Bad Wedding

Bad Wedding
Part 72



Beberapa hari kemudian.


"Mom, where are we going?"


Putranya bertanya dengan cukup lantang, meskipun usianya belum genap tiga tahun, tapi cara berbicara anak itu sudah bisa di mengerti oleh semua orang.


"Kita akan pergi Ke Jakarta," jawab Alena sembari mengusap rambut hitam pekat putranya, warna rambut yang sama persis dengan yang dimiliki Abian Atmajaya. Bahkan bukan hanya warna rambut putranya yang sama dengan pria itu, tapi wajah Bian pun sangat mirip.


Semua yang ada pada diri putranya itu sama persis dengan Abian Atmajaya, bahkan karena hal itu juga yang membuat Alena sempat protes pada Tuhan, kenapa anak yang ia kandung selama sembilan bulan lebih itu justru mewarisi semua yang ada pada diri Abian. Seakan-akan putranya itu ingin membuktikan pada seluruh dunia, dia adalah anak dari Abian Atmajaya.


Mengingat hal itu tentu saja membuat Alena tertawa miris, karena jangankan di akui sebagai anak kandung dari Abian Atmajaya. Bahkan dia sangsi apakah pria itu mengetahui tentang keberadaan putranya? Mengingat ia melarikan diri tanpa mengatakan tentang kehamilannya. Tapi melihat bagaimana hubungan yang terjalin antara Alana dan Abian yang akan segera menikah, besar kemungkinan saudara kembarnya itu sudah menceritakan tentang kehamilannya.


"Kalian sudah siap?" Alex masuk ke dalam kamar Bian, untuk mengambil koper milik bocah itu. Karena sebentar lagi mereka akan pergi ke bandara untuk melakukan perjalanan ke Indonesia.


"Uncle..." Bian turun dari pangkuan Mommy nya, berlari menuju Uncle Alex.


Dengan sigap Alex memeluk bocah kecil itu lalu membawanya ke dalam pelukan.


"Mom bilang kita akan pergi ke Ja..." Bian menatap Mommy nya karena lupa akan pergi kemana.


"Jakarta..." sahut Alena dengan tersenyum.


Bian menganggukkan kepalanya dengan tertawa kecil, meskipun tidak tahu Jakarta itu seperti apa dan dimana, yang anak kecil itu ketahui hanyalah mereka akan pergi berlibur.


"Bagaimana Alex? Apa semuanya sudah di masukkan?" tanya Alena sambil memastikan tidak ada barang yang ketinggalan. Meskipun mereka di Jakarta hanya beberapa Minggu, tapi tetap saja Alena harus memastikan semua barang yang sering di gunakan Bian terbawa. Terutama mainan milik putranya, karena Bian bisa menangis seharian jika mainan kesayangannya tidak ada.


"Sudah semua, tinggal koper milik Bian."


"Baiklah kita berangkat sekarang!" Alena menarik koper milik putranya, karena tidak mungkin menyuruh Alex yang tengah menggendong Bian.


"Kau yakin tidak mau tinggal di mansion utama selama kita di Jakarta?" tanya Alex setelah mereka masuk ke dalam mobil.


Alena menganggukkan kepalanya. Dia tidak mau tinggal di mansion utama, karena seluruh keluarga besar mereka yang akan datang ke acara pernikahan Alana pasti berkumpul di sana. Terlebih lagi pasti ada Alana juga yang tinggal di mansion utama, mengingat Mom Daisy dan Dad Antoni yang tidak merestui pernikahan mereka.


Jujur Alena belum siap untuk bertemu Alana. Meskipun ia sudah ikhlas saudara kembarnya itu menikah dengan mantan suami yang masih sangat ia cintai, tapi tetap saja rasa sesak itu pasti ada. Itulah sebabnya Alena memutuskan untuk bertemu Alana, dan Abian hanya di saat acara pernikahan keduanya.


"Lebih baik aku dan Bian tinggal di apartemen B, di sana lebih nyaman dan aman tentunya."


Alex menganggukkan kepalanya karena mengerti, kenapa Alena memilih tinggal di apartemen milik Boy Arbeto dari pada di mansion utama. Wanita itu pasti menghindar dari seluruh keluarga besar, terutama Alana Ricardo. Tapi yang pasti cepat atau lambat, mau tidak mau Alena akan bertemu dengan Alana dan Abian. Entah bagaimana pertemuan mereka nanti, tapi Alex akan selalu berada di samping Alena untuk menjaga wanita itu.