
Setelah pulang dari kediaman Atmajaya, Alena meminta Abian untuk mengantarnya ke mansion utama meskipun hari sudah larut malam. Bagaimana tidak pulang larut malam, kalau Ibu mertuanya itu terus menahannya bahkan menyuruh Ia dan Bian menginap.
Namun setelah ia menjelaskan bahwa hubungannya dengan Abian tidak sama seperti tiga tahun yang lalu, Ayuning pun mau tidak mau mengijinkan Alena pulang dengan satu syarat, yaitu harus sering berkunjung ke kediaman Atmajaya bersama Bian, dan Alena pun menyanggupi syarat tersebut.
"Sebenarnya ada keperluan apa kau berkunjung ke mansion utama?" tanya Abian di sela menyetir kendaraannya. Ia sebenarnya ingin sekali melarang Alena pergi ke mansion tersebut, karena hari sudah larut malam terlebih putranya yang terlihat kelelahan sampai tertidur di kursi belakang. Namun apalah daya, ia belum mempunyai hak untuk melarang apa yang ingin dilakukan wanitanya.
"Aku ingin bertanya di mana keberadaan Alex, karena sejak kemarin pria itu seperti menghilang tanpa kabar berita."
"Alex? Maksudmu Alexander?"
Alena menganggukkan kepalanya.
"Kenapa tidak menghubunginya saja?" tanya Abian dengan tidak suka, melihat istrinya yang pergi ke mansion utama hanya untuk menanyakan kabar pria lain.
"Kalau bisa, mungkin sejak kemarin aku sudah mengetahui kabarnya," sahut Alena dengan ketus. "Aku khawatir dengan keadaan Alex, Bian juga sejak kemarin menanyakan dimana keberadaan uncle nya."
"Uncle?" ada rasa cemburu yang menyelimuti dada Abian saat mengetahui kedekatan Alex dengan putranya.
"Ya, Bian memanggil Alex dengan Uncle."
Abian terdiam sembari mengingat kembali apa yang diceritakan Alena saat dikediamannya tadi, bahwa wanita dan putranya selama tiga tahun ini ditemani dan dijaga oleh seorang pengawal pribadi bernama Alexander.
Seharusnya ia bersyukur dan mengucapkan terima kasih pada pria yang bernama Alex itu karena sudah menjaga istri dan putranya, tapi entah mengapa hati dan pikirannya tidak sejalan. Yang ada dibenaknya justru sebuah praduga, apakah selama tiga tahun ini Alena pernah menjalin hubungan istimewa dengan pria itu. Namun secepat mungkin Abian mengenyahkan praduga tersebut, agar tidak ada pertengkaran jilid kesekian dengan wanitanya hanya karena rasa cemburu.
"Kau yakin aku tidak perlu menunggumu?" tanya Abian setelah mereka sampai di mansion utama.
Abian menatap bangunan mewah dan megah dihadapannya, lalu menatap sang putra yang dibawa masuk oleh pelayan.
"Baiklah aku pulang."
Alena menganggukkan kepala, hendak masuk ke dalam mansion sebelum tangannya di tarik oleh Abian, dan dalam sekejap pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu mengecup dan menggigit kecil di lehernya.
"Abian apa yang kau lakukan?" sentak Alena dengan emosi karena tidak terima dengan apa yang dilakukan Abian.
"Maaf atas kelancanganku, tapi aku tidak rela melihat bekas yang di buat Sky," ucapnya lalu bergegas masuk ke dalam mobil sebelum wanitanya mengamuk.
"Abian...." Alena menatap mobil yang dikendarai suaminya yang semakin menjauh dari pandangan, sembari mengusap lehernya yang terasa perih. Ada rasa kesal sekaligus sedih di dalam hatinya atas apa yang dilakukan Abian tadi. Tapi lebih didominasi rasa sedih saat teringat hubungan mereka di masa lalu. "Seandainya saja dulu kau bersikap baik, mungkin akhir kisah kita tidak akan seperti ini," gumamnya sembari melangkahkan kakinya ke dalam mansion utama, di mana sepupunya Boy Arbeto dan Tita Anggara sudah menyambutnya di pintu utama.
*
*
Satu Minggu kemudian.
"Alena tunggu!" Sky menahan langkah wanita cantik yang baru saja keluar dari ruangan.
Akhirnya setelah satu Minggu lamanya ia menunggu, kini memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Alena. Ya, setelah kejadian dimana dirinya melecehkan wanita itu, ia tidak memiliki kesempatan untuk berbicara bahkan mendekat sekalipun.