Bad Wedding

Bad Wedding
episode 5



Dira pov


Aku kaget saat bagas tiba-tiba menggenggam tangan ku,


'ingin rasa nya melelepas kan genggaman ini' - batin ku


"Dira, jujur sebenarnya selama ini aku berusaha mencari keberadaan mu setelah aku kembali dari luar negeri, tapi nihil aku sama sekali tak bisa menemukan mu dira" ucap bagas sambil menunduk lesu.


Apa yg dikatakan bagas benar, saat itu hubungan kami memang harus berpisah karna papah nya bagas harus dinas keluar negeri.


dan aku tidak ingin berpacaran jarak jauh dan memutuskan untuk berpisah.


dan masalah aku pindah rumah, saat itu ayah memang harus pindah dinas dan aku pun mau tak mau mengikuti permintaan ayah dah pindah rumah.


"Maafkan aku bagas, saat itu ayah harus pindah dinas"- ucap ku


"Tak apa aku memaklumi nya"- bagas


"Tapi, sebenarnya bukan itu yg ingin aku katakan dira"- lanjut bagas yg membuat ku bingung


"Apa itu bagas?"


'' sebenarnya tujuan ku saat itu ingin melamarmu, tapi kau sudah tidak ada di sana, jadi aku ingin melamar mu disini, maaf jika ini mendadak dira"


Ucap bagas yg membuat ku terkejut dua kali.


"A...apa?"


"Hahaha kamu gausah gugup gitu dira"


"Emmmm"


"So,,, will you marry me?" ucap bagas yg membuat ku syok.


'Bagaimana ini? Aku tak ingin mengecewakan bagas namun....'


"Hey mengapa melamun? Apa aku membuat mu syok?"


'' kau benar bagas, tapi maaf aku tak bisa menerima mu, karena...."


"Karena apa?"


"Karena aku sudah menikah" ucap ku lirih.


"A..apa? Hahaha kau sedang bercanda dira?''


"Aku tidak bercanda bagas, aku benar sudah menikah, aku terpaksa menikah karna ayah menjodoh kan ku bagas hiks..."ucapku yg mulai terisak.


'' maafkan aku bagas hiks"tangisan ku semakin pecah saat bagas memelukku, dan membuat kami berdua jadi pusat perhatian.


"Tak apa dira aku memakluminya, apa kau bahagia dengan pernikahan ini?" tanya Bagas yg membuat aku bingung harus menjawab apa.


"Hey jawab aku" tanyanya sambil melepaskan pelukan.


"Ak aku... Aku bahagia bagas, karna itu adalah pilihan kedua orang tuaku"


"Benarkah?"


"Benar bagas"


"Huft,,,, aku tak apa asalkan orang yang aku cintai bahagia dengan yang kau cintai dira, meskipun aku kecewa tapi tak apa aku bahagia"


"Bagas"


"Hari sudah hampir malam, lebih baik kau pulang, aku takut suamimu mencari mu dira"


"Iy... Iyah"


"Oh yah dira"


"Apa aku boleh meminta nomor telpon mu dan alamat rumah mu? Aku ingin menemui mu kapan kapan"


"Boleh" ucap ku dan memberikan nomor telpon ku dan alamat rumah ku.


"Terima kasih dira atas waktunya, oh ya apa kau mau ku antar?"


"Tidak perlu bagas"


"Baiklah sampai jumpa" ucap bagas sambil melenggang pergi.


'Maafkan aku bagas,meskipun faisal tak pernah mencintaiku tapi dia adalah suami ku, kuharap kau menemukan yg lebih baik dariku' batin ku.


Aku pun mengambil tas ku dan membayar pesanan kami yang sama sekali belum dimakan


Author :Kan sayang mubazir mending buat author :(


Readers: /plak


**SKIP**


Aku sudah sampai didepan rumah ku, tapi aku bingung, mengapa faisal sudah pulang? Bukan kah dia slalu pulang malam?aku pun langsung menyuruh satpam mebuka gerbang dan memarkirkan mobil ku di garasi.


"Assalamualaikum" ucap ku sambil membuka pintu.


"Dari mana saja kau? Ku kira kau lupa rumah dengan kekasih mu"


"Fa.. Faisal apa maksud mu?"


"Hahah jangan pura pura gak tau! Kau pikir aku tidak melihatnya? Iyah!"


"Faisal aku gak ngerti apa yang kamu omongin"


"Cih... bisa bisa nya kau berpura-pura seperti itu, padahal sudah kepergok selingkuh"


"Apa? Selingkuh? Aku tidak pernah selingkuh faisal"


"Cih aku tidak perduli dengan omong kosong mu itu Bich"


"Faisal!"


"Apa hah! Kau pikir aku tidak melihat mu saat kau berpegangan tangan dengan pria lain?! Hey aku tahu aku memang tak pernah mencintai mu. Dan sebegitu murahan kah engkau, sampai menjadi bich diluar sana? Aku tidak menyangka kau sekotor itu dira,Di bayar berapa kau oleh pria itu hah?!" ucap faisal keterlaluan, yang membuat ku refleks menamparnya


/Plak


"Kurang ajar! Berani kau menamparku hah?!"


"Fa..faisal ma.. Maafkan aku, aku sungguh tak sengaja" ucap lu sambil menyentuh pipi faisal yg memerah dan ada bekas tamparan telapak tanganku dipipinya.


"Bich, jauhkan tangan kotor mu itu dari ku"ucap faisal mondorong ku hingga aku terbentur ke tembok dan meringis kesakitan.


"Asshh"


"Minggir kau"


"Dan satu lagi masalah semalam lupakan saja, anggap itu kecelakan"


Ucap faisal melenggang pergi.


'Apa katanya? Kecelakan? Hiks aku tahu itu sebuah kecelakaan dan kau menganggap ku seorang bich diluaran sana yang hanya bisa memuaskan nafsu pria saja?, ya tuhan aku tak sanggup akan semua ini hiks...'- batin ku dan aku masuk kekamar, dan menangis didalam sana entah sampai kapan




***Bersambung***....