Bad Wedding

Bad Wedding
Part 59



Sementara itu di tempat yang berbeda lebih tepatnya di sebuah markas besar tim Delta, seorang wanita cantik dengan rambut panjang berwarna pirang tengah berjalan dengan tergesa-gesa memasuki markas tersebut.


"Dimana dia?" tanya Aluna dengan tidak sabaran saat bertemu dengan sepupunya.


"Yakin kau ingin melihatnya?" Boy merapihkan kembali lengan kemejanya yang tadi sempat di gulung, saat memberikan hadiah pada Abian yang sudah berani melukai Alena.


"Tentu saja, dimana dia?"


Boy menatap Agam, meminta pendapat sepupunya itu untuk mengijinkan Aluna bertemu atau tidak dengan Abian. Karena dia takut Aluna akan pingsan setelah melihat maha karya yang baru saja dibuat oleh mereka, apalagi Boy mengetahui Aluna begitu takut dengan darah.


"Sebaiknya jangan! Lagi pula untuk apa kau ingin bertemu dengannya?"


"Aku ingin membalas apa yang pernah dilakukan Abian pada Alena," ucap Aluna dengan menggebu.


"Tidak perlu! Karena kami sudah memberikan apa yang kau inginkan," Agam berkata dengan datar.


"Tapi aku ingin melakukan juga, dengan tanganku sendiri."


"Dan kau akan pingsan jika melihat keadaan biawak saat ini," sahut Boy sembari berjalan menuju sofa yang ada diruangan tersebut, meminta minuman dingin pada salah satu pengawalnya karena saat ini dirinya begitu lelah dan kehausan.


"Aku tidak akan pingsan."


"Aku.. aku berjanji tidak akan pingsan, jadi tunjukkan dimana tempatnya." Meskipun sedikit ragu tapi Aluna tetap pada pendiriannya. Ia ingin melihat secara langsung penderitaan Abian dengan mata kepalanya sendiri, dan tentu saja ingin menambahkan luka itu dengan kebenaran yang dibawanya.


Boy menghela napasnya dengan kasar saat melihat sikap Aluna yang keras kepala, ia pun menyuruh Agam untuk mengantar adik sepupunya itu ke ruangan Abian, karena tidak mau repot dengan mengurusi orang yang pingsan. Agam pun mau tidak mau mengantarkan Aluna, karena tidak tega jika adik sepupunya itu pingsan dan hanya dibantu oleh para pengawal mereka.


"Tutup matamu!" Agam menutup kedua mata Aluna dengan tangannya, hanya untuk memastikan adik sepupunya itu tidak membuka kedua matanya. "Buka perlahan dan saat kau merasa tidak kuat, aku akan menutup kembali matamu," bisiknya dengan menjauhkan tangannya dari mata Aluna.


Dengan perlahan Aluna membuka kedua matanya, dia menjerit dengan wajah yang terkejut saat melihat Abian terkapar tak berdaya di atas lantai dengan luka parah di seluruh wajah, dan mungkin tubuhnya. Aluna bergidik ngeri bahkan merasakan mual saat melihat darah yang keluar dari kedua sudut bibir dan pelipis Abian, darah yang keluar itu bahkan sampai mengenai kemeja putih yang dikenakan pria itu.


Entah apa saja yang dilakukan kedua sepupunya sampai membuat Abian tak sadarkan diri. Tapi yang pasti pukulan yang diterima pria itu sangatlah kuat dan keras, bahkan ia bisa melihat kursi yang terbuat dari kayu yang ada di samping mereka sudah tak berbentuk.


"A dia masih hidupkan?" Aluna mendekat dengan kaki yang gemetar, dan sekuat mungkin menahan untuk tidak jatuh pingsan saat kepalanya pusing melihat darah.


"Entahlah!" jawab Agam dengan singkat dan datar. "Hei cepat bawa air!" perintah Agam pada anak buahnya.


Aluna yang tidak tahu apa yang akan dilakukan Agam, hanya diam berdiri sembari menutup mulutnya. Tak berapa lama ia dibuat terkejut saat melihat air yang dibawa pengawal tersebut, dibanjur ke atas tubuh Abian hingga membuat pria itu tersadar lalu mengerang kesakitan.


"Lihatlah siapa yang datang!" Agam mencengkram kuat rahang Abian.


Abian yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya terutama di bagian belakang, mencoba untuk melihat dengan jelas sosok yang berdiri dihadapannya. Walaupun kedua matanya sangat sulit untuk melihat karena bengkak, dan juga merah karena secara terus menerus menerima pukulan dari kedua sepupu Alena.