Bad Wedding

Bad Wedding
Part 92



"Apa maksudmu Al? Bukankah kau memintaku datang untuk menghadiri acara pernikahan kalian?"


"Ya, aku memang memintamu datang. Tapi untuk membuatmu keluar dari tempat persembunyian."


Alena yang masih bingung hanya bisa diam sembari mencerna perkataan saudara kembarnya.


"Kau pasti bingung," Alana menggenggam tangan adiknya, bersiap untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. "Dengar Ale, rencana pernikahan kami hanyalah sebuah kebohongan. Kita merencanakan semua itu hanya untuk membuatmu datang ke Jakarta. "


"Apa?" Alena benar-benar terkejut, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Alana.


"Kami terutama Abian sudah mencarimu selama tiga tahun ini, tapi hasilnya selalu nihil. Jadi kami mencoba cara tersebut untuk membuatmu datang ke Jakarta. Dan tara.. rencana itu berhasil. Kau ada di sini sekarang, dihadapanku."


"Ta-tapi Al, bukankah Abian sangat mencintaimu, dan kau—"


"Abian tidak pernah mencintaiku, karena sejak dulu yang dicintai pria itu adalah sosok Al, dan kita tahu jelas siapa Al."


"Kau pasti berbohong! Aku masih ingat dengan jelas, Abian mengatakan akan tetap mencintaimu meskipun kau bukan Al nya." Alena menggelengkan kepala tak percaya.


"Untuk apa aku berbohong? Apa untungnya?" Alana mencoba bersabar untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi. "Dengar Ale, wanita yang dicintai Abian hanya kau, tidak ada yang lain. Percayalah padaku."


"Maafkan semua kesalahan Abian, meskipun berat bagimu melakukannya. Tapi satu yang harus kau tahu, bukan hanya kau yang terluka. Aku juga Abian sama terlukanya. Kita bertiga sama bersalah dan sama terlukanya. Apalagi Abian, dia sangat terpukul saat mengetahui kau adalah Al nya. Apalagi saat mengetahui kau sedang hamil. Bahkan suamimu mengalami begitu banyak kesulitan setelah kau pergi." Alana mengingat kembali bagaimana seorang Abian yang jatuh sampai sejatuh-jatuhnya tiga tahun yang lalu.


Perusahaan Atmajaya gulung tikar, bahkan Abian sampai bolak-balik masuk rumah sakit hanya untuk mencari dimana keberadaan Alena. Dan Alana menyaksikan semua itu tanpa bisa melakukan apa pun, karena dirinya tidak punya kekuatan untuk melawan kekuasaan Arbeto yang berdiri di belakang Alena.


"Kau saja bisa memaafkanku berarti kau juga bisa memaafkannya," pinta Alana dengan memohon.


"Aku sudah memaafkannya, tapi untuk melupakan semua perbuatannya aku tidak bisa." Alena menundukkan kepala, air mata menetes saat matanya menatap wajah putranya yang ada dipangkuan.


"Ale..." Alana memeluk adiknya dengan erat. Ia bisa melihat luka di kedua mata saudara kembarnya itu, sebuah luka yang ia pun turut andil didalamnya. "Luka yang kau rasakan mungkin tidak akan pernah bisa dilupakan, aku tahu itu. Tapi beri satu kesempatan bagi Abian untuk memperbaiki semua kesalahannya, atau setidaknya pertemukan dia dengan putranya." Alana mengusap rambut Bian dengan penuh kasih.


"Untuk apa Al? Dia tidak pernah menginginkannya." Alena masih mengingat dengan jelas semua perkataan Abian, dimana pria itu tidak sudi jika dirinya menjadi ibu dari anak-anaknya.


"Abian sangat menginginkannya. Jika tidak, mana mungkin dia mencari kalian sampai mengorbankan diri keluar masuk rumah sakit untuk mengetahui dimana kalian tinggal."


"Keluar masuk rumah sakit?" pekik Alena dengan wajah yang terkejut.


Alana menganggukkan kepalanya, mulai menceritakan semua yang terjadi pada Abian setelah Alena pergi. Bagaimana terpuruknya pria itu, jatuhnya ekonomi keluarga Atmajaya karena perusahaan yang gulung tikar. Dan bagaimana Abian yang harus keluar masuk rumah sakit karena di pukuli para pengawal Boy Arbeto, dan kenekatan pria itu yang datang menemui Dad Antoni yang berakhir dengan tergeletak di rumah sakit.