
"Non cepat pergi! Ini waktu yang tepat, biar Bibi yang menghalangi mereka," bisik Bi Yanti.
"Tapi Bi..."
"Pergi Non!" Bi Yanti mendorong pelan nona Alena.
Dengan memberanikan diri Alena berjalan mundur, lalu berlari setelah mengucapkan terima kasih pada Bi Yanti.
"Non Anda mau kemana?" salah satu pengawal yang melihat Alena berlari, hendak mengejar wanita itu. Namun langkahnya terhalang troli belanjaan yang tiba-tiba didorong Bi Yanti dengan kuat, hingga membuatnya terjatuh.
"Ayo cepat berdiri, dan kejar dia!" pengawal yang sudah menutup ponselnya, mencoba membantu temannya berdiri. "Tadi Tuan marah, karena Nona Alena Keluar dari rumah!" jelas nya sambil mendorong Bi Yanti dan berlari dengan cepat mengejar nona Alena.
Sementara itu Bi Yanti yang melihat Nona Alena berlari semakin menjauh, hanya bisa berdoa agar wanita itu bisa meloloskan diri dari kedua pengawal Tuan Abian. Ya, Bi Yanti yang baru mengetahui tujuan nona Alena yang sebenarnya, saat wanita itu mengatakan sudah mendapatkan ijin pergi dari tuan Abian. Sengaja berpura-pura tidak tahu, sambil memikirkan cara untuk membantu nona nya melarikan diri.
Bi Yanti tidak peduli jika yang dilakukannya akan membuat Tuan Abian marah, bahkan kemungkinan yang terburuknya akan dipecat. Tapi Bi Yanti tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena yang terpenting baginya saat ini adalah membebaskan rantai kesedihan yang membelenggu nona Alena.
"Nona berhenti!" kedua pengawal tersebut mengejar istri tuan Abian, meski sedikit kesusahan karena banyaknya pengunjung.
Namun karena terus berlari sambil menatap kebelakang, Alena sampai tidak melihat seseorang yang ada di depannya, hingga menabrak sampai membuat tas yang dipegangnya terjatuh. Alena yang hendak mengambil tas nya, mengurangkan niat tersebut saat melihat kedua pengawal Abian yang semakin dekat.
"Ah.. lupakan saja!" Alena pun memilih kembali berlari, meskipun tas yang berisi uang dan berkas penting miliknya harus hilang. Karena yang terpenting saat ini adalah bisa lolos dari kedua orang pengawal yang mengejarnya.
"Ini tas Nona, ayo cepat kejar dia!"
Kedua orang pengawal tersebut berlari semakin kencang, dan saat melihat nona Alena berhasil keluar dari supermarket tersebut, keduanya semakin bersemangat untuk mengejar. Karena tas nona Alena yang ada di tangan mereka, membuat wanita itu tidak akan bisa pergi jauh.
"Ya Tuhan aku harus kemana?" Alena menatap ke kiri dan kanan. Dia bingung harus melarikan diri kemana, karena tidak memegang uang sepeserpun. Ingin naik taksi tapi Alena bingung harus membayarnya dengan apa.
"Itu Nona Alena!"
Melihat kedua pengawal yang berjarak tidak jauh darinya, Alena pun kembali berlari meskipun tubuh dan perutnya terasa sakit. Karena sudah tidak sanggup untuk menahan rasa sakit di perutnya, Alena pun memilih berhenti berlari lalu bersembunyi diantara mobil yang terparkir di halaman supermarket.
"Ya Tuhan, tolong aku!" ucap Alena sambil menahan isak tangisnya, menunduk bersembunyi saat mendengar suara pengawal Abian yang memanggil namanya. "Mom.. Dad.. Alena tidak kuat, Alena menyerah..." lirihnya dengan wajah yang ketakutan saat mendengar derap langkah yang mendekat, dan berhenti tepat di depannya. Hingga membuat Alena bisa melihat dengan jelas dua pasang sepatu berwarna hitam, yang sudah dapat dipastikan milik dua orang pria.