
Setelah selesai membeli kebutuhan nona Alena, Alex membawa wanita itu pergi ketempat yang diperintahkan oleh tuannya, yaitu Apartemen milik keluarga Arbeto. Sebagai tempat singgah sementara mereka sebelum pergi ke tempat yang dituju. Sebenarnya bisa saja nona Alena tetap tinggal di Mansion utama, mengingat tempat tersebut adalah tempat yang paling aman, dimana tidak ada satu orangpun yang bisa masuk ke dalam selain keluarga besar.
Tapi karena Alena tidak mau seluruh keluarga besar mengetahui apa yang terjadi, akhirnya tuan Boy memerintahkannya untuk membawa wanita itu ke apartemen milik keluarga Arbeto yang tidak pernah ditempati, sambil menunggu dokumen penting milik nona Alena. Dokumen penting yang terjatuh pada saat wanita itu melarikan diri, dan kemungkinan besar kini berada di tangan Abian Atmajaya. Dan bagaimana bisa Alex mengetahui semua itu, karena selama diperjalanan tadi dia mendapatkan semua informasi yang berkaitan dengan nona Alena. Bahkan dia sudah mengetahui apa yang menyebabkan wanita itu menangis sepanjang perjalanan mereka.
"Untuk sementara kita tinggal disini, sampai dokumen-dokumen penting milik Nona kita dapatkan." ucapnya. Karena dia sudah menyuruh anak buahnya untuk pergi ke kediaman Abian Atmajaya.
Alena menganggukkan kepalanya, sembari menatap seluruh isi ruangan yang ada di apartemen milik keluarga Arbeto.
"Jika Anda membutuhkan sesuatu panggil saja aku," ucap Alex setelah menaruh barang-barang belanjaan nona Alena yang lumayan banyak. Karena tadi wanita itu membeli beberapa pakaian dan kebutuhan lainnya. Dan Alex memakluminya, mengingat nona Alena tidak membawa apa pun ketika pergi dari kediaman Abian Atmajaya.
Alena lagi-lagi menganggukkan kepalanya. "Alex boleh aku bertanya sesuatu?" tanyanya dengan ragu.
"Tentu saja Nona."
"Em.. apa kau mengetahui kabar suamiku? Maksudku apa Abian baik-baik saja? Aku..." Alena bingung harus berkata apa.
"Aku rasa sebaiknya Anda tidak perlu mengetahui, dan ingin tahu apa yang terjadi pada Tuan Abian."
Alena terdiam sembari menundukkan kepala. Ia tahu seharusnya tidak menanyakan kabar apa pun mengenai Abian, setelah mengambil keputusan untuk pergi dari pria itu. Tapi hatinya tidak bisa berbohong, ia sangat mencemaskan keadaan Abian terlebih saat mengingat bagaimana perangai kedua sepupunya.
Kini Alex yang terdiam karena cukup terkejut dengan permintaan Alena, ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran wanita itu yang masih mengkhawatirkan dan memikirkan nasib Abian. Karena dari apa yang ia ketahui selama ini, suami nona Alena sudah sangat buruk memperlakukan wanita itu.
"Alex bisa kau sampaikan pesan ku?" Alena mengulangi perkataannya karena melihat pria itu yang terdiam.
Alex menganggukkan kepalanya lalu pamit undur diri, karena ingin menghubungi anak buahnya untuk menanyakan apa sudah mendapatkan dokumen-dokumen penting milik nona Alena.
"Tunggu Alex! Sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih, dan maaf jika beberapa bulan kedepan akan membuatmu repot."
"Anda tidak perlu berterima kasih, karena itu sudah menjadi pekerjaanku," ucap Alex sembari keluar dari ruangan tersebut.
Alena menghela napasnya dengan panjang saat melihat punggung Alex yang menghilang di balik pintu, mengeluarkan rasa sesak yang sejak tadi ditahannya.
"Aku merindukanmu Bian, sangat merindukan mu..." Alena mengusap perutnya dengan perasaan sedih. Tadinya ia pikir akan mudah jika pergi dari hidup Abian, tapi ternyata baru beberapa jam meninggalkan rumah suaminya, Alena sudah merasakan rindu yang teramat dalam. Terlebih saat teringat nasib suaminya ditangan Boy dan Agam. "Kenapa kau bodoh Alena? Kenapa kau tidak bisa menghilangkan rasa cintamu?" umpatnya pada diri sendiri.
Jika harus memilih, ingin rasanya Alena menghapus dan menghilangkan rasa cinta itu. Tapi ia tidak bisa menghilangkan rasa cinta yang sudah tumbuh di dalam hatinya, selama bertahun-tahun lamanya bahkan saat Alena baru mengetahui apa arti cinta.