
"Aku tidak akan menangis," ucap Alena dengan suara yang bergetar, sambil mengusap air mata dari ke-dua pipinya. "Air mata ini adalah kebahagiaan, karena setelah tiga tahun akhirnya semua selesai. Dan aku bisa melanjutkan hidupku bersama Bian," Alena menjadi tangguh kembali, setelah sempat rapuh mendengar kabar Abian dan Alana yang akan segera menikah.
"Alena..." Alex ingin memeluk wanita itu, tapi dia sadar diri dengan statusnya yang hanya sebagai pengawal pribadi.
"Aku harus kembali ke kamar, takut Bian mencari ku." Alena bergegas masuk ke dalam mansion, karena putranya memang sering terbangun mencarinya.
Sedangkan Alex hanya bisa menghela napasnya saat melihat punggung Alena yang semakin menjauh dari pandangan. Ia tahu sangat sulit berusaha tangguh di saat hati kita merasa sedih, dan Alex bangga Alena sudah bisa melewati itu semua.
*
*
Sementara itu di salah satu apartemen mewah yang ada di Jakarta, terlihat seorang pria tampan dengan wajah yang dingin menatap pada jalanan yang terlihat macet dari jendela apartemen. Tangan satu nya memegang ponsel mendengar apa yang dikatakan lawan bicaranya, sedangkan satu tangan lainnya berada di saku celana.
"Bagus!" ucap pria itu.
"Apa kau yakin akan berhasil?" tanya wanita tersebut melalui sambungan ponsel.
"Harus berhasil!" pria itu lalu menutup panggilan tersebut secara sepihak. Kedua matanya kini menatap pada foto besar yang tergantung di atas dinding ruangan, dengan raut wajah dingin namun penuh dengan luka di kedua matanya. "Tiga tahun..." ia terus menatap foto tersebut, foto seorang wanita yang sudah menjadi penyemangat selama masa keterpurukannya. "Sudah tiga tahun aku menunggumu Alena Ricardo..."
Flashback on.
"Abian tunggu!" Alana menarik tangan mantan kekasihnya. "Setelah kau mengetahui semuanya, kini siapa yang ada di hatimu? Aku atau Alena?"
"Aku hanya mencintai satu wanita, sejak dulu dan sampai detik ini hanya Al yang ada di hatiku. Jadi kau pasti tahu apa jawabannya," ucap Abian dangan jujur. Karena memang yang ada dihatinya sejak dulu hanya Al, dan saat bersama Alena ia selalu merasa nyaman berada di dekat wanita itu. Sebuah rasa yang baru ia sadari, bahwa sejak dulu hatinya sudah merasakan Alena adalah Al nya. Tapi rasa obsesi untuk bisa bersama cinta pertamanya yang ia kira Alana, membuat rasa itu tertutup.
Setelah menjawab pertanyaan Alana, Abian pergi dari ruangan tersebut. Meninggalkan mantan kekasihnya tanpa mau melihat kebelakang lagi. Karena yang ingin ia lakukan saat ini hanyalah mencari tahu keberadaan Alena, ia ingin meminta maaf pada wanita itu atas semua yang telah dilakukannya selama ini.
Namun rupanya Tuhan berkehendak lain, karena setelah satu Minggu kepergian Alena, ia belum juga mengetahui keberadaan istrinya. Sudah banyak tempat yang Abian datangi, termasuk mansion utama yang begitu sulit di masuki oleh orang lain tanpa ijin.
Bahkan karena perbuatannya yang nekat memaksa masuk kedalam mansion utama, ia kembali mendapatkan luka di sekujur tubuhnya oleh para pengawal Boy Arbeto. Tapi dirinya tidak perduli, Abian bahkan nekat menemui sepupu Alena di perusahaan tempat pria itu bekerja, dan hasilnya ia kembali mendapatkan luka ditubuhnya yang bahkan belum sempat mengering hingga sampai masuk ruang UGD.
Di bawah tekanan yang begitu hebat, karena rasa bersalahnya pada Alena dan juga rasa bersalahnya karena sudah membuat perusahaan Atmajaya bangkrut, membuat mental seorang Abian Atmajaya berada dititik terendah. Hingga dia memilih mengalihkan semua rasa sakitnya dengan cara mabuk-mabukkan setiap hari.
Abian benar-benar terpuruk dengan semua yang dialaminya, hingga selama satu bulan lebih mengurung diri di kamar Alena dengan minuman keras yang menjadi teman setia.
Hingga akhirnya Ben datang menemuinya, memberitahu sebuah informasi penting yang membuat Abian kembali bersemangat mencari Alena, dan memperbaiki kekacauan yang sudah diperbuatnya. Sebuah informasi yang membuat Abian bahagia sekaligus terharu secara bersamaan, saat mengetahui Alena tengah mengandung darah dagingnya.
Kini ia tahu arti tulisan tangan Alena yang mengatakan pergi dengan membawa bagian dari dirinya, karena memang wanita itu benar-benar pergi dengan membawa benih miliknya yang baru berusia beberapa Minggu.
Flashback off.
"Sampai detik ini aku tidak tahu bagaimana kabarmu, dan anak kita. Tapi sebentar lagi kita akan bertemu Alena Ricardo..." Abian tersenyum menatap wajah cantik wanita yang masih berstatus sebagai istrinya, meskipun selama tiga tahun ini mereka terpisah.