Bad Wedding

Bad Wedding
Part 112



"Maaf aku tidak bisa..." Alena menatap wajah suaminya, wajah yang selalu dirindukannya tiap malam tanpa bisa ia sentuh meskipun jarak mereka begitu dekat.


"Satu kali saja," pinta Abian dengan memohon, menggenggam kedua tangan wanitanya untuk ia kecup.


Bagaikan terkena sengatan arus listrik, kecupan di tangannya terasa mengalir masuk ke relung hati. Membuat jantung Alena berdetak dua kali lebih cepat, hingga tubuhnya terasa lemas.


Padahal yang dilakukan Abian hanyalah sebuah kecupan kecil ditangan, bukan kecupan pada lehernya seperti yang dilakukan suaminya itu satu Minggu yang lalu. Namun entah mengapa hatinya justru terasa bergetar, tidak terasa hambar seperti malam itu.


"Aku tidak bisa," Alena melepaskan genggaman tangan Abian. Ia tetap pada pendiriannya untuk berpisah, agar tidak saling menyakiti lagi. Namun mereka akan tetap membesarkan Bian secara bersama-sama.


Abian menghela napas dengan kasar, entah apa lagi yang harus dilakukannya untuk membuat hati Alena tersentuh.


"Aku pergi dulu, dan nanti sore seperti biasa antar Bian ke apartemen," Alena hendak melangkahkan kakinya.


"Satu bulan."


Alena kembali menatap Abian dengan mengerutkan keningnya. "Satu bulan?"


Abian menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, saat sebuah ide terbesit di benaknya. Sebuah ide yang bisa membawanya pada dua kemungkinan, mempersatukan mereka kembali, atau justru membuat mereka berpisah selama-lamanya.


"Satu bulan kita tinggal bersama. Kau, aku, dan Bian."


"Itu tidak mungkin Abian, kau gila ya?" Alena menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak gila. Aku hanya meminta sebuah permintaan sebelum kita berpisah."


Deg.


Alena terkejut. Ia tidak menyangka dengan mudahnya Abian menyetujui perpisahan mereka. Padahal tiga tahun yang lalu pria itu bersikeras menolak untuk berpisah, bahkan belum ada satu menit yang lalu Abian memohon untuk kembali bersama.


"Aku tidak mau."


"Kalau kau tidak mau, aku pun tidak akan menyetujui perpisahan kita. Jangan lupa aku juga bisa menggugat hak asuh Bian."


"Jangan bertindak tidak sopan seperti itu, walau bagaimana pun aku masih suamimu." Abian menurunkan jari telunjuk wanitanya.


Sementara Alena hanya bisa mendengus dengan kesal. "Satu Minggu, kita tinggal bersama selama satu Minggu," putusnya dengan mengalah, karena tidak ingin membuat perpisahan mereka menjadi sulit apalagi jika harus memperebutkan hak asuh Bian.


"Satu bulan Ale, bukan satu Minggu," ucap Abian dengan tersenyum penuh kemenangan, saat umpan yang ia lemparkan berhasil di tangkap.


"Ck.. dua Minggu saja. Bagaimana?" tawar Alena. Ia tidak mau tinggal bersama Abian selama satu bulan, karena takut hatinya akan kembali goyah untuk berpisah.


"Satu bulan, titik tanpa koma."


"Oh ya ampun, kau itu dari dulu tidak pernah berubah. Selalu seenaknya, keras kepala, dan tidak pernah mau mengalah. Apa kau lupa aku ini seorang wanita," ucap Alena tanpa sadar.


Membuat senyum bahagia yang terukir di bibir Abian, berubah menjadi senyuman sendu.


"Dan apa kau lupa, aku hanya akan bersikap seperti itu pada wanita yang sangat kucintai?"


Kini wajah Alena lah yang berubah sendu, dengan kedua mata yang berkaca-kaca saat teringat perbicangan mereka saat remaja dulu.


"Aku merindukanmu Al, Alena ku bukan Al yang lainnya."


Alena hanya mampu menangis, tanpa merespon ucapan dari seorang Abian Atmajaya.


Sementara itu ditempat yang tidak terlalu jauh dari keduanya, ada Sky yang menatap dan mendengar pembicaraan antara Abian dan Alena. Kini ia sudah mengetahui jika hubungan keduanya masih sangat buruk.


"Aku rasa setiap pria yang memiliki hubungan dengan wanita dari kalangan keluarga besar Arbeto, pasti akan bernasib tragis," gumamnya sembari menatap ke arah barisan mobil yang terparkir di samping kanannya.


Betapa terkejutnya Sky, saat melihat sosok yang sudah membuat kesalahpahaman yang terjadi diantara dirinya dan Alena berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.


"Kau...!" ucap Sky dan Alana bersamaan dengan wajah yang terkejut. Terkejut karena kondisi mereka yang sama, yaitu sama-sama mengintip dan mendengar pembicaraan antara Abian dan Alena.