Bad Wedding

Bad Wedding
Part 45



Alena yang menunduk ketakutan, terus berdoa dalam hati agar pria yang berdiri dihadapannya itu bukanlah para pengawal Abian.


"Berdiri Alena Ricardo!"


Deg.


Jantungnya berdebar dengan kencang, saat mendengar suara yang sangat dikenalnya. Suara seseorang yang sudah lama tidak ia temui, seseorang yang selalu bersikap semuanya, namun menjadi garda terdepan di saat keluarga besar mengalami masalah.


Dengan cepat Alena mendongakkan kepala, menatap pada dua pria tampan bertubuh tinggi, dan kekar tersebut.


"B.. A..." lirih Alena dengan wajah yang terkejut bercampur rasa bahagia, saat melihat kedua sepupunya. Ia bahkan terus memanggil nama ke-dua sepupunya itu, untuk memastikan bahwa yang dilihatnya adalah nyata.


"Berdiri Ale!" Boy mengulurkan tangannya.


Dengan perlahan dan tangan yang bergetar hebat, Alena meraihnya. Ia langsung menangis dengan keras, saat Boy Arbeto membawanya kedalam pelukan.


"Bawa aku pergi, B..." pinta Alena dengan terisak.


Boy hanya diam, tangannya mengusap punggung Alena dengan perlahan.


"Bawa aku pergi sejauh mungkin..." pinta Alena kembali.


Sementara Agam yang sejak tadi diam menyaksikan semuanya, ikut mengusap punggung Alena untuk menenangkan sepupunya. Namun itu hanya sesaat, karena ia teringat sesuatu saat matanya menatap sosok yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berada.


"B..." Agam menepuk pundak Boy Arbeto.


Boy yang mengerti, mengurai pelukannya. Ia bergeser memberi ruang pada seseorang yang berada di belakangnya untuk mendekat.


"Ale..."


Alena yang sempat bingung kenapa Boy melepas pelukannya, kini menatap pada seseorang yang berdiri tidak jauh darinya. Sosok yang sangat ia rindukan, sekaligus sosok yang turut andil membuat kekacauan itu terjadi. Alena yang masih terkejut dengan keberadaan orang tersebut, hanya bisa diam saat sosok itu berlari dan memeluknya dengan erat.


"Aku rindu padamu Ale..."


*


*


Sementara itu di sebuah rumah besar berlantai dua, milik seorang pria yang bernama Abian Atmajaya. Tampak begitu berantakan dengan barang-barang yang tergeletak di atas lantai.


Ahh...


Abian berteriak dengan frustasi dan penuh amarah, saat mendengar kabar dari kedua orang pengawalnya.


"Alena..." Abian berteriak kembali sambil melempar ponselnya ke arah cermin. Lemparan yang begitu kuat, membuat pecahan kaca berhamburan mengenai tangan nya.


"Abian hentikan!" Sekar yang sejak tadi diam menyaksikan kemarahan pria itu, memberanikan diri untuk menenangkan Abian saat melihat pria itu kembali membanting barang-barang yang ada disekitarnya.


"Lepas!" Abian menghempaskan tangan Sekar dengan kasar.


"Tidak Abian! Tanganmu terluka dan harus segera di obati," Sekar berusaha menarik tangan Abian.


"Aku bilang lepas!" Abian mendorong Sekar kearah dinding, menghimpit wanita itu dengan tatapan yang tajam. "Katakan! Siapa yang sudah memberi ijin Alena pergi?"


"A-aku tidak tahu," jawab Sekar dengan berbohong. Dia takut jika menjawab dengan jujur maka nyawanya akan mati di tangan pria itu.


"Bohong!" sentak Abian sambil mendorong Sekar ke samping, hingga membuat wanita itu terjatuh.


"Para pengawal bilang kau yang menyuruh mereka?"


"Abian aku..."


"Lancang sekali kau mengijinkan Alena pergi dari rumah ini!" ucap Abian dengan napas yang menggebu penuh amarah.


"Abian aku..." Sekar menunduk ketakutan. Namun jauh di dalam hatinya dia bahagia saat mengetahui Alena berhasil lolos dari dua pengawal Abian.