
"Al.. Al.. maafkan aku..." lirih Abian dengan kedua mata yang terpejam.
Nyonya Ayuning beserta sang suami langsung mendekat pada putra mereka. Dengan penuh haru menatap Abian, yang membuka kedua matanya setelah tiga hari tak sadarkan diri.
"Abi.. Abian kau sadar Nak?" Ayuning menangis sambil menatap sang suami. "Pak cepat panggil dokter!"
Atmajaya yang begitu bahagia melihat putranya tersadar, bergegas keluar dari ruangan untuk memanggil dokter. Dia berlari meskipun tubuhnya terasa lelah, setelah tiga hari ini tenaga dan pikirannya terkuras habis saat masalah datang bertubi-tubi menimpa keluarga mereka.
Putra nya yang merupakan penerus keluarga Atmajaya tak sadarkan diri selama tiga hari dengan luka lebam di seluruh tubuh, terutama di bagian kepala yang terkena pukulan benda tumpul. Ditambah dengan permasalahan yang menimpa perusahaan nya yang kini diambang kehancuran. Jika saja Atmajaya tidak memilki mental yang kuat, pasti dia sudah tidak waras menghadapi situasi yang menimpa keluarga mereka.
"Bagaimana dok?" tanya Ayuning setelah dokter memeriksa putranya.
Atmajaya yang berdiri di samping istrinya, ikut bertanya sembari menatap pada Abian yang terlihat diam saja dengan tatapan mata yang kosong.
Dokter itu tidak menjawab pertanyaan tuan dan Nyonya Atmajaya, dia justru bertanya beberapa pertanyaan pada pasiennya, yang tenyata tidak ada satu pun pertanyaannya yang dijawab.
"Dok kenapa Abian diam saja? Putraku kenapa?" tanya Ayuning dengan cemas, saat melihat putranya tidak menunjukkan reaksi apapun saat ditanya oleh dokter yang selama ini menangani Abian.
Perkataan dokter Heri tentu saja membuat Ayuning menangis tersedu, karena teringat kejadian tiga hari yang lalu saat diberi kabar oleh Ben kalau putra mereka berada di rumah sakit. Ia yang terkejut mendengar kabar tersebut, semakin terkejut saat melihat keadaan Abian yang sangat mengenaskan dengan luka pukulan hampir di seluruh tubuhnya terutama di bagian belakang.
Setelah mendapatkan perawatan, Ayuning dan sang suami menanyakan bagaimana keadaan putra mereka yang belum sadarkan diri. Dokter Heri pun menyampaikan luka di kepala Abian sangat serius, namun tidak sampai menyebabkan sang pasien koma. Hanya saja kemungkinan ada luka psikis yang dialami putra mereka, yang membuat alam bawah sadarnya menahan dan tidak mau berusaha untuk sadar.
"Aku akan membawa dokter Izar untuk —"
"Tidak perlu!" Abian yang sejak tadi diam tidak berbicara sedikitpun, karena masih berharap apa yang terjadi padanya hanyalah mimpi buruk. Kini mulai tersadar saat mendengar dokter mengatakan tiga hari yang lalu, itu artinya sudah tiga hari dia berada di rumah sakit setelah pemukulan yang dilakukan Boy Arbeto, dan kebenaran yang diungkapkan Aluna tentang Al nya. Al nya yang ternyata Alena Ricardo, wanita yang selama ini ia sakiti fisik dan batinnya. "Alena..." lirihnya sambil melepaskan infus dari tangannya.
"Abian apa yang kau lakukan nak?" pekik Ayuning dengan wajah yang terkejut sembari menahan tangan putranya.
"Lepas Bu! Aku harus pergi!" Abian berusaha melepaskan diri tanpa menyakiti ibunya.
"Kau mau kemana? Kau itu baru saja sadar Nak," Ayuning tidak mau melepaskan putranya, karena ia tahu Abian pasti akan mencari Alena. Wanita yang sudah menyebabkan putranya masuk rumah sakit, dan membuat perusahaan suaminya menjadi bangkrut.