Bad Wedding

Bad Wedding
Part 74



Hingga pada satu titik dimana Bajingan itu bersimpuh di kakinya, dihadapan semua orang memohon agar bisa dipertemukan dengan Alena. Di saat itu lah Boy berjanji tidak akan menutup jalan bagi Abian untuk menemukan Alena, asal pria itu bisa membuktikan kemampuannya untuk bisa sukses agar sepadan dengan sepupunya. Karena Boy tidak akan mungkin membiarkan Alena bersanding dengan pria yang tak memiliki apa pun.


Dan sejak saat itu Abian Atmajaya tidak lagi datang menemuinya, dan Boy pun sudah tidak peduli lagi dengan semua yang berkaitan dengan bajingan itu. Karena rasanya tidak mungkin bagi seorang Abian Atmajaya bangkit dengan membangun kembali perusahaan yang sudah dihancurkan olehnya.


Tapi ternyata tebakannya itu salah, tiga bulan lalu Bajingan itu datang menemuinya dengan tampilan yang berbeda dan tentunya dengan kesuksesan yang telah diraihnya. Abian Atmajaya menagih janjinya untuk tidak lagi menutup akses keberadaan Alena, dan dia pun mau tidak mau menepati janji yang pernah diucapkannya.


"Gold..." gumam Boy dengan tersenyum miris. Bahkan Tuhan pun sepertinya ingin mempertemukan kembali Alena dengan Abian, karena sejatinya tanpa mereka ketahui akan kembali terikat satu dan lainnya dalam sebuah pekerjaan. Karena pemegang saham lima puluh lima persen di perusahaan Gold adalah Abian Atmajaya, dan yang akan merancang perhiasan untuk Gold adalah Alena atau yang lebih dikenal dengan nama Albi, nama gabungan Alena dan Bian.


*


*


Sementara itu di tempat yang berbeda, Alana yang tengah menyesap minuman kopi miliknya, menatap pada sosok yang baru saja datang setelah lima belas menit dirinya menunggu.


"Tuan Abian Atmajaya, kau terlambat lima belas menit." Alana menunjuk pada jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"To the poin, kau ingin bicara apa?" Abian bertanya tanpa menanggapi kekesalan Alana.


Mendapat tanggapan yang begitu dingin dan cuek, tentu saja membuat Alana semakin kesal. Kalau saja dia tidak ingat pria yang kini berubah menjadi sosok dingin tak tersentuh itu adalah suami adiknya, sudah Alana siram wajah tampan itu dengan minuman kopi hangat miliknya.


"Dengar Tuan Abian Atmajaya, kau itu sudah aku bantu tapi selalu saja membuatku kesal. Apa kau tahu, aku sampai membuat Mom Daisy dan Dad Antoni marah saat mendengar kabar pernikahan kita, Aluna dan Alona pun bahkan memakiku sebagai saudara laknat," gerutu Alana panjang lebar.


Ya, rencana pernikahan mereka hanyalah sebuah kebohongan hanya untuk membuat Alena datang ke Jakarta. Dan yang mengetahui kebohongan mereka hanyalah Boy Arbeto dan Agam Mateo. Karena baik Alana dan Abian tidak mau menjadi bergedel yang dihancurkan sampai lebur oleh ke-dua sepupunya yang Arrogant dan kejam itu.


"Oh ya ampun!" Alana berdecak dengan kesal saat diingatkan oleh kesalahannya. "Kau lupa, kau juga mempunyai andil dalam kesalahan ini," sindirnya.


"Ck, sudah cepat apa yang ingin kau katakan?"


"Ish.. saat di ingatkan pada kesalahannya dia tidak mau, tapi paling terdepan saat menyalahkan orang lain," gerutu Alana dalam hati. "Jadi bagaimana? Apa kau sudah mengetahui dimana keberadaan Alena?"


"Belum."


"Ck.. kau itu bagaimana sih? Bukankah B sudah tidak lagi menutup akses nya?"


"Sepupumu memang tidak menutup aksesnya, tapi dia begitu rapih menyembunyikan Alena."


"Benar juga," Alana memang mengakui kehebatan ke-dua sepupunya itu. Bahkan sampai detik ini ia tidak mengetahui dimana keberadaan Alena, dan keponakannya. Mengingat sosok keponakan membuat Alana kembali bersedih, karena dia tidak tahu nama dan wajah keponakannya seperti apa. Laki-laki atau perempuan. Jika Alana saja merasakan sesedih ini saat mengingat sosok keponakannya, apalagi Abian? Tidak bisa ia bayangkan betapa sedih, hancur, dan menderitanya pria itu.


"Satu-satunya jalan hanya menunggu kedatangan Alena."


"Apa kau yakin dia akan datang?"


"Harus, dia harus datang!"


Melihat keyakinan dan semangat dimata Abian membuat Alana tersenyum. Sungguh Alena beruntung dicintai dengan begitu besar oleh seorang Abian Atmajaya. Karena Alana menjadi saksi nyata dimana pria itu begitu terpuruk saat kehilangan Alena, dan kembali bersemangat menjadi orang sukses agar bisa bertemu dengan Alena.