
Ia bahkan masih mengingat dengan jelas di saat-saat terakhir Ayahnya, yang meminta agar dirinya bisa menemukan Alena dan hidup bahagia bersama istri dan anak mereka.
"Ayah menitipkan satu pesan untukmu. Dia meminta maaf karena dulu tidak bisa menjagamu sebagai menantunya."
"Ayah..." Alena kembali menangis bahkan lebih keras, hingga membuat Bian bingung dan langsung memeluknya.
"Mommy kenapa menangis?"
"Mom tidak apa-apa sayang."
Melihat Alena yang menangis pilu, dengan memberanikan diri Abian memeluk wanita dan putranya dengan rengkuhan yang erat.
"Aku ingin ke makam Ayah," pinta Alena masih dengan tangisnya.
Abian menganggukkan kepalanya, dengan senang hati ia membawa istri dan putranya untuk bertemu dengan Ayah nya, walaupun tempat yang mereka tuju adalah tempat peristirahatan terakhir Ayah Atmajaya.
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, akhirnya mereka sampai di tempat pemakaman. Di sana Alena kembali menangis, dan Abian dengan sigap menenangkan sang istri juga putranya yang terlihat bingung dengan apa yang terjadi pada Mommy nya.
Setengah jam lamanya mereka berada di tempat pemakaman, dan setelah selesai Alena meminta untuk diantar ke kediaman Atmajaya. Abian pun dengan penuh semangat mengantarkannya, karena Ibu Ayuning dan Tia pasti akan bahagia jika bertemu dengan Alena dan Bian.
"Ibu..." Alena langsung berlari dan jatuh berlutut di pangkuan Ibu mertuanya yang sedang duduk di ruang tengah.
Ayuning yang semula bingung dengan apa yang terjadi, karena tiba-tiba saja Alana berlutut di pangkuannya. Langsung tersenyum bahagia saat melihat Abian yang berjalan dengan menggendong seorang anak laki-laki yang wajahnya begitu mirip dengan sang putra. Ayuning pun sadar jika wanita yang tengah menangis itu bukanlah Alana melainkan Alena, menantu yang sudah sangat lama ia rindukan, dan menantu yang telah disakitinya selama ini.
Ya, Ayuning sadar kesalahan yang diperbuatnya dulu sangatlah fatal. Ia tidak pernah menganggap Alena menantunya, bahkan selalu menyuruh putranya untuk bercerai dan menikah lagi dengan wanita pilihannya. Padahal Alena adalah orang yang telah menyelamatkan nyawanya dengan mendonorkan darah untuknya.
"Alena juga minta maaf Bu, Ayah Atmajaya..."
Ayuning menggelengkan kepala, mengusap air mata menantunya itu dengan perasaan bahagia bercampur rasa penyesalan yang teramat dalam saat teringat suaminya yang telah tiada.
"Ayah sudah beristirahat dengan tenang, Nak..."
Abian yang sejak tadi diam memperhatikan Ibu dan istrinya yang saling berpelukan meminta maaf, ikut terharu dan merasa bahagia dengan apa yang dilihatnya. Hanya satu penyesalan dalam hidupnya, ia tidak bisa mempertemukan putranya dengan Ayah Atmajaya yang telah tiada.
"Kak Alena..." Tia yang sejak tadi ada di ruangan tersebut, dan ikut melihat apa yang terjadi. Langsung berhambur memeluk kakak ipar nya yang sudah tiga tahun lamanya tidak berjumpa.
"Tia..." Alena membalas pelukan adik iparnya.
Sementara Ayuning berjalan menghampiri Abian yang tengah menggendong anak kecil yang sudah dapat dipastikan Cucunya.
"Namanya Bian Atmajaya," jelas Abian dengan bangga pada sang Ibu.
"Cucu ku..." Ayuning kembali menangis sembari memeluk cucu laki-laki yang sejak dulu ingin dilihatnya.
Abian, Alena, dan Tia, ikut menangis melihat bagaimana Ibu Ayuning memeluk Bian dengan erat dengan kata-kata maaf yang keluar dari wanita paruh baya tersebut. Hingga membuat suasana di kediaman Atmajaya begitu haru dengan tangis kebahagiaan, di saat semua orang yang ada di dalamnya saling meminta maaf dan menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya masing-masing.