
"A-Alena..." lirih Abian sembari berusaha bangkit dan mendekat. Entah mengapa rasa sakit yang dirasakannya tadi, hilang begitu saja saat melihat wajah wanita yang sangat ingin ia temui.
"Ck.. bahkan sampai detik ini kau tidak bisa membedakan kami. Kau itu benar-benar bodoh!" umpat Aluna sembari melipat kedua lututnya, berhadapan dengan wajah Abian meskipun kepalanya terasa semakin pusing.
"Kau.. siapa?" Abian berusaha menatap dengan jelas wajah wanita yang ada dihadapannya, ia juga berusaha untuk tersadar dan fokus.
"Aku Aluna Ricardo, aku Aluna yang sudah menjebak mu pada malam itu saat kita berada di Club. Aku Aluna yang sudah membuat kau akhirnya menikahi Alena. Dan aku Aluna yang sudah membuat saudara kembarnya sendiri menderita..." teriak Aluna saat mengucapkan kalimat terakhir. Ia memukul tubuh Abian dengan sekuat tenaga, hingga membuat punggung pria itu terjatuh ke atas lantai.
"Apa maksudmu?" Abian tidak percaya dengan apa yang didengarnya, mencoba untuk bangkit namun tak bisa karena tidak memiliki tenaga.
"Kau tidak dengar? Aku lah yang menjebakmu! Aku yang menyuruh pelayan untuk mencampur minuman mu dengan obat perangsang, membuat kau akhirnya meniduri Alena."
"Tidak mungkin," lirih Abian dengan menggelengkan kepalanya meski lemah. Kini ia benar-benar fokus pada apa dilihat dan di dengarnya. "Alena yang menjebakku! Dia yang menjebakku agar aku menikahinya, dia sengaja melakukan itu dan membuat aku berpisah dengan Alana."
Aluna tertawa dengan sinis. "Kau bodoh Abian, mana mungkin wanita yang begitu mencintaimu dengan tulus akan melakukan hal kejam seperti itu! Mana mungkin wanita yang mencintaimu sejak bertahun-tahun lamanya, bahkan sebelum wanita itu mengerti apa arti cinta akan merusak kebahagiaan pria yang sangat dicintainya," ucap Aluna dengan menggebu. "Dan mana mungkin wanita yang telah menyelamatkanmu dulu, sanggup melakukan hal kotor hanya untuk mendapatkanmu Abian Atmajaya.." tangis Aluna pun pecah tak dapat ditahan lagi.
Deg.
Abian tak percaya dengan semua yang didengarnya, terlebih dengan kalimat terakhir wanita yang mengaku Aluna.
"Menyelamatkanku dulu?"
"Ya, gadis yang dulu menyelamatkanmu saat tenggelam adalah Alena. Al mu itu Alena bukan Alana..." Aluna yang marah kembali memukul Abian dengan membabi buta. "Kau bodoh Abian! Bodoh...."
"Cukup Aluna!" Agam menahan tangan adik sepupunya yang masih terus memukul Abian, sementara pria yang dipukul Aluna sudah tak sadarkan diri.
"Aku belum selesai bicara dengannya, buat dia sadar kembali A!" pinta Aluna yang masih terus menangis.
"Nanti, tidak sekarang!" Agam merasa cemas pada Aluna, karena wajah wanita itu yang sejak tadi terlihat pucat.
"Tapi A..."
"Ayo!" Agam tidak ingin mendengar sebuah penolakan. Ia membawa adik sepupunya untuk keluar dari ruangan tersebut, namun baru beberapa langkah Aluna sudah terjatuh tak sadarkan diri.
"Ck.. sudah aku katakan dia pasti pingsan!" Boy yang sejak tadi berada di ambang pintu, tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Namun di dalam hatinya ia merasa bangga pada Aluna, karena wanita itu bisa menahan ketakutannya selama beberapa menit, hanya untuk meluapkan kemarahan pada pria yang sudah membuat saudara kembarnya menderita.
"Bagaimana dengan dia?" Agam menatap Abian, sembari menggendong Aluna yang pingsan.
"Kirim dia ke rumah sakit! Karena Alena meminta agar suaminya tidak terluka parah."
"Tidak terluka parah bagaimana? Kau membuatnya pingsan dua kali."
"Dan Aluna satu kali," Boy tertawa terbahak-bahak. "Mudah-mudahan saja si brengsek itu masih bisa bertahan sampai di rumah sakit."
Agam hanya menghela napasnya dengan kasar, lalu membawa Aluna pergi dari ruangan tersebut. Sementara Boy memerintahkan anak buahnya untuk membawa Abian ke rumah sakit.