
Sementara itu Alex yang sudah sampai di mansion utama, berjalan menuju ruang kerja Boy Arbeto dengan langkah tegapnya. Namun langkah itu terhenti saat menatap sosok wanita yang berjalan kearahnya.
"Alex..." sapa Alana dengan terkejut.
"Nona Alana," Alex membungkuk memberi hormat.
"Sejak kapan kau berada di Jakarta?"
"Aku baru saja sampai," jawab Alex dengan sopan meskipun wanita itu bertanya dengan nada menyelidik. Alex menyadari nona Alana sudah mencurigainya sejak dulu, sebagai orang yang menyembunyikan saudara kembarnya itu. Bahkan nona Alana sempat nekat beberapa kali mengikutinya saat ia berada di Jakarta.
"Oh baru sampai..." Alana menatap Alexander dengan intens, mengintimidasinya untuk mengetahui apa yang sedang dipikirkan pria itu.
"Aku permisi Nona, Tuan B sedang menunggu." Alex kembali berjalan menuju ruang kerja Boy Arbeto.
"Tunggu!"
Alex menghentikan langkahnya, lalu menatap kembali pada nona Alana.
"Aku tahu selama ini kau yang sudah menyembunyikan adikku," Alana berjalan mendekat pada sosok Alexander, pada sosok tampan yang memiliki berjuta misteri, sosok yang bisa datang dan pergi tanpa diketahui oleh siapa pun. Bahkan selama ini hanya Boy, Agam, dan Mars, yang mengetahui dengan jelas siapa itu Alexander. "Beritahu aku dimana Alena?"
"Aku tidak tahu Nona."
"Kau berbohong Alex, aku tahu betul kau yang menyembunyikan Alena."'
Alex tidak menggubris perkataan Alana, ia menunduk hormat sebelum pergi dari tempat tersebut.
"Alex tunggu! Beritahu aku dimana Alena!" Alana ingin sekali menyusul pria itu, namun niat tersebut diurungkannya saat melihat Alex masuk ke dalam ruang kerja Boy Arbeto. "Sial!" umpatnya lalu pergi dari mansion utama, sembari berpikir bagaimana caranya untuk membuntuti Alex kembali seperti yang pernah ia lakukan selama ini.
*
*
Alena yang tengah mempersiapkan berkas yang akan dibawanya besok untuk pertemuan dengan pihak Gold, dikejutkan dengan putranya yang masuk ke dalam ruang kerja sembari menangis. Ya, sejak pagi putranya itu rewel entah karena apa.
"Berhenti menangis sayang, Bian mau apa?" tanya Alena dengan lembut sembari mengangkat putranya kedalam pangkuan.
"Main.. main," jawab Bian sembari memperlihatkan bola yang ada ditangannya.
Membuat Alena menghela napas dengan panjang, saat baru menyadari putranya itu rewel karena ingin bermain. Biasanya Alex yang akan mengajak Bian bermain bola, namun sejak kemarin pria itu belum kembali dari mansion utama, sehingga putranya tidak ada yang mengajak untuk bermain.
"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan saja?"
Kedua mata Bian yang basah oleh air mata langsung berbinar dengan penuh semangat. "Ice cream, Bian mau ice cream."
"Oke sayang, tapi janji dulu tidak boleh makan ice terlalu banyak."
Bian menganggukkan kepalanya dengan cepat, membuat Alena menjadi gemas dengan putranya itu.
"Kalau begitu kita pergi sekarang!" seru Alena sembari menurunkan putranya dari pangkuan, berjalan sambil menggandeng tangan mungil Bian keluar dari apartemen. Dan seperti yang pernah disampaikan Alex, Alena pun pergi dengan ditemani para pengawal menuju salah satu pusat perbelanjaan terkenal yang ada di Jakarta.
Setelah sampai Alena langsung membawa putranya ke tempat bermain yang ada di pusat perbelanjaan tersebut, setelah sebelumnya sempat salah tempat karena selama tiga tahun dirinya tinggal di New York, banyak perubahan yang terjadi pada pusat perbelanjaan tersebut. Setelah puas bermain bersama putranya, Alena membawa Bian pergi untuk mencari tempat makan karena mereka belum makan siang.