
Malam harinya. Seperti malam-malam sebelumnya, Abian masuk ke dalam kamar Alena saat wanita itu sudah tertidur dengan lelap. Namun sayangnya untuk kali ini Abian salah perhitungan, karena tenyata Alena belum tertidur. Wanita itu baru saja keluar dari dalam bathroom, bertepatan dengan dirinya yang masuk ke dalam kamar.
"Abian apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Alena dengan terkejut.
"Aku..." Abian menelan salivanya dengan susah payah. Bukan karena ketahuan sudah tertangkap basah masuk ke dalam kamar Alena, tapi karena melihat apa yang dikenakan wanita itu.
Alena mengenakan pakaian tidur dengan model dress di atas lutut, dengan bagian atas yang hanya disangga oleh kedua tali tipis. Dan semua pemandangan itu berhasil membuatnya bergairah, mungkin karena sudah lama tidak menyentuh wanita membuat sesuatu yang ada di dalam tubuhnya meronta-ronta ingin keluar.
"Abian kau..." Alena terkejut saat tiba-tiba saja pria itu menariknya dengan cepat, membawa tubuhnya jatuh ke atas tempat tidur.
Sebagai seorang wanita terutama seorang istri, Alena tahu apa yang saat ini diinginkan suaminya. Apalagi saat melihat kedua mata pria itu yang tertutup kabut gairah.
"Layani aku malam ini!" setelah mengucapkannya, Abian melu-mat bibir Alena tanpa menunggu jawaban dari wanita itu. Bahkan dengan cepat, tangannya melucuti satu persatu pakaian yang dikenakan Alena.
"Tunggu!" Alena menahan dada bidang suaminya, yang entah sejak kapan sudah melepaskan pakaian hingga memperlihatkan tubuh kekar dan berotot milik pria itu. " Aku mohon lakukan dengan perlahan!" pintanya, karena memikirkan janin yang ada di dalam kandungan.
Abian terdiam sesaat lalu kembali menyentuh Alena, dan sesuai apa yang diinginkan wanita itu, ia menyentuhnya dengan perlahan. Bahkan percintaan mereka kali ini benar-benar di lakukan dengan sangat lembut.
"Aku harus membuatnya lelah, agar Abian bangun kesiangan," gumam Alena dalam hati ditengah-tengah percintaan panas mereka.
Entah berapa lama ke-duanya mengarungi kenikmatan surga dunia, hingga akhirnya tubuh Abian ambruk di samping Alena setelah pelepasan mereka dapatkan.
"Abian tidurlah dikamar ku! Untuk kali ini saja," pinta Alena saat melihat suaminya hendak turun dari atas tempat tidur.
"Jangan kau pikir, setelah memberikan apa yang ku minta bisa seenaknya mengaturku!" ucap Abian dengan tegas, menatap tajam pada Alena yang tengah menutupi tubuh polosnya dengan selimut.
"Aku tidak mengatur, aku hanya meminta. Untuk kali ini saja kabulkan permintaanku," sekali lagi Alena memohon agar pria itu mau mengabulkan keinginannya. "Sejak kita menikah, aku tidak pernah meminta sesuatu. Tapi untuk kali ini saja penuhi keinginanku. Aku ingin merasakan tidur di sampingmu, setelah kita selesai bercinta," ucap Alena dengan sendu.
Namun semua ucapannya itu tidak membuat hati suaminya tersentuh sedikitpun, untuk mengabulkan keinginannya. Karena Abian justru terlihat memunguti celana dan pakaiannya, membuat Alena sedih hingga menundukkan kepala. Tapi rasa sedih itu hilang seketika saat ia merasakan sisi ranjangnya bergerak, menandakan seseorang menaiki tempat tidur tersebut. Ia terkejut saat melihat Abian berbaring di atas ranjang dengan posisi membelakanginya.
"Terima kasih," ucap Alena dengan lirih.
"Berisik! Tidurlah jangan menggangguku!" sahut Abian tanpa menoleh kebelakang.
Alena tersenyum dengan air mata yang jatuh di kedua pipinya, menatap punggung Abian yang terlihat sudah mengenakan pakaian.
"Terima kasih Tuhan, sudah memberikan kesempatan terindah ini sebagai perpisahan kami," gumamnya dalam hati. Mengusap air matanya, lalu ikut berbaring di samping Abian dengan menatap punggung pria itu.