Bad Wedding

Bad Wedding
Part 47



"Sial!" umpat Abian dengan penuh amarah. "Siapa mereka? Apa mereka orang suruhan keluarga Ricardo? Atau Arbeto?" tanyanya dalam hati. Namun semua pemikiran itu di tepis, saat mengingat seluruh keluarga besar Alena, sudah tidak ada yang peduli pada wanita itu.


Karena merasa khawatir dan cemas, Abian segera menghubungi Ben. Memerintahkan asisten nya itu untuk melacak dan mencari keberadaan Alena secepatnya.


"Tuan ini tas Nona yang tertinggal saat lari," Bi Yanti mengembalikan tas milik nona Alena, saat melihat tuannya menutup panggilan telepon.


Abian mengambil tas tersebut, lalu menatap pada kedua pengawalnya yang sudah tak berdaya. "Kalian dipecat! Dan jangan pernah menunjukkan wajah kalian lagi dihadapanku!"


Setelah melihat kedua pengawal itu pergi, Abian yang hendak membuka tas milik Alena, tidak jadi melakukannya saat melihat Sekar yang berjalan sambil menarik sebuah koper.


"Aku pulang," ucap Sekar meskipun Abian tidak bertanya apa pun saat melihatnya. Pria itu bahkan tidak perduli sama sekali, atau menawarkan diri untuk mengantarnya. Padahal Sekar berada di rumah ini karena permintaan Abian. Walaupun dia juga berharap dengan kehadirannya di dekat pria itu, bisa membuat Abian kembali mencintainya meskipun harapan itu sangat tipis. "Hubungi aku jika kau merasa kembali pusing, walaupun obat ku tidak banyak berpengaruh," ucapnya dengan tersenyum tipis.


Abian hanya diam, menatap kepergian Sekar tanpa ada keinginan untuk menahan wanita tersebut. Karena untuk apa di tahan, jika wanita yang menjadi alasan Sekar tinggal di kediamannya justru menghilang.


Ya, Abian sengaja membawa Sekar hanya untuk membuat Alena sakit hati dengan kemesraan mereka. Agar Alena merasakan bagaimana terlukanya saat mengetahui seseorang yang dicintai, akan menikah dengan orang lain. Padahal Abian dan Sekar sama sekali tidak ada rencana untuk menikah. Jangankan menikah, mempunyai hubungan pun tidak.


Hanya Ibu Ayuning yang selalu menjodohkan mereka, dan mengira Sekar pindah ke rumah nya karena sudah setuju menikah. Dan Abian tidak mau repot-repot menjelaskan yang sebenarnya, meskipun Ibu Ayuning sampai sudah menyiapkan beberapa hal terkait pernikahan tersebut.


Selain untuk membuat sakit hati Alena, keberadaan Sekar juga untuk membantunya di saat membutuhkan obat ketika merasakan pusing dan mual. Walaupun rasa pusing dan mual itu hanya bisa hilang jika berada di samping Alena. Seperti saat ini, rasa pusing dan mual kembali dirasakannya hingga membuat Abian tak berdaya.


Abian menggeleng sambil memijat kepalanya yang terasa pusing. Jangankan makan, bahkan untuk minum saja dia lupa saat mengetahui Alena tidak ada di dalam kamar, dan seluruh ruangan yang ada di dalam rumah.


"Sebentar Tuan," Bi Yanti masuk kedalam ruang makan, membawa piring berisi nasi goreng dan segelas susu buatan non Alena sebelum pergi.


"Ini..." Abian menatap apa yang dibawa Bi Yanti.


"Ini buatan Nona sebelum pergi, beliau juga berpesan pada Bibi untuk menyiapkan susu setiap pagi, agar Tuan Abian tidak merasa mual," jelas Bi Yanti sembari menaruh piring dan gelas ke atas meja.


Napas Abian tercekat, merasakan jantungnya seperti diremas oleh sesuatu yang tak kasat mata. Saat menyadari Alena masih menyiapkan apa yang dimakan dan diminumnya, bahkan memberi pesan pada Bi Yanti untuk menyiapkan kebutuhannya, sebelum wanita itu pergi.


"Bibi minta maaf Tuan, karena tadi Bibi juga ikut membantu Nona saat melarikan diri," ucap Bi Yanti dengan jujur. Walaupun dua pengawal tadi tidak memberitahu tuan Abian, tapi dia berkewajiban untuk memberitahu kebenarannya. "Bibi melakukannya karena kasihan pada Nona, jika Tuan—"


"Masuk ke dalam! Jangan ganggu aku!" ucap Abian tanpa menatap pelayannya. Dia tidak peduli apa pun, karena yang ada di pikiran dan hatinya kini hanya tertuju satu nama yaitu Alena.


Kedua matanya bahkan tak berkedip, menatap piring dan gelas yang ada di atas meja, lalu menatap tas milik Alena. Dengan cepat Abian membuka tas tersebut, berharap mendapatkan petunjuk tentang Alena.


"Apa ini?" Abian menatap dua buah amplop. Yang satu berisikan uang, terlihat dari beberapa lembaran yang keluar, dan yang satu lagi ia tidak tahu karena tertutup.