—"


"Ikut kemana?" potong Abian.


"Abian.. kau, sejak kapan kau ada di sana?" tanya Alena dengan wajah yang terkejut.