
"Ck..." Abian beranjak dari tempat duduknya, mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan wanita itu tertawa sampai merusak konsentrasinya dalam bekerja. "Di foto itu tidak ada yang lucu sama sekali!" Abian menarik album foto miliknya.
"Di foto itu memang tidak ada yang lucu, tapi saat kau berlari dengan wajah yang ditekuk sampai terjatuh yang membuatnya menjadi lucu," ucap Alena tanpa sadar.
Deg.
Abian terkejut, karena Alena mengetahui kejadian saat itu. Padahal jelas-jelas yang ada di tempat tersebut hanya ada dirinya, Alana, dan juga Ayah Atmajaya.
"Bagaimana kau bisa tahu apa yang terjadi?"
"Maksudmu?" tanya Alena dengan bingung.
"Bagaimana bisa kau tahu aku terjatuh setelah di foto, padahal saat itu tidak ada dirimu?"
Deg.
kali ini Alena yang terkejut, karena baru menyadari kelepasan bicara.
"Jawab aku! Dari mana kau tahu semua itu?" Abian mencengkram tangan Alena, entah mengapa perkataan wanita itu membuat hati dan pikirannya tak menentu. Membuat Abian teringat kembali perkataan konyol Alena, yang bertanya jika seandainya wanita yang menolongnya saat itu adalah Alena bukan Alana.
"Aku.. aku tahu itu dari Alana, dia yang cerita setelah pulang dari kediaman Atmajaya," jawab Alena dengan gugup.
"Apa minuman nya sudah habis? Kalau sudah aku keluar sekarang!" Alena sengaja mengalihkan pembicaraan, matanya menatap gelas yang ada di atas meja untuk menghindari tatapan mata Abian.
"Keluarlah!"
Alena yang sedikit tersentak dengan pengusiran Abian, segera berlalu dari ruangan tersebut tanpa menatap kebelakang, meninggalkan Abian di ruangan tersebut seorang diri.
"Syukurlah Abian tidak curiga," gumam Alena sembari berjalan menuju kamar. Sebenarnya tidak masalah jika Abian mengetahui kebenaran itu, karena tidak akan mengubah apa pun. Hati suaminya sudah milik Alana, dan selamanya akan menjadi milik saudara kembarnya itu.
Sementara Abian yang masih berada di dalam ruang kerjanya, duduk termenung dengan jari yang mengetuk pada meja. Memikirkan perkataan Alena tadi, lalu mengaitkannya dengan semua kejadian yang telah berlalu.
...Aku mencintaimu Abian Atmajaya, sangat mencintaimu! Sampai aku rela kehilangan semuanya....
...Dan maaf jika rasa cintaku ini sudah membuatmu sakit karena harus kehilangan Alana. Tapi satu yang harus kau tahu, aku tidak pernah menyesali apa yang telah terjadi, dan aku bersyukur bisa menjadi istri seorang Abian Atmajaya. Meskipun kau terus menyiksaku, tapi rasa cintaku sejak dulu dan sampai detik ini tidak akan pernah berubah Bian ku....
Semua perkataan Alena tempo hari dan semua perlakuan wanita itu, bahkan saat dirinya masih menjadi kekasih Alana kembali memenuhi pikirannya. Dia baru menyadari satu kenyataan yang selama ini menutupi mata hatinya, bahwa Alena selalu di dekatnya, wanita itu bahkan lebih mengetahui apa yang disukainya dan apa yang tidak disukainya.
Dan nama Bian. Sejak bertemu kembali dengan Alana, dia tidak pernah mendengar wanita itu memangilnya dengan Bian. Padahal dulu Alana selalu memanggilnya dengan Bian, sebuah panggilan yang dulu tidak disukai Abian karena terdengar jelek. Belum lagi nasi goreng yang dibuat Alena pun sama persis dengan buatan Alana, dan nasi goreng buatan Alana entah mengapa sering diterimanya dari tangan Alena.
"****! Apa yang sebenarnya terjadi? Apa mungkin...?" Abian mengusap wajahnya kasar. Menghirup napas dengan panjang lalu mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia menghubungi orang kepercayaannya, untuk mencari tahu sesuatu yang mulai mengganjal dihati dan pikirannya.