
Ditengah kegalauan hati dan pikirannya, Alena baru teringat akan sesuatu, yaitu keberadaan dua orang pengawal yang selalu berjaga di depan pintu apartemen nya. Karena tadi para pengawalnya itu tidak terlihat, hingga menyebabkan Abian bisa dengan mudah datang menemuinya.
"Alex pasti tahu sesuatu," sembari terus menenangkan putranya yang masih menangis, Alena mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Alex untuk secepatnya datang ke apartemen.
Sementara itu Abian yang masih berada di luar, terus berdiri di depan pintu apartemen tanpa mau beranjak sedikit pun dari tempat tersebut. Ya, dia akan terus berada di luar sampai Alena mau memaafkannya. Lagi pula Abian takut jika pergi dari tempat tersebut, Alena dan putranya akan melarikan diri lagi.
Drt.. drt.
Abian menatap ponselnya yang berdering, dan langsung mengangkatnya setelah mengetahui orang yang menghubunginya adalah Ben.
"Bagaimana?" tanya Abian to the poin.
"Nona Alena berada di perusahaan Gold, sebagai Nona Albi." jelas Ben melalui sambungan ponselnya. Ia mengetahui informasi tersebut langsung dari tuan Sky setelah diminta oleh Abian untuk mencari tahu ada urusan apa Alena di perusahaan Gold.
"Albi? Apa Albi yang kau maksud adalah wanita yang diajak berkerja sama dengan perusahaan kita?"
"Ya Tuan."
Abian terdiam sesaat, lalu di detik selanjutnya sebuah senyum terukir di wajahnya.
"Coba kau periksa isi perjanjian kontrak yang sudah ditandatangani Alena, dan laporkan padaku secepatnya!"
"Baik Tuan," Ben hendak menutup ponselnya kalau saja tidak mendengar interupsi dari tuan Abian.
"Siapkan beberapa orang untuk berjaga di depan pintu utama apartemen! Aku tidak mau kehilanganmu istri dan anakku lagi."
"Baik Tuan."
Setelah menutup ponselnya, Abian kembali menatap pintu apartemen dengan tatapan sendu dan hati meringis pilu. Di dalam sana ada dua orang tercinta yang sangat dirindukannya, tapi ia tidak bisa masuk untuk menemui keduanya karena kesalahan yang pernah dilakukannya beberapa tahun yang lalu.
"Aku benar-benar menyesal Alena. Apa pun akan aku lakukan asal kau mau memaafkanku dan memberikan kesempatan bagi hubungan kita. Karena sampai detik ini kau masih istriku dan selamanya akan tetap menjadi istriku."
*
*
"Itu pasti dari Alena?" tanya Boy yang sedang duduk di kursi kerjanya.
Alex menganggukkan kepala. "Alena memintaku datang ke apartemen."
Kini Boy yang menganggukkan kepala dengan jari yang mengetuk diatas meja.
"Abaikan saja!"
"Tapi Tuan..."
"Sudah waktunya Alena menghadapi dan menyelesaikan semua permasalahan dengan suaminya. Dan kita terutama kau, hanya bisa menjaganya dari jauh."
"Tapi Tuan, aku khawatir Alena tidak bisa—"
"Dia bisa, aku yakin adik sepupuku bisa menghadapi permasalahannya. Lagi pula ada tugas penting yang harus kau kerjakan."
"Tugas penting?" tanya Alex dengan mengerutkan keningnya.
"Ya, tugas penting dan sangat berbahaya."
Mendengar kata berbahaya, tentu saja membuat andrenalin di dalam tubuh seorang Alexander meronta-ronta. "Aku akan melaksanakan tugas yang Anda berikan," ucap Alex dengan menggebu. Karena setelah tiga tahun lamanya ia menjalani tugas menjaga dan menemani Alena, akhirnya tuan Boy mengembalikan dirinya ke jalan yang benar dengan posisi seharusnya sebagai ketua tim delta, yaitu mengerjakan tugas penting dan berbahaya.
"Kau yakin ingin mengerjakannya?"
Dengan cepat Alex menganggukkan kepala. Ia sudah tidak sabar untuk menjalankan tugas berbahaya dari tuan Boy, meskipun disudut hatinya yang terdalam ia merasakan sesuatu yang tidak enak akan terjadi padanya.
"Bagus! Kau memang ketua Tim Delta yang patut di acungi jempol." Boy tersenyum puas, karena lagi-lagi Alexander mau mengerjakan tugas yang diberikannya tanpa bertanya lebih dulu tugas seperti apa, sama seperti yang sudah-sudah pria itu akan mengerjakan apa yang disuruh olehnya sekalipun tidak menyukainya.
NB~ part selanjutnya Abian akan berjuang untuk mendapatkan kembali Alena, dan tebak tugas apa yang diberikan Boy pada Alex?🤭