
"Tuan Anda masih di sana?" tanya Ben dengan cemas, karena tahu tuannya pasti sangat terkejut mendengar siapa dalang di balik kepergian Alena.
"Kemana mereka membawanya?"
"Kami tidak tahu Tuan, karena kami tidak bisa melacak keberadaan Nona."
Abian terdiam sesaat. "Tempatkan orang di mansion utama dan mansion Mateo! Dan kabari aku secepatnya!" perintahnya dengan tegas.
"Ta-tapi Tuan, dari pada Anda sibuk mencari Nona Alena. Lebih baik Anda siap-siap untuk kemungkinan terburuk yang akan menimpa keluarga Atmajaya. Karena jika Nona sampai memberitahu apa saja yang dia terima selama bersama Anda, maka—"
"Lakukan saja perintahku!"
"Tapi Tuan..."
"Cepat kerjakan!" Abian menutup ponselnya dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Dia berlalu begitu saja tanpa memeriksa kembali isi di dalam tas milik Alena.
Karena seperti yang dikatakan Ben, Abian harus bersiap dengan apa yang terjadi pada keluarga Atmajaya. Dia harus melakukan sesuatu agar perusahaan Atmajaya tidak terkena imbas atas perbuatannya, karena bukan hal sulit bagi keluarga besar Arbeto atau Mateo membuat perusahaan Atmajaya bangkrut.
Sementara itu ditempat yang berbeda, di sebuah mansion mewah, luas, dan megah. Tepatnya di ruangan tertutup dengan atmosfir yang terasa mencekam, karena ke empat orang yang ada di dalamnya sejak tadi hanya diam tak bersuara. Ke empat orang tersebut seakan sibuk dengan apa yang ada di dalam pikiran mereka masing-masing.
"Sampai kapan kalian diam?" Boy memulai pembicaraan. Karena tak ada satupun dari kedua orang yang duduk bersebrangan itu berbicara.
Alena yang sejak tadi diam menatap sosok yang tadi memeluknya, sosok yang sangat dirindukannya meski dalam keadaan marah sekalipun.
Tidak berbeda dengan Alena, wanita itu pun diam dengan wajah yang sembab karena sejak tadi hanya bisa menangis tanpa berani berbicara.
"Jangan!" ucap Alena dengan cepat. "Jangan hubungi mereka," pintanya dengan memohon. Alena tidak mau sampai ke-dua orang tuannya tahu apa yang terjadi dengannya selama ini, ataupun tahu apa yang terjadi sebenarnya di balik kekacauan beberapa bulan yang lalu.
"Kalau begitu katakan, apa yang terjadi padamu sampai kau melarikan diri dari..." Boy menatap Agam.
"Abian Atmajaya," sahut Agam dengan jengah. Karena dia tahu, Boy hanya berpura-pura lupa siapa nama suami Alena. Boy juga berpura-pura tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Alena, dan juga kejadian beberapa bulan yang lalu setelah mereka berhasil menyelidikinya.
"Ya Arabian."
"Abian B," ralat Alena.
"Ya itulah, cepat katakan!" ucap Boy tak peduli.
Alena menghela napasnya dengan kasar, sepupunya itu sejak dulu tidak pernah berubah, selalu memanggil nama orang dengan seenaknya.
"Aku pergi karena ingin berpisah darinya. Karena pernikahan tanpa cinta ternyata tidak lah mudah. Kau tahu sendiri bukan, disini aku lah yang mencintai Abian," bohong Alena.
"Benarkah? Bukan karena kau mendapatkan perlakuan kejam dari Arabian?" tanya Boy dengan tatapan menyelidik.
"Tentu saja tidak. Abian memperlakukan aku dengan sangat baik, dia tidak pernah sedikitpun—"
"Tidak, dia berbohong!" sahut wanita yang sejak tadi diam. Dia tak menyangka Alena masih saja menutupi apa yang dilakukan Abian, setelah semua yang terjadi pada wanita itu. Dia memang tahu Alena sangat mencintai Abian, tapi ini sudah keterlaluan. Dia tidak akan diam saja, dan membiarkan Abian hidup tenang setelah apa yang dilakukan pria itu pada Alena.
Boy menatap kedua wanita tersebut, yang terlihat saling menatap dengan tajam. "Jika Alena berbohong, apa kau tahu yang sebenarnya Aluna Ricardo?"